Tamparan Itu Bernama Mekarjaya



Sore beberapa hari yang lalu pukul 16:00, saya dan 12 orang lainnya menelusuri jalan raya, jalan setapak, dan jalan terjal berbatu yang dibubuhi tai munding (=kerbau) di sana-sini. Dari ketiga kepala dusun, hanya Mekarjaya yang pak kepala dusun/punuh-nya belum berhasil diwawancarai.
Setengah jam kemudian, kami pun sampai. Setelah sepanjang jalan disuguhi pemandangan semak belukar, sawah bekas dipanen, dan bangunan bekas perusahaan tepung aci yang bangkrut, kini rumah pak kadus nampak di depan mata.
Rumah Pak Rohyan, Kadus Mekarjaya, bukanlah tipikal rumah yang eye-catching. Rumah sangat sederhana itu bahkan tidak dicat, dan engsel pintu antar ruangan di dalamnya tidak dipasangi daun pintu. Ruang tamunya polos, kecuali sebuah jam yang warnanya sudah pudar, tergantung di dinding. Ya ampun, saya mengelus dada mengingat cerita Pak Mispar -Kadus Bantarkalong- kalau ‘jabatan’ kadus tidak digaji. Masa jabatan yang bisa mencapai 20 tahun adalah cerminan kepercayaan warga, bukan karena gila kekuasaan.
Tamparan kedua datang dari Pak Ruhiyat, ketua RT 12 di wilayah Dusun Mekarjaya, yang masih bertetangga dengan Pak Rohyan. Selesai bercerita tentang longsor lima bulan lalu yang merusak pipa irigasi untuk seluruh Desa Bantarkalong namun sampai sekarang belum diperbaiki karena (saurna mah) pemerintah kekurangan dana, tanpa berniat menyombongkan diri beliau berkata,
“Tapi bagaimanapun keadaannya, petani di sini taat bayar pajak. Cuma butuh waktu dua minggu untuk menagih pajak. Bahkan ya dek, banyak juga petani yang sebelum ditagih udah nyetor duluan uang pajaknya (prepaid). Bandingkan sama dusun sebelah yang mayoritas warganya sarjana tetapi butuh waktu sampai tiga bulan untuk menagih pajak.”
Catatan: Dusun Mekarjaya adalah daerah dengan jumlah warga terbanyak, wilayah dusun terluas, dan keadaan infrastruktur & ekonomi paling sederhana di Desa Bantarkalong
Dang! Petani, yang mayoritas lulusan SD dan berpenghasilan tidak seberapa bahkan lebih taat bayar pajak dibandingkan dengan sarjana yang notabene berpendidikan dan berpenghasilan lebih baik. Malu euy, malu.
*
baca juga tulisan ini di sini


