Ke-ke-jutan Dobel!
Hari ini bangun jam 10:00 akibat beberapa malam lalu kurang tidur.
Udah kayak lirik lagu, “Bangun tidur ku terus mandi tidur lagi…”
.
Lalu, teringat sesuatu. Eleug siah, belum ngasih draft UP (Usulan Penelitian) ke Pak M selaku dosen pembimbing.
Ah santai saja lah, toh sidang kolokiumnya tanggal 11. Masih lama.
Satu suara di dalam kepala melawan, Sekarang aja, mumpung kamu nganggur.
Suara yang tadi, si Pemalas, bersikukuh, Sekarang jam berapa, hah?! Si bapak mana mau ditemui kalau udah siang begini. Menghitung waktu mandi, makan, di jalan, dll, paling cepat kamu sampai sana jam 12:00. Udah, besok aja.
Si rajin nggak mau kalah, Kan cuma ngasih draft, bukan mau bimbingan. Nggak apa-apa, susul saja ke kampusnya di Jl. Suci.
Akhirnya, si Rajin yang menang.
Singkat kata, sampailah saya di kampus Jl. Suci. ALHAMDULILLAH SEMPAT. Soalnya begitu pintu lift lantai 4 terbuka, tampak si Pak M hampir mengunci pintu ruangannya dan bersiap pergi. Telat 5 menit, harus datang besok, deh.
Beres? Yep.
Pulang? Suara itu datang lagi, Ngampus dulu, gih. Saya pun nurut.
Di kampus, begitu masuk RR-an, beberapa orang menyapa, “Selamat yeee akhirnya kolo(kium) juga!”
“Hehehe, kok tau?”
“Jadwalnya udah ditempel di SBA.”
What??? Bukannya sidangnya tanggal 11? Kok cepet amat tanggal 30 gini udah ditempel?
Ternyata oh ternyata, SIDANGNYA DIMAJUIN. Bukan tanggal 11 tapi tanggal 4.
Jadi, inikah alasan tadi ada firasat dadakan yang nyuruh ngampus? Huhuhu. Tapi masih untung tahu sekarang, nggak kebayang aja kalau baru tahu H-1.
.
Saya langsung galau. Soalnya belum punya blazer resmi (= dresscode sidang). Komentarnya @ddsantii, “Beli blazer dulu, gih. Biar pas belajar nggak kepikiran dresscode.” Hahahahah, that makes sense. Alhasil, saya langsung melaju ke BTC. Sendirian. Demi nyari blazer buat sidang 5 hari lagi. Dasar cewek. *ternyata blazer lebih urgent daripada bikin slide PPT*
Nah, ketika lagi berkeliaran di lantai dasar BTC, tiba-tiba kejutan kedua datang. Seorang cowok yang sebaya menghampiri, “Siang teh, bisa minta waktunya sebentar?”
Kirain sales. Tapi ada bordiran di polo shirt hijaunya bertuliskan: Greenpeace.
Saya mikir. “Berapa lama?”
Dia senyum. “Lima menit.”
.
Singkat cerita, *tadaaaaaaaaaaaaaaaa* you are reading a blog post from Greenpeace’s newly-recruited member. Ini kali kedua saya ditawari gabung, yang pertama kalo nggak salah sekitar 4 tahun lalu, di CiWalk. Tapi berhubung waktu itu nggak ada duit, nggak jadi donasi deh. Heheheh.
The boy, whose name is Yuda, explained to me about Greenpeace movement in Indonesia. It was legally started in 2006. I said to him that I know a few of their campaigns such as the “Ask Nestle to give rainforests a break” and Greenpeace’s effort to fight againts nuclear energy promotors who plan to build nuclear power plant in Indonesia. I asked Yuda about their campaign progress against BATAN. He told me that President SBY had promised that no nuclear power plant will be built until his period ends.
I think those two campaigns are impressive and touching. So, yes, I joined them.






