Posts tagged KKNMBantarkalong2011.

Seminggu, Lima Pantai - Part II

…sambungan (bukan telepon)

.

Day 5 | Pantai Batukaras & Green Canyon - Kab. Ciamis

Pantai dan sungai(?) yang terletak nggak jauh dari Pangandaran ini nampaknya udah sangat termasyur, khususnya di kalangan turis asing. Terbukti dari cukup banyaknya bule-bule berbikini yang bertebaran di sana. Yang patut dihadiahi acungan jempol adalah keseriusan pemda dan masyarakat setempat dalam mengelola kedua objek pariwisata ini. Lahan parkir luas, guide banyak tapi tetap sopan dan nggak bertingkah maksa kayak calo, dan… (ini nih yang paling penting) bersih! Entah itu Pantai Batukaras, Green Canyon, ataupun kamar mandi umum yang bisa disewa dengan Rp2.000 saja.

Bahkan, kamar mandi umum di sini jauh lebih bersih daripada yang ada di Tanah Lot atau Tanjung Benoa, Bali. Salut! Ikhlas rasanya bayar ongkos masuk Rp27.700 untuk 16 orang (waktu itu kami naik mobil pickup jadi gak dikenai ongkos masuk per orang, hehe).

Tentang pantai, selain ada tebing yang mirip lokasi Bella terjun bunuh diri di Twilight Saga: New Moon, sebenarnya relatif biasa. Tapi ya itu tadi, balik lagi ke infrastruktur yang memadai sehingga wisatawan betah berlama-lama di pantai ini. :) Oh ya, di sini kamu bisa ber-banana boat dan ber-butterfly-ria. Kalau nawarnya lihai, jatuhnya jadi Rp30.000/orang.

(sayangnya, pemandangan di pantai Batukaras sedikit rusak oleh penambangan pasir besi yang konon sekarang lagi jadi sengketa antara pengusaha dan pemda. cabut aja izinnya pak, udah mah ngerusak alam, bising pula.)

(lihat tebingnya. mirip lokasi syuting New Moon, kan? #maksa)

Eh, hati-hati kalau naik banana boat dan butterfly, jangan sampai jatuh terlalu jauh ke tengah laut. Teman saya, Wulan, kena sengat ubur-ubur listrik warna hijau sampai bengkak dan sesak nafas, lho.

Lanjut ke Green Canyon, yang jarak tempuhnya sekitar 15-20 menit naik mobil. This.is.definitely.one.of.the.places.to.go.to.before.you.die. Ini adalah kolam renang terindah yang pernah saya renangi. Airnya sejuk dan bersih, view-nya subhanallah. I think my heart skipped a beat at the first sight. Kedengaran lebay, padahal kata-kata itu sepadan. Ongkos sewa perahu Rp75.000/5 orang, sedangkan ongkos tambahan untuk jasa guide berenang, sewa rompi pelampung, dan jasa nitip-fotoin Rp20.000/orang (ditawar, asalnya Rp30.000/orang).

(ki-ka: wulan, rini, saya, hajar, hasbul)

Oya, kalau kamu memilih untuk berenang, wajib coba loncat dari tengah tebing yang tingginya +- 5 meter. Nanti kamu akan tahu bagaimana kira-kira rasanya bunuh diri. :p

(snapshot video | itu saya, dengan pose jatuh akhir mengenaskan: horizontal. begitu naik ke permukaan, ternyata rompi copot -saking kerasnya- dan lidah mati rasa. -_-)

Day 7 | Pantai Santolo - Kab. Garut

Pertama kali saya ke pantai ini adalah 18 bulan yang lalu. Ketika tempo hari ke sini lagi, ternyata waktu 18 bulan bisa membuat suatu tempat berubah drastis, ya. Sayangnya, perubahannya unfavorable. :( Pantai yang dulu super duper sunyi, sekarang jadi hiruk pikuk. Bagus sih, banyaknya pengunjung biasanya berdampak positif ke perekonomian penduduk setempat. Tapi kalau yang datang turis lokal, efeknya adalah sampah di mana-mana. Pasir putih jadi bernoda di sana-sini, ombak yang menyapu pantai pun pakai bawa-bawa plastik dan kaleng segala. Sedih lihatnya.

18 bulan yang lalu:

(mungkin kamu pernah lihat postingan ini)

Beberapa hari yang lalu:

(ya Allah, bukakanlah pintu hati orang-orang itu agar ke depannya gak buang sampah sembarangan lagi, amin.)

Untungnya (dasar aslinya Jawa, adaaaa aja ‘untung’nya), arti pantai ini lebih dari sekedar pemandangan buat saya. Mau sekotor apapun, se-heurin apapun, biarlah.

(hey makhluk paling nyebelin sedunia!)

Hahaha. #cikiciw #prikitiu

.

Sekian review-nya. Mudah-mudahan bisa sedikit menggugah rasa cinta tanah air. Negeri kita ini cantiknya luar biasa, lho. Seriously.

  July 27, 2011 at 11:00pm

Seminggu, Lima Pantai - Part I

Sesuai janji (walaupun gak ada yang nagih, janji tetaplah janji),sekarang saya bakal ngebahas lima pantai di selatan Jabar yang bisa jadi alternatif liburan. Kalau selama ini yang terkenal banget mungkin cuma Pangandaran dan Ujung Genteng, yaa mudah-mudahan setelah baca tulisan ini rasa ingin tahunya agak terusik, heheheh.

Sekali lagi, saya kudu bilang makasih buat kampus Padjadjaran terrrrcintah *muncrat* atas program KKNM-nya. Kalau bukan gara-gara KKNM, mana mungkin saya bisa mapay 5 pantai sekaligus dalam seminggu. :P

Langsung aja, ini dia lima pantai yang meskipun relatif berdekatan tetapi bentuk alam dan kondisinya berbeda jauh.

Day 1 | Pantai Cipatujah - Kab. Tasikmalaya 

Dibandingkan dengan keempat pantai yang lain di postingan ini, bisa dibilang infrastruktur Pantai Cipatujah tergolong lumayan bagus. Ada banyak warung yang jual pakaian khas pantai (baju barong, selendang pantai, dsb) dan tentunya berbagai penganan instan paling juara di tempat wisata lokal manapun (popmie, kopi, dan kawan-kawan). Tempat parkirnya pun luas. Di dekat pantai ada masjid yang tempat wudhunya biasa dipakai cuci kaki. Walaupun waktu saya main ke sana udah sekitar jam 22:00-23:00, beberapa warung masih buka.

Best timing datang ke sini adalah saat terang bulan. B-e-u-h!

(yang di atas itu bukan bohlam tapi bulan purnama)

(terlihat seperti palsu. percayalah, ini hasil foto pakai digicam with flash off.)

Day 4 | Pantai Sindangkerta  - Kab. Tasikmalaya

Seumur-umur, saya baru pernah nemu pantai kayak Sindangkerta. Biasanya, yang kasat mata adalah pasir langsung bertemu air laut. Tapi di mata pengunjung yang ke Pantai Sindangkerta, di antara pasir dan air laut itu ada pemisahnya yaitu “dataran terumbu karang” yang membentang sekitar 10-20 meter ke arah pantai. Otomatis, ketika kita selesai menjelajahi dataran terumbu karang (yang akrab dipenuhi lumut berwarna hijau neon) itu, yang ada di depan mata kita bukan “pantai” yang dangkal lagi. Alhasil, pantai ini amat sangat berbahaya untuk direnangi.

Namun, pantai ini pun terlalu indah untuk dilewatkan. Celah di antara beberapa “dataran terumbu laut” tadi menjadi “sungai” yang airnya sebiru safir dan bening dengan kedalaman mulai dari selevel jacuzzi sampai yang saking dalamnya sampai dasarnya nggak kelihatan lagi. Kalau kita melongok ke dalamnya, akan tampak gradasi warna dan bentuk dari ratusan terumbu karang dan biota laut lainnya. Tapi pastikan kamu pakai alas kaki karena bulu babi, kelabang laut, dan mawar laut beracun mengintai di mana-mana.

Kalau boleh pakai analogi, pantai ini ibarat playboy. Indah dilihat tapi lebih baik jangan terlalu jauh melangkah.

(watch your feet! ini kedalamannya kira-kira sepergelangan kaki)

(with Akunpad & Dedo)

Day 4 | Pantai Taman Wir - Kab. Tasikmalaya

Sekitar 15 menit naik motor/mobil dari Pantai Sindangkerta, di sebelah kiri jalan ada papan kayu usang dan miring berukuran medium, catnya kusam bertuliskan “Taman Wir”. Melewati gerbang masuk yang seadanya, kamu akan merasa seperti memasuki desa mati yang jadi langganan syuting film horor urakan. Hah, salah jalankah? Tenang, karena setelah beberapa puluh meter kalian bisa memarkirkan kendaraan masing-masing di ujung tebing, menuruni jalan setapak yang terjal, lalu melihat rumus berikut hadir secara live di depan mata: 

Padang pasir + sungai + pantai yang sepi = surga dunia milik pribadi

Banyaknya warung dan kamar mandi umum dalam kondisi bagus yang ditinggalkan begitu saja membuat saya menebak-nebak, mungkin dulunya Pantai Taman Wir ini adalah objek wisata yang cukup terkenal. Tapi kenapa ditinggalkan begitu saja, ya?

Ah, ya sudahlah. Malah bagus kalau pantai seelok ini dibiarkan sepi, kan berasa private beach milik sendiri. #egois Pasirnya itu lho, super soft! Sembari jalan kaki dari tebing ke pantai, kamu akan merasakan perbedaan tingkat kelembutan dan warna pasir. Makin dekat ke pantai, makin lembut dan terang warnanya.

(ini muara sungai yang terbendung jadi perairan tenang, kedalaman s/d sedengkul)

(daripada ngeliatin pose saya yang absurd, mending lihat betapa syahdunya warna matahari senja yang tengah bertemu bumi di bibir pantai. andai ada alat perekam perasaan.)

…bersambung

  July 26, 2011 at 09:52pm

I Left A Part of My Heart

in Bantarkalong

Cipatujah, Tasikmalaya - West Java


.

We were all strangers for each other. Then, there was this university program called KKNM PPMD Integratif (abbreviated as KKNM = obligatory field work worths 3 semester credits before we have our final essay) that put us together as a team. For Bantarkalong Village, we are consist of twelve girls-eight boys, seven faculties. One month, we lived under the same rooftop. Tell you what, living together for one month, having many conflicts&silly times, and doing things together are what it takes to feel like a family. So happy, so grateful, yet so sad since it’s over. :’(

(forward-an sms dari Bu Atih, induk semang di sana)

(Rini from Purwakarta, Agriculture Faculty)

(Hasbul from Malaysia, Medical Faculty)

At first I questioned many things, like why Rojak suffered typhoid & dengue fever then should went home by the second week (and re-take KKNM next year!) or why our group should be divided into M-15 (15 majority members) and minority (4 lonely members). *sounded mean, but trust me those four declared themselves first as the ‘exclusive’ ones*

But maybe it’s the art of KKNM itself. You can’t always have what you want, and thanks to minority because without them M-15 wouldn’t be this unified hehehe.

FYI, only state-owned universities and a few of private universities have KKNM program nowadays. My friends from some private universities normally gave me the pity gaze every time I told them about KKNM before I went. If only they knew that it is a relaxing holiday in disguise…

(durian, mangosteen, and rambutan are our everyday desserts… for free!)

(nasi tumpeng made by Bu Atih for goodbye purpose. it is a dish made for special occasion. she cried, we all cried. such a touching moment.)

(@ Green Canyon. best moment ever in KKNM. this is totally one of the places to see before you die.)

Soooo, guess I’ll see you around, guys M-15! :)

.

p.s. gonna share a few words about five different beaches in southern West Java for your alternative holiday destination! just stay tune.

  July 25, 2011 at 01:01pm
Left to right: Vanny (dibaca dengan logat lokal jadi: pani), Santi-o, me.
Cipatujah Beach, 16/06/2011, around 10-11 pm. Canon digicam -night mode, flash off.
Ten girls, three boys, all in one Terios car. Gosh!
Do you see those tiny blings in the sky? Yup, they are thosee bright shiny stars.
Full moon, static giant clouds, flirty dangerous huge waves, lovely people.. Wish I have some better pics and words to describe such wonderful feelings.

Left to right: Vanny (dibaca dengan logat lokal jadi: pani), Santi-o, me.

Cipatujah Beach, 16/06/2011, around 10-11 pm. Canon digicam -night mode, flash off.

Ten girls, three boys, all in one Terios car. Gosh!

Do you see those tiny blings in the sky? Yup, they are thosee bright shiny stars.

Full moon, static giant clouds, flirty dangerous huge waves, lovely people.. Wish I have some better pics and words to describe such wonderful feelings.

  July 18, 2011 at 10:04am

Get Real

Hari Sabtu tanggal 16 Juli 2011 kemarin, bersikap idealistis berarti berani mencoba mengawinkan konsep amanah di Islam dengan konsep sistem pengendalian internal dan mempresentasikannya di depan bapak-bapak tokoh agama Desa Bantarkalong, para pengurus DKM yang sudah menjabat selama belasan tahun.

Di desa ini bahkan belum ada tempat praktek dokter umum. Namun, sekali lagi idealisme mencuat dan menantang zona nyaman di dalam pikiran buat membuktikan kalau everything is really possible. Alhamdulillah responnya jauh lebih positif dari yang dibayangkan. :D

“Jabatan itu adalah amanah, dan sesungguhnya jabatan itu akan menjadi sebuah penghinaan dan penyesalan nanti pada Hari Kiamat, kecuali bagi orang yang memikulnya dengan sungguh-sungguh dan menunaikannya menurut hak-hak yang terdapat di  dalam jabatan tersebut.”

- HR Imam Muslim

Gila, rasanya masih nggak percaya kalau saya merujuk ke beberapa hadits saat bicara di depan sejumlah ulama, guru agama, dan pak kepala dusun. Siapa gueee? :p

Beberapa tanggapan dari bapak-bapak undangan,

“Neng, gimana caranya ya biar masyarakat teh mau mematuhi aturan wajib izin ke pengurus sebelum pinjam peralatan DKM? Pernah sekali diberi tahu tapi katanya, ‘Ah da lain nu silaing ieu’. Pusing bapak teh, Neng.”

“Nyi, sebenarnya ada alasan kenapa saldo kas nggak ditulis di papan Masjid. Soalnya kalau ditulis pasti besoknya langsung pada ngutang da pikirannya DKM banyak duit.”

Atau yang paling gokil, waktu Pak H. M. Sodik (Ketua DKM Al-Ikhlas) meminta solusi dari kami tentang generasi muda desa yang, menurut beliau, mengkhawatirkan. Apatis terhadap pembangunan desa, sekuler, menolak masuk SMA karena malas, kerjaannya cuma nongkrong dan bermalas-malasan tiap hari, hampir tidak ada yang berjiwa pemimpin. Tipikal klise remaja korban siaran televisi yang gak mendidik.

Para tetua itu takut ketika mereka meninggal nanti, bukannya maju, desa justru akan mengalami kemunduran. Lucunya, mereka menganggap kalau remaja di perkotaan memiliki akhlak yang jauh lebih baik dari di desa.

Pak, kalau bapak tahu pasti bapak nyesel bilang begitu. #sedih

Siapa tahu penasaran, silahkan klik pada gambar di bawah buat baca atau download Tata Cara Pengelolaan Keuangan DKM (Standard Operating Procedure) dan handout materi penyuluhan Tata Kelola Keuangan DKM. SOP ini bisa diaplikasikan untuk DKM manapun.

Last but not least, makasih banyak pacar-pacarku Pinceu & Santi-o. Prokeg kita kelar, yes!

  July 17, 2011 at 12:03pm

Mari Me-Nyimpang

“Nyimpang yok!”

Jangan salah arti. The ‘nyimpang’ word is derived from Simpang plus -ing. Simpang adalah nama daerah di mana di situ terdapat pasar tradisional dan lapak-lapak baju kaki lima terdekat dari Desa Bantarkalong.

Intinya, Simpang adalah destinasi muda-mudi gaul Desa Bantarkalong untuk melaksanakan misi pergaulannya.

Setelah 20 hari tinggal di Desa Bantarkalong, akhirnya hari ini saya ke Simpang! Yeah, finally saya resmi jadi agakamsi (=anak gaul kampung sini)! #sampah

By the way anyway busway, di sini memang ada kampung yang namanya Kampung Gaul, lho. Gokil.

Oya, ternyata jarak Desa Bantarkalong Kec. Cipatujah - Simpang Kec. Bantarkalong gak terlalu jauh, cuma 10 menit kalau naik motor.

Note: bukannya saya salah tulis lho, kata “Bantarkalong” memang laku banget di sini; ia adalah nama sebuah dusun, sebuah desa, sekaligus sebuah kecamatan.

Eye candies:

(saya & Pipin di ATM BRI Simpang. sebenarnya mau ngajak Santi juga tapi apa daya kan kita ber-motor-ria.nggak, kita bukan mau ngerampok ATM kok.)

(di Warung Bakso Super, sebelah Alfamart Simpang. lihat bianglala yang samar-samar nampak di seberang jalan? yup, di sana tengah digelar Festival Simpang -semacam pasar malam)

(warung snack kiloan di Pasar Simpang tempat kami beli konsumsi untuk “Penyuluhan Sistem Pengendalian Internal DKM Se-Bantarkalong” yang insya Allah akan diadakan hari Sabtu ini, bada dzuhur. #wishusluck)


(alat pemancing ikan, duh lupa istilah sundanya! pernah lihat di Ciamis, cuma yang ini versi raksasa.)

Masa KKNM tinggal seminggu++ lagi. Mudah-mudahan kehadiran kami selama sebulan di sini bisa memberikan sedikit sumbangsih buat kemajuan desa, amin. :)

  July 15, 2011 at 05:51pm

Hail Sundanese!

(@ Posyandu Kepiting di Dusun Bantarkalong -Desa Bantarkalong, Cipatujah, Jabar)

Salah satu manfaat KKNM yang paling terasa adalah akselerasi tingkat penguasaan bahasa Sunda halus -yang kalau diperhatikan ternyata mirip bahasa Jawa kromo inggil.

Ini jelas suatu pencerahan. Kenapa? Sebab, (1) mencuci otak dari bahasa Sunda perkotaan yang cenderung kasar [dengan kosakata umum seperti ‘aing’, ‘sia’, dsb]; dan (2) siapa tahu suatu hari kelak ada yang dapat mertua orang Sunda, hihihi.

Keunikan bahasa daerah, termasuk bahasa Sunda, adalah perbedaan aksen bicara bahkan tingkat kehalusan kosakata yang umum digunakan antar wilayah. Misalnya, bahasa Sunda yang digunakan di Ciamis pada umumnya lebih halus ketimbang di Karawang.

Berikut ini ada beberapa kosakata terjemahan dari kamus bahasa Indonesia vs Sunda perkotaan (Bandung) vs Desa Bantarkalong, respectively.

  • siapa tahu/takutnya = bisi = bilih
  • maaf = hampura = hapunten
  • perempuan = awewe = istri
  • laki-laki = lalaki = pameget
  • sendirian = sorangan = nyalira
  • bertemu = papanggih = papendak
  • baru saja = bieu = nembe
  • mungkin = mereun = panginten
  • katanya sih = ceunah mah = saurna mah

Maklum saya masih amatiran, hihi (padahal udah hampir 12 tahun tinggal di Bandung).

Yang keren, pada acara penyuluhan kesehatan (kanker serviks, diare, TBC, dan sanitasi) oleh dosen kepada warga desa Minggu pagi tadi, Hajar (mahasiswi FK dari Malaysia) pun memperkenalkan dirinya di depan para kader kesehatan demikian, “Nami abdi Siti Hajar dari Malaisye”, dengan logat melayu yang kental.

Berhubung selama 2 minggu kami terus-terusan mencecoki dia dan Hasbul (masih mahasiswa FK dari Malaysia) dengan banyak bahasa G40L, saya luar biasa bersyukur doi gak keceplosan bilang ‘cyiiin’ atau ‘yoi mameen’. :D

  July 12, 2011 at 07:00pm