Visit DPD - Day 2

(the @iwearUP duo)

(ciyee boy band bauuwww)
Kalau kemarin saya udah cerita tentang hari pertama, kali ini saya bakal cerita tentang hari kedua alias puncak dari seluruh acara di Jakarta.
Hari kedua ini, acara mulai pukul 09:00. Kami ber-38 diundang ke Gedung DPD, tepatnya di Ruang Rapat Komisi I, untuk mengikuti diskusi panel. Pembicaranya ada tiga: Bu Siti Nurbaya (Sekjen DPD RI), Mbak Ira Koesno (Mantan host Liputan 6 SCTV zaman peralihan Orde Baru ke Orde Reformasi), dan Mas Irman Putra Sidin (Ahli Hukum Tata Negara yang sering mangkal di Metro TV dan TV One). Mbak Ira, yang saya tebak berusia dua tahun lebih muda dari Angelina Jolie ini ramping, cantik, dan kharismatik sekali, lho. Such an inspiring woman. *out of topic*

(Bu Siti Nurbaya)

(Mas Irman Putra Sidin)

(Mbak Ira Koesno)
Singkat cerita, beberapa poin yang dibahas di diskusi panel ini yaitu,
- Apa itu DPD RI. Apa beda tugas DPD dengan DPR, serta bagaimana DPD berfungsi menyeimbangkan DPR yang sekarang ‘kelebihan otoritas’.
- Tugas dan tanggung jawab DPD RI di atas kertas, dan sejauh mana kenyataannya berbunyi di lapangan.
- Kenapa DPD RI butuh amandemen kelima UUD ‘45 untuk memberikan kekuasaan lebih kepada DPD. Juga alasan kenapa DPD butuh kekuasaan lebih.
Di awal diskusi, Mbak Ira bertanya,
“Siapa di sini yang belum kenal DPD RI? Jujur aja, nggak akan mengurangi penilaian kok.”
Saya dan kira-kira setengah dari finalis angkat tangan.
Nyatanya, biarpun sudah berdiri sejak 1 Oktober 2004, DPD memang belum terkenal. Kita malah sering tertukar antara DPD dengan DPRD.
Di sini, Bu Sekjen cerita tentang beberapa pihak di badan pemerintahan lain yang tidak ingin amandemen UUD sampai terjadi karena takut kekuasaannya akan diserobot oleh DPD. Sayangnya, beberapa cerita off the record karena melibatkan sekelompok jenderal, dan orang-orang ‘seram’ lainnya. ;( *tapi saya ada rekamannya*
Lalu, Pak Gede (salah satu finalis dari Bali; beliau guru SMA) menyatakan dukungannya,
“Menurut saya, DPD ini ibarat anak kandung yang diperlakukan seperti anak tiri. DPD, DPR, dan MPR berasal dari induk yang sama: Republik Indonesia. Sama-sama untuk rakyat. Tapi, DPD seakan dikebiri!”
Saya yang cenderung apatis masalah politik cuma angguk-angguk kepala. Berusaha mencerna. Mas Irman beberapa kali membawa topik yang panas,
“Kalian harus sadar kalau republik ini bukan hanya milik segelintir orang. Bukan punya Nazaruddin, Angelina Sondakh, atau Anas Urbaningrum. Tapi, milik kita semua.”
“Sepuluh tahun lebih setelah reformasi, barulah kebenarannya terungkap. APBN ternyata hanya ditentukan oleh satu-dua orang yang berkedudukan di pusat (Jakarta).”
Wah, pokoknya menarik. Bahkan untuk sekaliber saya yang acuh tak acuh masalah politik negeri ini. Mungkin nanti saya bakal bikin satu tulisan tersendiri tentang isi diskusi panel tersebut. :)
Nggak terasa, diskusi panel disudahi pukul 11:30. Ngaret setengah jam, saking antusiasnya setiap orang untuk bertanya. Tiap cowok dapet sendal jepit Swal*ow gratis buat Jumatan. Yang cewek… main-main pakai mic, kamera, dan screen di ruang sidang. Soalnya, begitu pencet mic, pasti kamera secara otomatis langsung berputar dan menyorot mic yang sedang menyala. Kewl!

(playing around with equipments)

(the girls’ generation team.)
Mudah-mudahan itu peralatan sidang nggak pada rusak gara-gara kita pakai karaokean. :”)
Sehabis Jumatan, tiba-tiba beberapa ibu-ibu staf DPD masuk ke ruangan dan menyuruh kita mengantri. Tanda tanya muncul di kepala, apa lagi nih?
Oh, ternyata bagi-bagi uang saku. Ada yang dapat enam digit, ada juga yang tujuh digit. Alhamdulillah sekali yah. Hanya saja ada sedikit hal yang mencurigakan.
Kenapa kita disuruh tanda tangan Surat Perjalanan Dinas? Bukankah tadi malam Bu Sekjen bilang kalau lomba ini didanai dari patungan pihak pimpinan?
Kedua, nggak satupun dari kami tahu rincian uang sakunya. Sebab, tiap orang dapat nominal yang berbeda-beda.
Merasa ada yang aneh, kami pun saling bergosip. Terngiang kata Ega (cewek), “Mungkin gini ya rasanya korupsi.. Terima-terima aja. Nggak bisa ditolak.”
Apakah ini penyelewangan uang negara? Wallahu’alam.
Dan kami pun terdiam. Krik.
***
Setelah seluruh cowok pulang dari Jumatan, kami makan siang. Di lantai satu, udah ada panggung, meja makan bundar bertaplak, makanan prasmanan, dan puluhan staf DPD. Ternyata siang ini sekaligus ada pengumuman pemenang lomba kesenian, kreatifitas(?), dan kebersihan bagi pegawai. Entah kenapa mengingatkan akan masa-masa SMP/SMA.
Pengumuman pemenang @LombaDPD pun dimulai. Ternyata, Mbak Ira Koesno itu bertugas jadi Ketua Dewan Juri juga! Dan salah satu kriteria pemenang adalah, “Mengerjakan PR untuk mempelajari tugas dan fungsi DPD.” Waduh, udah hilang harapan ini sih hahaha.

(candid photo of me and @istantinaa by @chintra. kalo ngefans bilang-bilang sih. ihik.)

Dan ketujuh pemenang yang masing-masing mendapatkan paket liburan dan gadget adalah,
Juara 1: Dwi Wahyudi dari Provinsi Kalimantan Barat
Andai Saya Menjadi Anggota DPD RI Kalimantan Barat
Juara 2: Darma Agung Setya Irfiansyah dari Provinsi DIY Yogyakarta
Optimalisasi Peran DPD di Daerah
Juara 3: Gede Putra Adnyana dari Provinsi Bali
Kearifan Lokal sebagai Generator Juara 1: Monica Lora dari Provinsi Sumatera Utara @monicaloraa
Juara 2: Aldila Geri Istantina dari provinsi DIY Yogyakarta @istantinaa
Juara 3: Mochamad Fajar Nugraha dari provinsi DKI Jakarta @mfnugrahaJuara favorit: Rosiva Dewi dari Provinsi Sumatera Utara Seandainya Saya Anggota DPD RI
Selamat untuk kalian bertujuh!
Selepas pengumuman pemenang, 31 orang yang nggak menang bukannya jadi lesu. Namun, justru tambah bersemangat. Sebab, masih ada peluang memenangkan #VisitDPD Live Tweeting Competition yang pemenangnya akan diumumkan nanti malam ketika dinner. Ibaratnya, lomba di dalam lomba.
Sekarang, kami akan pulang dulu ke hotel. Lalu, dijemput lagi sekitar jam 18:30 untuk dinner di tempat yang dirahasiakan.
“Emang ntar tempat dinnernya di mana, Mas?” *nanya panitia*
“Di Ancol.. Bagus kok tempatnya.”
Ancol? Tempatnya bagus? Hmm, could it be Segarra? We’ll see.
Yang penting sekarang mandi dan leyeh-leyeh dulu. Badan rasanya udah cepel (=lengket) dan capek.
Jam setengah 7, kami berangkat.
Oops, it’s Friday night! Dan… Jakarta oh Jakarta, macetnya itu nggak ketulungan. Berhubung kita menuju ke Jakarta Utara, jalan lumayan lengang. Sedangkan yang ke arah Jakarta Pusat khususnya di sekitar Mal Taman Anggrek, beuuuh, nggak gerak!! Kok ya tahan.. kok ya mau.. *geleng-geleng pala*
Tiga bus yang membawa para finalis dan panitia pun memasuki kawasan Ancol. Terus masuk, teruuus.. dan saya baru nyadar kalau Ancol tuh luas. Mendadak terlihat papan restoran cepat saji A&W. Saya pun nyeletuk, “Jangan-jangan udah jauh-jauh di Ancol, kita makannya di A&W?”
Kata Bella, “Enggak, lah. Kita di sini diputerin doang. Makannya ntar tetap dihotel.”
Se to the tres. Setres! Hahaha.
Dan tempat misterius itu ternyata adalah… *jeng jeng* SEGARRA. As predicted.
Saya pikir panitia bakal nyewa organ tunggal terus dangdutan. Ternyata kali ini pakai DJ, cuy. Apa kita bakalan dugem?


(“toilet transgender di mana?”)


Kami pun makan dengan kesetanan. Iga bakar, cake, salad, bbq, segala dilahap. Harus diakui kalau makanan di sini jauh lebih enak daripada di hotel.
Sehabis makan, tibalah momen yang mendebarkan itu… juara live tweeting. Pak Uddin yang mengumumkan,
“Pemenang live tweeting ini adalah perempuan…”
Yaaah, seru para cowok. Saya masih ngunyah iga bakar. Nothing to lose, lah. Udah dapet uang saku juga.
“…username Twitter-nya diawali dengan huruf ‘T’.”
Glek. Ah, stay cool.
“Selamat kepada Mbak Shinta Yanirma! Kepada Mbak Shinta kami persilahkan ke depan.”
Alhamdulillah nggak keselek. Semua orang satu meja langsung bersorak. Hehehe, thank you guys.
Apa hadiahnya? Alhamdulillah dapet camdig Sony cyber shoot. XD

(sedikit komedi paska pengumuman pemenang. yayaya, shinta ke chintra emang deket sih.)

***
Oh ya, ternyata kami nggak jadi dugem (siapa juga yang bilang??). Jam 09:30, kami sudah duduk manis di bus bersiap pulang. Kecapekan yang berpadu apik dengan kekenyangan, semua orang hening sepanjang perjalanan pulang.
Sekian cerita singkat dari lomba dengan peserta terbanyak yang pernah saya ikuti. Dari 1,612 peserta, hanya 40 (atau tepatnya 38) yang mendapat undangan ke Jakarta. Diperlakukan serta didengar sebagai teman, tamu, dan orang dewasa oleh negara. Meskipun kualitas pelayanan hotelnya busuk (i’ll also tell you about this on another post), we couldn’t ask more for the service given by the committee… kami benar-benar merasa dihargai. :)
Guys, malam itu mungkin malam terakhir kita. Mungkin kita baru kenal 3 hari 2 malam. Tapi percayalah, rasanya kayak udah kenal lama. Bicara soal menang kalah: put all those prizes aside, kita semua adalah pemenang.
I’ll see you around.
.
Om santi, santi, santi om.


















