Posts tagged Lomba DPD RI.

Visit DPD - Day 2

(the @iwearUP duo)

(ciyee boy band bauuwww)

Kalau kemarin saya udah cerita tentang hari pertama, kali ini saya bakal cerita tentang hari kedua alias puncak dari seluruh acara di Jakarta.

Hari kedua ini, acara mulai pukul 09:00. Kami ber-38 diundang ke Gedung DPD, tepatnya di Ruang Rapat Komisi I, untuk mengikuti diskusi panel. Pembicaranya ada tiga: Bu Siti Nurbaya (Sekjen DPD RI), Mbak Ira Koesno (Mantan host Liputan 6 SCTV zaman peralihan Orde Baru ke Orde Reformasi), dan Mas Irman Putra Sidin (Ahli Hukum Tata Negara yang sering mangkal di Metro TV dan TV One). Mbak Ira, yang saya tebak berusia dua tahun lebih muda dari Angelina Jolie ini ramping, cantik, dan kharismatik sekali, lho. Such an inspiring woman. *out of topic*

(Bu Siti Nurbaya)

(Mas Irman Putra Sidin)

(Mbak Ira Koesno)

Singkat cerita, beberapa poin yang dibahas di diskusi panel ini yaitu,

  1. Apa itu DPD RI. Apa beda tugas DPD dengan DPR, serta bagaimana DPD berfungsi menyeimbangkan DPR yang sekarang ‘kelebihan otoritas’.
  2. Tugas dan tanggung jawab DPD RI di atas kertas, dan sejauh mana kenyataannya berbunyi di lapangan.
  3. Kenapa DPD RI butuh amandemen kelima UUD ‘45 untuk memberikan kekuasaan lebih kepada DPD. Juga alasan kenapa DPD butuh kekuasaan lebih.

Di awal diskusi, Mbak Ira bertanya,

"Siapa di sini yang belum kenal DPD RI? Jujur aja, nggak akan mengurangi penilaian kok."

Saya dan kira-kira setengah dari finalis angkat tangan.

Nyatanya, biarpun sudah berdiri sejak 1 Oktober 2004, DPD memang belum terkenal. Kita malah sering tertukar antara DPD dengan DPRD.

Di sini, Bu Sekjen cerita tentang beberapa pihak di badan pemerintahan lain yang tidak ingin amandemen UUD sampai terjadi karena takut kekuasaannya akan diserobot oleh DPD. Sayangnya, beberapa cerita off the record karena melibatkan sekelompok jenderal, dan orang-orang ‘seram’ lainnya. ;( *tapi saya ada rekamannya*

Lalu, Pak Gede (salah satu finalis dari Bali; beliau guru SMA) menyatakan dukungannya,

"Menurut saya, DPD ini ibarat anak kandung yang diperlakukan seperti anak tiri. DPD, DPR, dan MPR berasal dari induk yang sama: Republik Indonesia. Sama-sama untuk rakyat. Tapi, DPD seakan dikebiri!"

Saya yang cenderung apatis masalah politik cuma angguk-angguk kepala. Berusaha mencerna. Mas Irman beberapa kali membawa topik yang panas,

"Kalian harus sadar kalau republik ini bukan hanya milik segelintir orang. Bukan punya Nazaruddin, Angelina Sondakh, atau Anas Urbaningrum. Tapi, milik kita semua."

"Sepuluh tahun lebih setelah reformasi, barulah kebenarannya terungkap. APBN ternyata hanya ditentukan oleh satu-dua orang yang berkedudukan di pusat (Jakarta)."

Wah, pokoknya menarik. Bahkan untuk sekaliber saya yang acuh tak acuh masalah politik negeri ini. Mungkin nanti saya bakal bikin satu tulisan tersendiri tentang isi diskusi panel tersebut. :)

Nggak terasa, diskusi panel disudahi pukul 11:30. Ngaret setengah jam, saking antusiasnya setiap orang untuk bertanya. Tiap cowok dapet sendal jepit Swal*ow gratis buat Jumatan. Yang cewek… main-main pakai mic, kamera, dan screen di ruang sidang. Soalnya, begitu pencet mic, pasti kamera secara otomatis langsung berputar dan menyorot mic yang sedang menyala. Kewl!

(playing around with equipments)

(the girls’ generation team.)

Mudah-mudahan itu peralatan sidang nggak pada rusak gara-gara kita pakai karaokean. :”) 

Sehabis Jumatan, tiba-tiba beberapa ibu-ibu staf DPD masuk ke ruangan dan menyuruh kita mengantri. Tanda tanya muncul di kepala, apa lagi nih?

Oh, ternyata bagi-bagi uang saku. Ada yang dapat enam digit, ada juga yang tujuh digit. Alhamdulillah sekali yah. Hanya saja ada sedikit hal yang mencurigakan.

Kenapa kita disuruh tanda tangan Surat Perjalanan Dinas? Bukankah tadi malam Bu Sekjen bilang kalau lomba ini didanai dari patungan pihak pimpinan?

Kedua, nggak satupun dari kami tahu rincian uang sakunya. Sebab, tiap orang dapat nominal yang berbeda-beda.

Merasa ada yang aneh, kami pun saling bergosip. Terngiang kata Ega (cewek), “Mungkin gini ya rasanya korupsi.. Terima-terima aja. Nggak bisa ditolak.”

Apakah ini penyelewangan uang negara? Wallahu’alam.

Dan kami pun terdiam. Krik.

***

Setelah seluruh cowok pulang dari Jumatan, kami makan siang. Di lantai satu, udah ada panggung, meja makan bundar bertaplak, makanan prasmanan, dan puluhan staf DPD. Ternyata siang ini sekaligus ada pengumuman pemenang lomba kesenian, kreatifitas(?), dan kebersihan bagi pegawai. Entah kenapa mengingatkan akan masa-masa SMP/SMA.

Pengumuman pemenang @LombaDPD pun dimulai. Ternyata, Mbak Ira Koesno itu bertugas jadi Ketua Dewan Juri juga! Dan salah satu kriteria pemenang adalah, “Mengerjakan PR untuk mempelajari tugas dan fungsi DPD.” Waduh, udah hilang harapan ini sih hahaha.

(candid photo of me and @istantinaa by @chintra. kalo ngefans bilang-bilang sih. ihik.)

Dan ketujuh pemenang yang masing-masing mendapatkan paket liburan dan gadget adalah,

Juara 1: Dwi Wahyudi dari Provinsi Kalimantan Barat 
Andai Saya Menjadi Anggota DPD RI Kalimantan Barat

Juara 2: Darma Agung Setya Irfiansyah dari Provinsi DIY Yogyakarta 
Optimalisasi Peran DPD di Daerah

Juara 3: Gede Putra Adnyana dari Provinsi Bali 
Kearifan Lokal sebagai Generator Juara 1: Monica Lora dari Provinsi Sumatera Utara @monicaloraa

Juara 2: Aldila Geri Istantina dari provinsi DIY Yogyakarta @istantinaa

Juara 3: Mochamad Fajar Nugraha dari provinsi DKI Jakarta @mfnugraha

Juara favorit: Rosiva Dewi dari Provinsi Sumatera Utara Seandainya Saya Anggota DPD RI

Selamat untuk kalian bertujuh!

Selepas pengumuman pemenang, 31 orang yang nggak menang bukannya jadi lesu. Namun, justru tambah bersemangat. Sebab, masih ada peluang memenangkan #VisitDPD Live Tweeting Competition yang pemenangnya akan diumumkan nanti malam ketika dinner. Ibaratnya, lomba di dalam lomba.

Sekarang, kami akan pulang dulu ke hotel. Lalu, dijemput lagi sekitar jam 18:30 untuk dinner di tempat yang dirahasiakan.

"Emang ntar tempat dinnernya di mana, Mas?" *nanya panitia*

"Di Ancol.. Bagus kok tempatnya."

Ancol? Tempatnya bagus? Hmm, could it be Segarra? We’ll see.

Yang penting sekarang mandi dan leyeh-leyeh dulu. Badan rasanya udah cepel (=lengket) dan capek.

Jam setengah 7, kami berangkat.

Oops, it’s Friday night! Dan… Jakarta oh Jakarta, macetnya itu nggak ketulungan. Berhubung kita menuju ke Jakarta Utara, jalan lumayan lengang. Sedangkan yang ke arah Jakarta Pusat khususnya di sekitar Mal Taman Anggrek, beuuuh, nggak gerak!! Kok ya tahan.. kok ya mau.. *geleng-geleng pala*

Tiga bus yang membawa para finalis dan panitia pun memasuki kawasan Ancol. Terus masuk, teruuus.. dan saya baru nyadar kalau Ancol tuh luas. Mendadak terlihat papan restoran cepat saji A&W. Saya pun nyeletuk, “Jangan-jangan udah jauh-jauh di Ancol, kita makannya di A&W?”

Kata Bella, “Enggak, lah. Kita di sini diputerin doang. Makannya ntar tetap dihotel.”

Se to the tres. Setres! Hahaha.

Dan tempat misterius itu ternyata adalah… *jeng jeng* SEGARRA. As predicted.

Saya pikir panitia bakal nyewa organ tunggal terus dangdutan. Ternyata kali ini pakai DJ, cuy. Apa kita bakalan dugem?

(“toilet transgender di mana?”)


Kami pun makan dengan kesetanan. Iga bakar, cake, salad, bbq, segala dilahap. Harus diakui kalau makanan di sini jauh lebih enak daripada di hotel.

Sehabis makan, tibalah momen yang mendebarkan itu… juara live tweeting. Pak Uddin yang mengumumkan,

"Pemenang live tweeting ini adalah perempuan…"

Yaaah, seru para cowok. Saya masih ngunyah iga bakar. Nothing to lose, lah. Udah dapet uang saku juga.

"…username Twitter-nya diawali dengan huruf ‘T’."

Glek. Ah, stay cool.

"Selamat kepada Mbak Shinta Yanirma! Kepada Mbak Shinta kami persilahkan ke depan."

Alhamdulillah nggak keselek. Semua orang satu meja langsung bersorak. Hehehe, thank you guys.

Apa hadiahnya? Alhamdulillah dapet camdig Sony cyber shoot. XD

(sedikit komedi paska pengumuman pemenang. yayaya, shinta ke chintra emang deket sih.)

***

Oh ya, ternyata kami nggak jadi dugem (siapa juga yang bilang??). Jam 09:30, kami sudah duduk manis di bus bersiap pulang. Kecapekan yang berpadu apik dengan kekenyangan, semua orang hening sepanjang perjalanan pulang.

Sekian cerita singkat dari lomba dengan peserta terbanyak yang pernah saya ikuti. Dari 1,612 peserta, hanya 40 (atau tepatnya 38) yang mendapat undangan ke Jakarta. Diperlakukan serta didengar sebagai teman, tamu, dan orang dewasa oleh negara. Meskipun kualitas pelayanan hotelnya busuk (i’ll also tell you about this on another post), we couldn’t ask more for the service given by the committee… kami benar-benar merasa dihargai. :)

Guys, malam itu mungkin malam terakhir kita. Mungkin kita baru kenal 3 hari 2 malam. Tapi percayalah, rasanya kayak udah kenal lama. Bicara soal menang kalah: put all those prizes aside, kita semua adalah pemenang.

I’ll see you around.

.

Om santi, santi, santi om.

#VisitDPD - Day 1

Tanggal 16-18 Feb ini, saya dan 37 orang Top Finalists #LombaDPD (angkatan pertama) lainnya diundang ke Jakarta oleh DPD RI. Mau tahu apa aja yang terjadi? Monggo disimak.

Angkatan pertama adalah angkatan percobaan. Belum ada SOP Penyelenggaraan Acara, rundown bisa mendadak direvisi, sampai baru diberi tahu prosedur pemesanan tiket H-1, adalah hal yang lumayan lumrah terjadi pada pilot project manapun. *curhatan orang yang sering jadi bagian dari pilot project*

Termasuk di Lomba DPD ini. Agak was-was rasanya ketika H-2 belum diberi tahu gimana cara mesen tiket, apakah disediakan oleh panitia, atau kita beli sendiri lalu di-reimburse. Alhasil, berangkat hari Kamis jam 07:00, tapi saya baru mesen tiket travel hari Rabu jam 19:00. Untung saya tinggal di Bandung, yang bisnis travel Jakarta-Bandung laris manis sejak Tol Cipularang dibuka. Lah, kalau yang dari daerah lain bagaimana?

Untungnya, seluruh finalis bisa berangkat. Kecuali satu orang ibu yang batal berangkat karena anaknya sakit keras. If you read this @m1sh44, semoga anak Mbak cepat sembuh ya. Amin.

Singkat cerita, saya nyampe kepagian. Jadwal check in di Hotel Sultan jam 13:00, eh saya udah nyampe di pool Transline Plaza Semanggi jam 10:00. Akhirnya, 2 1/2 jam saya habisin window shopping sendirian di sono. Mana sendirian, mana kucel, mana banyak barang bawaan. -_-

(makan, makan sendiri~)

O ya, mall di Jakarta buka lebih siang (jam 11:00+) daripada di Bandung (jam 09:30+), ya. Sedetik pertama, yang kepikiran: orang Jakarta pemalas! Detik berikutnya: atau justru mereka terlalu sibuk di pagi hari jadi jarang yang ke mall? Berarti orang Bandung dong yang pemalas, hahahah.

Jam 12:30, saya memutuskan untuk berangkat. Masalahnya, naik apa? Lalu, petunjuk dari supir travel tadi pagi melintas di kepala.

Hotel Sultan mah deket, Neng! Tinggal nyebrang.

Di GMaps sih emang deket. Tapi saya ragu. Ternyata pas nanya ke satpam, “Setdah jauh beuuud you know jalan kaki ke Hotel Sultan tuh! Mana gerah gilak begonoh.” Tuh kan! Yaudah akhirnya saya naik taksi. *say good bye to IDR18,000*

Pas mau masuk ke hotel, security menatap saya curiga. Sambil mem-block jalan, dia nanya, “Ada keperluan apa ya Mbak?”

Ekspresinya itu lho, jauh dari kesan welcoming. Dipikir saya mau maling apa ya, “Saya diundang oleh DPD RI.”

"Oh, baik. Ke Lobby ASEAN, ya."

Di lorong, ada meja panitia Lomba DPD. Thanks God, mereka jauh lebih ramah daripada si security tadi. Saya langsung disuruh check-in, dan dikasih goodie bag guede banget.

(foto milik @arryeka, si fotografer sejati. dicomot tanpa sepengetahuan ybs. :p beberapa suvenir yang gak ada di foto di atas: polo shirt, kalender, mouse pad, key holder)

Di sini, saya kenalan sama @trimuttt yaitu calon teman sekamar dan @EgaGenggong yang dari jarak 15 meter pun dapat dikenali mengenakan wedges keluaran @iwearUP. Nggak pake basa-basi saya nyeletuk, “Sepatu kamu Up, ya? Iih, sama.” Dasar cewek, kalau udah ngomongin begituan ya pasti nyambung. :p

Kirain, kami bisa boci (bobo ciang) dulu. Negatif. Instruksi Mas Iky, “Kalian naroh barang di kamar, makan siang, terus langsung kumpul di lobby, ya. Kita berangkat jam 14:00 ke Sidang Paripurna.” Waktu menunjukkan pukul 13:35.

Yang kami tafsirkan: naroh barang, ganti baju, dandan, makan siang, berangkat.

"Oke."

(today’s lunch: chocolate mousse + sashimi)

Singkat cerita, sampailah kami di Komplek MPR/DPR/DPD-RI. Lalu, kami menunggu di Press Room sambil Pak @uddinsyiar (Kepala Pusat Data dan Informasi) mengabsen kami satu-persatu dan membagikan sertifikat finalis. Tak lupa, Pak Uddin selalu mengaku-aku setiap finalis cewek sebagai anaknya, dan memberi pesan sponsor, “Jangan lupa follow saya.” HAHAHA

Setelah semua terabsen, kami pun masuk ke Gedung Nusantara V di mana Sidang Paripurna berlangsung. Tapi karena sidang dimajukan jadi jam 09:00 pagi, kita cuma di dalam selama 20 menit, deh.

(di dalam Gedung Nusantara V)

(bersama si “adek”)

Pembicara terakhir adalah politisi Hanura, Pak Bambang Suroso. Yang saya tangkap hanya, “78% masyarakat menggantungkan harapan terhadap DPD,” dan “Perlu ada perubahan di dalam sistem ketatanegaraan kita.”

Oh ya, itu pertama kalinya juga saya tahu salam sambutan “Om swasti astu” dan salam penutup “Om santi santi santi om” yang digunakan di setiap jeda speech di DPD RI. Esoknya, saya baru tahu dari Pak Gede (guru SMA, orang Bali) apa arti kedua salam yang menggetarkan hati itu.

Om Swastiastu mean : Hope you welfare in the name of God.
Om Santi, Santi, Santi mean : Hope you always in peace in the name of God.

Sumber

Menurut Pak Gede, tiap ‘Santi’ memiliki arti yang berbeda. Santi yang pertama, damai di dunia. Yang kedua, damai di kehidupan nanti. Yang ketiga, damai selamanya. *mudah-mudahan gak salah ingat*

Woo, no wonder rasanya merinding tiap dengar dua salam ini.

Puas foto-foto sampai diusir secara halus, kami keluar. Foto-foto lagi, sampai Pak Irman Gusman (Ketua DPD RI) menghampiri kami, menyalami satu-persatu, dan membagikan buku beliau secara gratis, “Di Gramedia, harganya Rp185,000 lho, Dik. Lumayan.” Konon, nanti beliau mau mengadakan lomba resensi bukunya juga. Yang menang dapat hadiah, sekalian bukunya dipromosiin di blog masing-masing. Bisa aja nih si bapak. Beberapa saat kemudian, Bu Siti Nurbaya (Sekjen DPD RI) bergabung dan kita foto-foto bareng di depan air mancur.

Kerennya, beliau berdua dengan sabar meladeni kami, generasi muda yang narsis, untuk berfoto masing-masing, lho. Begitu nggak ada yang minta foto lagi, baru deh beliau berdua pamit pergi. Coba deh bayangin kalian jadi mereka, pimpinan lembaga legislatif negara. Sibuk, tapi harus melayani yang macam begini:

"Pak, boleh saya minta foto sama Bapak?"

Dijawab dengan ramah, “Boleh, boleh. Sini. Kamu dari daerah mana?”

*jepret-jepret*

Beberapa saat kemudian, “Saya juga ya, Pak.” Sambil nyengir memaksa.

Begitu terus sampai 38 kali. *tepuk tangan*

(muka kucel nggak masalah, yang penting poto bareng Pak Irman Gusman)

Oh ya, berbeda dengan DPR yang menetapkan dresscode jas dan dasi untuk Sidang Paripurna, DPD menetapkan dresscode batik. Makanya kita semua berbatik.

(para fotografer. pahlawan tanpa tanda jasa yang jarang sekali ikut terfoto)

(saya, meli, tri, ega. paling kiri dan paling kanan: duo wedges keluaran Up. lol.)


Puas foto-foto, kami pulang ke hotel. Saya dan si Tri (teman sekamar yang saya panggil “Adek”) memutuskan suit untuk menentukan siapa yang mandi duluan.

Habis mandi, lalu makan malam. Yang berlanjut sampai larut malam. Biasa, di mana ada acara makan bersama, pasti ada organ tunggal. Saling tunjuk buat menyumbangkan lagu (yang kata salah seorang finalis, ‘membuat lagu jadi sumbang’). Awalnya pop, lalu keroncong, lalu… dangdutan all night long.

(stella, bella, tri, saya. bella ini calon air controller lho. jarang banget kan yang cewek. *keprok tangan*)

Hidup Indonesia!

See you on Thursday, fellow finalists of @Lombadpd :)

See you on Thursday, fellow finalists of @Lombadpd :)

This Must Be My Lucky Day

Pagi

Nge-post tentang Masakpedia di Facebook, dan segera mendapat dua calon pembeli pertama: @siimuti dan @nanananadwi. Kalau nggak jadi beli, awas aja. *ngasah golok*

Siang

Jadi tutor masak dadakan. Ngebantuin piyik-piyik (-> basa jawa) temannya si Menyem masak ikan nila bakar madu, di-video-in, buat tugas kelompok bahasa Inggris. Apa hubungannya masak sama bahasa Inggris? Entahlah. Yang jelas, si piyik-piyik itu keliatan seneeeng banget waktu masakannya dibilang enak. Aih, sebagai tutor, jadi ikutan seneng begitu lihat mereka seneng. :”)

Sore

Lagi scrolling timeline FB dan Twitter. Tiba-tiba menemukan hal yang aneh: beberapa (mantan) teman sekelas bergosip masalah IPK. Langsung ngecek akademiks1[.]fe[.]unpad[.]ac[.]id. Nilai mata kuliah terakhir sudah keluar! 138 SKS, and it seems like I still have the chance to graduate with cum laude GPA. Uh yeah, baby.

…masih Sore

Belum sempet jingkrak-jingkrak, tiba-tiba ada incoming call di hape. 021 sekian sekian. Ups, apakah ini dari calon employer yang “menggantungkan” saya selama berbulan-bulan? Kalau iya, terus mendadak diwawancara di telepon, mampus deh.

Agak lama saya mikir-mikir, tapi akhirnya diangkat.

"Halo, dengan Mbak Shinta?"

"Iya, ini siapa?"

"Saya H****, dari DPD RI."

AAAA! Ternyata ini ada hubungannya sama Lomba DPD. Better than expected.

"Tanggal 15-17 kosong, Mbak?"

"Hm, sebentar." Sok jual mahal. "Kayaknya kosong. Acara (pengumuman pemenang) tanggal berapa, Mas?"

"Tanggal 15-17 itu. Dua hari tiga malam. Nanti yang 20 orang termasuk Mbak ini kami ikutkan ke Sidang Paripurna DPD RI."

"Di sana ada perlombaan lagi nggak? Semacam final gitu."

"Nggak ada. Sebenarnya, sekarang pun pemenangnya sudah ditentukan."

Si-dang Pa-ri-pur-na. Oh my God. Itu yang biasanya cuma bisa diliat dari liputan di tipi-tipi, kan??? Ya, pardon my norak-ness.

Saya speechless. Kirain tadinya pengumuman ya pengumuman aja. Dibayarin travel PP, diajak muter-muter gedung DPD RI, dinner, lalu pemenang dipanggil naik ke atas panggung. Terus langsung disuruh balik ke habitat masing-masing. Wow, they take this very seriously. I’m impressed.

Kata-kata selanjutnya yang sejenis dengan “Akomodasi ditanggung” atau “Nanti nginep di hotel” udah nggak saya dengerin lagi.

WOAH! Harus siapin kamera DSLR, baju kantoran-dress-high heels, dan packing dari sekarang nih. Nggak sabaaaarrrrrrr. :D

Because of:
“ANGGOTA DPD RI SEBAGAI MEDIATOR BENTURAN KEPENTINGAN DI DAERAH”
&
“EMPAT PILAR PEMBANGUNAN DAERAH YANG HARUS DIPERJUANGKAN (TANPA HENTI) OLEH ANGGOTA DPD RI”
Alhamdulillah, I’m one of Top 100 Finalists out of 1601 contestants in National Blogging Competition held by Regional Representative Council RI (DPD RI) at lomba.dpd.go.id.
FYI, the chance to win iPhone 4S is 1%. Wish me (much) luck, guys.

Quick update, 02-02-2012:
I MADE IT TO BE ONE OF TOP 20 FINALISTS! Alhamdulillah. :D

Because of:

ANGGOTA DPD RI SEBAGAI MEDIATOR BENTURAN KEPENTINGAN DI DAERAH

&

EMPAT PILAR PEMBANGUNAN DAERAH YANG HARUS DIPERJUANGKAN (TANPA HENTI) OLEH ANGGOTA DPD RI

Alhamdulillah, I’m one of Top 100 Finalists out of 1601 contestants in National Blogging Competition held by Regional Representative Council RI (DPD RI) at lomba.dpd.go.id.

FYI, the chance to win iPhone 4S is 1%. Wish me (much) luck, guys.

Quick update, 02-02-2012:

I MADE IT TO BE ONE OF TOP 20 FINALISTS! Alhamdulillah. :D

Anggota DPD RI Sebagai Mediator Benturan Kepentingan Di Daerah

Setelah kemarin menyinggung tentang empat pilar pembangunan daerah, kok rasanya masih ada uneg-uneg yang ingin diutarakan sebagai masukan bagi DPD RI. Tak terasa, akhirnya jadi juga tulisan kedua ini tentang topik yang juga selalu hangat untuk didiskusikan: benturan kepentingan.

Dalam sistem demokrasi di Republik Indonesia ini, kita semua tahu kalau perbedaan pendapat untuk memperjuangkan hal yang kita yakini benar adalah hal yang lumrah. Selama kepentingan yang diusung masih sama (baca: untuk rakyat) dan prakteknya tidak melanggar kode etik dan hukum, mengapa harus dilarang?

Namun, manusia sering lupa. Lupa kalau saya bertempat tinggal di Jawa Barat dan kamu di Sulawesi Utara, mungkin pengertian kepentingan rakyat di alam bawah sadar saya adalah kepentingan rakyat Jawa Barat. Begitupun sebaliknya, pengertian kepentingan rakyat di pikiranmu tanpa sadar dipersempit menjadi kepentingan rakyat Sulawesi Utara.

Selama saya tetap tinggal di Jawa Barat dan kamu tetap tinggal di Sulawesi Utara, tentu tidak ada masalah. Tapi, bagaimana kalau suatu saat kita bertemu untuk bersaing memperjuangkan kepentingan daerah masing-masing? Di mata kita, tidak ada lagi pikiran tentang kepentingan rakyat Indonesia. Yang terpikir hanya bagaimana caranya agar golongan yang kita wakili dapat ‘menang’ dengan cara mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya.

Ada banyak sekali contoh terkini terkait dengan benturan kepentingan di daerah. Kebetulan ada beberapa yang pernah nongol di browser saya,

Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam

Ini bukan tentang skema pembagian pempus:pemda yang kalau untuk Migas besarannya adalah 84,5%:15,5%. Melainkan tentang seberapa adil pemda membagi kembali DBH itu ke setiap kota/kabupaten. Pertimbangannya tentu beragam (desa mana yang dilewati jalur pipa, yang mendapat ‘jatah’ polusi paling banyak, dsb). Sayangnya, entah karena pertimbangan yang kurang bijaksana atau prosedur penentuan bagi hasil yang kurang transparan, banyak kota/kabupaten yang mengeluh belum mendapat bagian secara adil. Seperti protes Kab. Tuban terkait bagi hasil dari Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB PPEJ) ini.

Pembebasan Lahan

Pikiran Rakyat menyebutkan bahwa pada akhir 2011 terdapat 11 megaproyek yang terbengkalai (hanya) di Jawa Barat. Di mana seluruh megaproyek tersebut menemui kendala pembebasan lahan. Dari beberapa sumber, dapat disimpulkan kalau penyebabnya yaitu: (1) P2T (Panitia Pembebasan Tanah) lamban berunding dengan masyarakat, (2) proses musyawarah harga berlarut-larut, (3) perbedaan harga tanah untuk pembebasan lahan antara tim appraisal dengan yang diminta oleh masyarakat, (4) masyarakat bingung bagaimana untuk mendapatkan ganti rugi pembebasan lahan tanpa perlu campur tangan calo/makelar, (4) kurangnya informasi tentang kantor pusat yang menangani ganti rugi pembebasan sehingga masyarakat sering terjebak oleh calo/makelar.

Dua topik di atas mungkin ibarat sebutir kerikil dari tumpukan benturan kepentingan daerah yang terjadi di seluruh Republik Indonesia.

Sejujurnya, terkait dengan sulitnya googling job desc spesifik DPD RI, saya kurang tahu apakah anggota DPD RI punya wewenang dalam menjembatani berbagai benturan kepentingan yang terjadi di daerahnya masing-masing. Kalau punya, tolong perjuangkan keadilan yang win-win solution baik bagi rakyat di daerah maupun pihak lain yang terlibat. Kalau tidak, apa salahnya memberikan asistensi, kritik, dan atau saran yang membangun bagi pihak-pihak yang berwenang. :)

.

image credit: niki1994

Empat Pilar Pembangunan Daerah Yang Harus Diperjuangkan (Tanpa Henti) Oleh Anggota DPD RI

Pembangunan daerah sejatinya dapat terlaksana hanya dengan empat pilar saja: pendidikan, infrastruktur, kewirausahaan, kesehatan. Mengapa empat pilar pun cukup untuk diutamakankan oleh DPD RI? Let’s see.


Bermula dari Pendidikan

Buat saya dan kamu yang tinggal di kota besar, mungkin pendidikan bukan barang mewah. Kita diwajibkan bersekolah oleh kedua orang tua kita. Minimal lulus SMA agar dapat bekerja. Kalau orang tua masih mampu membiayai, bolehlah lanjut ke D3, S1, atau bahkan S2.

Tidak demikian dengan mereka yang tinggal di desa-desa di pelosok kabupaten. Tak jarang, fungsi sekolah hanyalah sebatas untuk mengentaskan buta huruf dan angka. Bisa membaca, menulis, berhitung, dan mengaji, maka selesailah sudah kewajiban si anak untuk bersekolah.

Infrastruktur, Pembuluh Darah Pembangunan

Penyebab kesenjangan kualitas pendidikan antara kota dan desa sebenarnya sederhana: infrastruktur. Kalau jalan menuju sekolah bisa dilewati minimal oleh roda dua, ruangan kelas dan sarana belajar memadai, bangunan sekolah mulai bisa dibedakan dari kandang ternak, syukur-syukur ada satu komputer dengan akses internet untuk setiap sekolah… semuanya akan berubah.

Alhasil, para orang tua di pelosok daerah akan memandang penting pendidikan karena mereka melihat bukti nyata keseriusan pemerintah. Para guru yang mengajar di daerah akan lebih bersemangat memompa kompetensinya (apalagi kalau para guru honorer yang sudah mengabdikan diri selama belasan tahun ini diangkat jadi PNS). Mendapat dukungan moral sekaligus dari orang dewasa di lingkungan rumah dan sekolah, semangat belajar para siswa bahkan bisa melambung jauh lebih tinggi. Bukankah energi positif itu menular?

Pendidikan + Infrastruktur = Kewirausahaan

Lanjut ke kewirausahaan. Pernah dengar tentang industri rotan Cirebon yang dulu merupakan terbesar di dunia namun kini terpuruk? Sejak dikeluarkannya Permendag No. 12 Tahun 2005 tetang Ekspor Rotan Mentah, ratusan pabrik kerajinan rotan bangkrut dan puluhan ribu buruh di-PHK seketika.

Kasus pahit ini mengingatkan saya pada masyarakat di lokasi Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa pertengahan 2011 lalu di Desa Bantarkalong, Kec. Cipatujah, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat. Bukan karena di sana pernah ada kasus serupa, melainkan karena masyarakat petani buah di sana belum sadar akan nilai tambah ekonomis yang bisa mereka raih.

Desa Bantarkalong merupakan penghasil buah-buahan khas iklim tropis seperti rambutan, manggis, kelapa, dan durian. Namun karena kurangnya pengetahuan, buah-buahan itu hanya sebatas dikonsumsi sendiri atau dijual senilai sepertiga dari harga jual di pasar Kota Bandung. Kalau saja mereka tahu teknik mengolah kelapa menjadi biskuit kelapa/santan/nata de coco, bagaimana membuat pancake durian, atau bagaimana membuat manisan buah yang tahan lama, ditambah pengetahuan tentang manajemen pemasaran produk, pasti kondisi perekonomian di desa tersebut akan meningkat drastis.

Pilar keempat adalah kesehatan yang hanya akan dihiraukan oleh masyarakat terdidik, berkemampuan ekonomi cukup, dan bertempat tinggal di mana infrastruktur daerahnya dapat menunjang pelayanan kesehatan.

Sekian uneg-uneg yang muncul di kepala ketika saya berandai-andai menjadi anggota DPD RI. Meskipun politik kamar kedua di Indonesia mengatakan bahwa anggota DPD RI hanya berperan sebagai pembisik bagi anggota DPR dalam mengesahkan kebijakan… saya percaya kalau integritas akan bicara.

Niat baik, ditambah kerja keras, diiringi doa dari segenap rakyat Indonesia, akan menyukseskan pembangunan daerah-daerah dengan potensi ekonomi yang belum tergarap di seluruh pelosok negeri ini. Amin ya robbal’alamin.

***

Related posts:

  1. Tamparan Itu Bernama Mekarjaya
  2. Get Real
  3. Review: Indonesia Mengajar (Buku)
  4. Patut Malu