Posts tagged Shinta.

The Failed Beauty Class

Kemarin, saya, @carmayden, dan @giovaniari datang ke #FemmeTalks nya @caring_colours. Awalnya, saya kira ini beauty class. Si Mamah, yang nyuruh saya dan Karin datang karena kasihan anaknya belum pernah ikut beauty class, pun mengira begitu. Jadi, Mamah tahu acara ini dari booth di sebuah swalayan. Sepik SPG-nya kira-kira begini, “Nanti dapat dua produk gratis, Bu. Satunya bedak two way cake, satunya lagi bisa milih antara eyeshadow atau blush on.” Si Mamah tertarik, “Ini beauty class, Mbak?” “Emm, semacamnya, Bu.”

Se-ma-cam-nya.

Later on, it turned out to be career-motivation seminar. And cosmetic products campaign. Terus dapet gratisan(?)nya cuma bedak. SPG kampret. Tapi ya sudahlah, we had fun. ;)

Oh ya, seminar(?) kemarin menghadirkan beberapa pembicara, di antaranya ada beberapa pemenang Caring Colours Young Professional Award (YCPA). Tiap peserta dikasih booklet yang memuat biodata, foto, kegiatan keseharian, dan wawancara dengan kedelapan wanita karier tersebut. Yang bikin si Qunyuq terbelalak adalah profil salah satu pemenang, yaitu VP Corporate Branding, Marketing & Communication di salah satu perusahaan asuransi ternama yang ternyata adalah… lulusan Arsitektur ITB. FYI, si Qunyuq ini kuliah jurusan Manajemen dan pacarnya jurusan Arsitektur. Jadi, perasaannya pasti… campur aduk.

Dear honorable architects, engineers, and agro/agribusiness graduates… why don’t you work in your own field?

- Sincerely, accounting and management graduates.

(http://instagr.am/p/JqqvOqrHvs/ | memanfaatkan photo booth yang sebenarnya khusus buat foto VVIP bareng Revalina dengan beli produk senilai Rp100.000 -___-)

(http://instagr.am/p/Jqr40frHgA/ | bedak two way cake)

(http://instagr.am/p/JrG-CKLHow/ | Revalina S. Temat. Lebih cantik dan langsing dari yang kelihatan di tipi ._.)

(http://instagr.am/p/JrHS6frHo4/ | nongkrong unyu di @Sugarush_bdg)

(http://instagr.am/p/Jr3pZ3LHlC/ | Parisian macaroons yang, kalau dimakan tiap hari, insya Allah bikin diabetes. it hurts because it’s too sweet. tapi nagih.)

Oh, Happy belated Kartini Day, Indonesia women! Tetaplah menjadi tiang yang kokoh bagi negara ini. :)

p.s. According to me, the coolest speaker was Mrs. Marlin Sugama (producer, writer, and co-founder of www.main-studios.com). She talked about the true meaning of ‘beauty’, the fact that Barbie’s body is not a human’s body, and how to protect our (future) children from such narrowed concept of beauty that attacks them 24/7. Agree, Sis!

  April 22, 2012 at 01:23pm

Pengalaman Keracunan Yang Pertama (Dan Semoga Terakhir) Kali

tag: @waroengsteak

Pada tanggal 26 Februari 2012, saya dan ibu makan di Waroeng Steak Jl. Gatot Subroto (dahulu merupakan cabang Jl. Lodaya), Bandung.

Sekitar pukul 17:00, saya memesan Tuna Mushroom Steak yang merupakan menu favorit saya, ibu memesan Blackpepper Steak, sedangkan untuk minuman, kami berdua memesan teh manis panas dan lemon tea panas. Tidak lama kemudian, pesanan kami berdua datang.

Sedari awal pramuniaga membawakan pesanan, Tuna Mushroom Steak yang saya pesan terlihat berbeda dari biasanya. Daging ikannya alot, sedikit berbau, dan terkesan seperti telah dipanaskan berulang kali. Namun, saya mencoba berprasangka baik dan tetap memakannya.

Tepat selesai makan atau sekitar pukul 17:30, tiba-tiba saya merasakan reaksi aneh. Detak jantung saya meningkat drastis seperti orang yang baru lari sprint, kepala pusing berat seperti ditusuk-tusuk dari segala arah, badan menjadi lemas, dan ibu berkata kalau muka saya memerah di luar batas kewajaran. Padahal, sebelumnya kondisi badan saya baik-baik saja. Perlu dicatat bahwa saya tidak mengidap alergi makanan tertentu.

Curiga bahwa saya telah keracunan makanan, ibu berinisiatif untuk memanggil pramuniaga. Tidak lama kemudian, seorang pramuniaga mendatangi meja kami (No. 23) dan menanyakan keadaan saya. Ibu meminta pramuniaga tersebut untuk membawakan saya air kelapa sebagai langkah pertolongan pertama. Pramuniaga tersebut menyanggupi, kemudian mohon permisi dari meja kami.

Sepuluh menit, dua puluh menit… sampai dengan setengah jam kami menunggu di sana, tidak ada respon lebih lanjut dari Waroeng Steak. Sedangkan, reaksi yang saya alami makin menjadi-jadi. Namun, aktivitas seluruh pramuniaga tetap berjalan seperti biasa, seakan seorang pelanggan yang keracunan karena mengonsumsi menu Waroeng Steak bukan merupakan hal yang menjadi tanggung jawab mereka. Atau pelanggan yang keracunan merupakan kejadian yang sering terjadi sehingga tidak dihiraukan oleh para pramuniaga yang bertugas?

Setengah kesal, setengah khawatir akan keadaan saya, ibu pun mengajak saya pulang lalu membayar tagihan kami di kasir. Ibu sempat memprotes, “Mas, tadi anak saya keracunan makanan di sini dan saya minta tolong dibawakan air kelapa untuk pertolongan pertama. Sudah setengah jam, kok nggak datang-datang?” Seorang pramuniaga yang tengah berada di dekat kasir menimpali dengan ketus, “Ibu yang sabar, dong!” Menyadari ucapan rekannya, penjaga kasir hanya berkata singkat tanpa menoleh ke ibu, “Mohon maaf.”

Kepada segenap pengelola Waroeng Steak, mohon perhatikan kualitas makanan yang Anda sajikan. Saya tahu, dengan harga terjangkau dan lokasi strategis, restoran Anda selalu penuh setiap hari. Namun, bukan berarti Anda bebas mengorbankan keselamatan pelanggan dengan menghidangkan makanan hampir basi yang jelas-jelas tidak memenuhi standar kelayakan. Bagaimanapun juga, reputasi yang terlanjur rusak tidak akan pulih kembali seperti semula -setidaknya di mata korban seperti saya.

.

Salam,

Korban Keracunan

p.s. Tulisan ini pun saya kirimkan ke HU Pikiran Rakyat. Semoga dapat membuka mata para pedagang agar lebih bertanggung jawab dengan kualitas produknya, dan membuka mata pelanggan kalau pelanggan pun memiliki hak untuk dilindungi dari produk yang tidak berkualitas dan membahayakan.

This Must Be My Lucky Day

Pagi

Nge-post tentang Masakpedia di Facebook, dan segera mendapat dua calon pembeli pertama: @siimuti dan @nanananadwi. Kalau nggak jadi beli, awas aja. *ngasah golok*

Siang

Jadi tutor masak dadakan. Ngebantuin piyik-piyik (-> basa jawa) temannya si Menyem masak ikan nila bakar madu, di-video-in, buat tugas kelompok bahasa Inggris. Apa hubungannya masak sama bahasa Inggris? Entahlah. Yang jelas, si piyik-piyik itu keliatan seneeeng banget waktu masakannya dibilang enak. Aih, sebagai tutor, jadi ikutan seneng begitu lihat mereka seneng. :”)

Sore

Lagi scrolling timeline FB dan Twitter. Tiba-tiba menemukan hal yang aneh: beberapa (mantan) teman sekelas bergosip masalah IPK. Langsung ngecek akademiks1[.]fe[.]unpad[.]ac[.]id. Nilai mata kuliah terakhir sudah keluar! 138 SKS, and it seems like I still have the chance to graduate with cum laude GPA. Uh yeah, baby.

…masih Sore

Belum sempet jingkrak-jingkrak, tiba-tiba ada incoming call di hape. 021 sekian sekian. Ups, apakah ini dari calon employer yang “menggantungkan” saya selama berbulan-bulan? Kalau iya, terus mendadak diwawancara di telepon, mampus deh.

Agak lama saya mikir-mikir, tapi akhirnya diangkat.

“Halo, dengan Mbak Shinta?”

“Iya, ini siapa?”

“Saya H****, dari DPD RI.”

AAAA! Ternyata ini ada hubungannya sama Lomba DPD. Better than expected.

“Tanggal 15-17 kosong, Mbak?”

“Hm, sebentar.” Sok jual mahal. “Kayaknya kosong. Acara (pengumuman pemenang) tanggal berapa, Mas?”

“Tanggal 15-17 itu. Dua hari tiga malam. Nanti yang 20 orang termasuk Mbak ini kami ikutkan ke Sidang Paripurna DPD RI.”

“Di sana ada perlombaan lagi nggak? Semacam final gitu.”

“Nggak ada. Sebenarnya, sekarang pun pemenangnya sudah ditentukan.”

Si-dang Pa-ri-pur-na. Oh my God. Itu yang biasanya cuma bisa diliat dari liputan di tipi-tipi, kan??? Ya, pardon my norak-ness.

Saya speechless. Kirain tadinya pengumuman ya pengumuman aja. Dibayarin travel PP, diajak muter-muter gedung DPD RI, dinner, lalu pemenang dipanggil naik ke atas panggung. Terus langsung disuruh balik ke habitat masing-masing. Wow, they take this very seriously. I’m impressed.

Kata-kata selanjutnya yang sejenis dengan “Akomodasi ditanggung” atau “Nanti nginep di hotel” udah nggak saya dengerin lagi.

WOAH! Harus siapin kamera DSLR, baju kantoran-dress-high heels, dan packing dari sekarang nih. Nggak sabaaaarrrrrrr. :D

Sepotong Cerita dari Taman Safari Indonesia

14-15 Januari 2011

Puncak Pass, Hotel Lembah Safari, Waroeng Shiefila, Taman Safari Indonesia

.

…Singkat cerita, our plan to enter TSI at 10:00 sharp was revised to 11:00. Who cares, yang penting ini Taman Safari Indonesia!!! Yang udah diimpi-impikan dari berbulan-bulan lalu, sekarang ada di depan mata. Yippey!

Sepanjang jalan yang didesain agar berliku-liku, berbagai hewan dibiarkan berkeliaran sesukanya di pinggir atau bahkan di tengah jalan. Kami yang cewek sontak teriak ketika moncong seekor zebra masuk ke dalam mobil, ngedumel ketika mobil sebelah melemparkan makanan ke depan mobil kami sehingga monyet-monyet yang menghampirinya bikin mobil nggak bisa bergerak, atau menahan nafas ketika badan gajah tur nyaris menggesek badan mobil KIA Picanto –yang mungkin banget terguling hanya dengan satu sentakan belalai. Sementara itu, yang cowok tertawa terpingkal-pingkal.

There, I realized that there will always a child’s soul inside everyone of us.

Ya, jiwa anak kecil yang kegirangan ketika seekor harimau putih terbaring lelap di pangkuannya, yang cukup puas melihat Dolphin Show meskipun hanya selama lima menit sebelum usai. ‘Anak kecil’ yang tanpa pikir panjang menghabiskan Rp100.000 berdua hanya untuk masuk ke kandang penguin, melemparkan ikan, dan membelai perut penguin.

Bahagia itu sederhana. *bukan hashtag Twitter*

–sepotong cerita dari total 1.151 kata di Ms. Word

The words have done their jobs. Now, it’s photographs’ turn. Enjoy! ;)

(the famous ubi bakar cilembu)

(lazy hippos wait for food)

(this corner reminds me of Angkor Wat)

(we called this “Prophet Noah’s Ark”)

(cuddling in cold haze. so cuuuute.)

(never too old for dolphin show)

(cultural exhibition: suku asmat from papua)

Thank you guys! Let’s do Karimun Jawa next time.

p.s. I intentionally overresized the last pic. LOL.

Goodbye 2011, Hello 2012

This short post will serve me as a reminder in the end of 2012. When I need to look back a while and see how things have been going. Of course, if Allah SWT still give me another NYE, ameen. :)

Okay. Let’s begin with a quick replay of what happened in 2011. I think I made 87,56% of last year resolutions. ”Where did you get that number?” Obviously, not from any statistical calculation. *idiealittleinsideeverytimeihearSTATISTICS*

Did these on 2011:

  • I got A for Advanced Accounting, which completed my step as Financial Accounting Teaching Assistant. Big alhamdulillah, since learning consolidation topic in the middle of IFRS convergence is quite a challenge.
  • Went to National Round of Danone Trust with my team Golden Eagle (@freddymdf, @yuniandari, teh lenny, teh chacha)… but failed to go to Paris. Hahaha. At least we robbed bunch of Activia and Mizone at the event.
  • Had a backpacker trip to outside of Java Island. Well, Tidung Island is physically located outside of Java Island, right? 
  • Accidentally teamed up with @niellarland for NAW Conference and won the Best Orator award. What a surprise.
  • Being a writer in iCreativeLabs Studio for six months. What was I, who only knew about accounting and capitalism world, thinking to go deep with freelancing and WordPress e-commerce stuff? That’s why this experience is forever a mindset changer for me. Thanks again, Teh Rini and Mas Anggi and the whole team.
  • Went to KKNM (obligatory field practice) at Desa Bantarkalong, Cipatujah, Tasik Jabar. It was the most relaxing month of the year. Hi there, Majority Gang of 15! Hahaha.
  • Published two compilation books at NulisBuku. Even though they may not be achievements (because everyone can publish anything there), it made me believe that writing is actually a profession. Not mere a hobby.
  • Had a very serious commitment with Cookie about our upcoming LDR in 2012, hahaha. I was surprised yet grateful that he became so supportive about my future plans.
  • I leveled up my cooking skill. Like, from “bad” to “not so bad”. *rotfl*

What I didn’t on 2011:

  • TOEFL Score of 550
  • Going abroad for (almost) Rp0 and $0, regardless of the occassion

So, those delayed resolutions will be added up to my 2012 To-do Lists as follows,

  • To graduate with cum laude GPA on May. In order to do so, I HAVE to get minimum A- for remaining subjects: research methodology, IS auditing, and mini thesis. Phew. (Otherwise, graduate on May will be enough.)
  • To get a job which meets my passion, idealism, and expected benefits.
  • To impress Cookie’s mom with my cookings. Oh yeah.

.

So, happy new year, everyone!

I have this feeling that 2012 is going to be a great year. For all of us. :)

Love,

me & Cookie (pardon his icy face)

Saya Baru Pensiun!

tag: @rizmarachman, @saiaci, @pi2n, @aufarisia, @tyaswindya, @irmaryamah, josua, yudha, adek fuza.

Pensiun apaan di umur 20 tahun?. Maksudnya, terhitung Sabtu tanggal 17 Desember, saya dan sembilan orang Financial Accounting Teaching Assistants 2008 lainnya resmi berhenti ngajar kelas praktika rumpun Akuntansi Keuangan (Principle + Intermediate + Advanced, untuk seluruh prodi di FE Unpad).

Sedih? Jelas. Nggak ada lagi sesi lab day yang menguras otak (belajar + bergosip), emosi (iya, tiap minggu pasti adaaa aja orang yang ngeselin; termasuk saya hahaha), dan tawa (tiap minggu pun adaaa aja yang jadi korban di-bully). Nggak ada lagi duduk-duduk di belakang A31 sambil menyimak salah satu dari sembilan orang itu sedang mengajar.

Tapi ya sudahlah. Toh, pertemuan memang selalu berpasangan dengan perpisahan. Sekarang tinggal fokus ke skripsi dan mengejar target lulus masing-masing (<—bikin tambah galau).

Di tulisan ini, saya bakal nulisin satu-persatu hal-hal yang paling berkesan selama jadi FATA. Mudah-mudahan suatu hari nanti ketika saya mungkin sudah lupa, tulisan ini bisa jadi sebutir obat nostalgia yang mengharukan. So, please let me to. :’)

Diusir dari Kelas Sendiri

Sudah tahu kan kalau lokasi kuliah S1 Unpad itu terpencar di mana-mana? Untungnya, FE masih berkampus di Dipati Ukur. Sialnya, kapasitas ruangan kelas Kampus DU itu terbatas. Sialnya lagi, jumlah anak per angkatan makin banyak. Sialnya lagi (dan lagi), jumlah praktika pun diperbanyak secara nggak kira-kira dan sekaligus.

Alhasil, saya pun kena usir dua kali. Sejak proses tender kelas di awal semester, untuk kelas praktika X saya dapat ruangan B24. Minggu pertama masuk, diusir ke ruangan B33 oleh pegawai administrasi karena B24 mau dipakai dosen. Ternyata, si dosen nggak mau dapet B33 karena AC-nya rusak. Minggu depan, secara mendadak B33 sudah digunakan oleh dosen yang lain. Akhirnya, saya dan seisi kelas pun mengalah dan pindah ke L205 (gedung Pascasarjana Fakultas Hukum). Usut punya usut, ternyata ini karena jadwal pemakaian ruangan di kantor administrasi gedung dan fakultas nggak sinkron. Zzz.

Belum Mandi Itu Biasa

Di suatu semester, jadwal saya ngajar hari Senin dan Selasa agak nggak enak. Senin jam 17:00-19:30 (setelah sebelumnya ngantor di iCreativelabs dari jam 12:00-16:00), Selasa jam 07:00-09:30 (lanjut ngantor lagi jam 10:30-14:30). Bisa ditebak, hari Selasa di minggu pertama saya bangun jam 06:30. Daaaammnn! Beres cuci muka gosok gigi ganti baju langsung berangkat, deh. Mana kampusnya jauh…

Dimarahi (+Ditunggui) Cookie

Pas jaman-jamannya sering rapat, saya berhutang budi banyak banget sama makhluk ini. Saking kuatirnya saya pulang malam, dia hampir selalu nganter-jemput. Atau lebih tepatnya, nganter-nunggu-nganter pulang lagi. Karena sering ada hal-hal nggak terduga di tengah rapat, estimasi pulang Magrib bisa jadi jam 23:00, misalnya. Si Cookie? Sendirian di pinggir jalan, cuma ditemani satu-dua bungkus rokok&headset, kesel luar biasa, tapi bergeming. Mau satu, tiga, lima, atau tujuh jam sekalipun (serius dia pernah nunggu sampai 7 jam), dia selalu nunggu. Kok mau-maunya, sih? Emang nggak ada kerjaan, apa? Iya, sampai sekarang pun saya nggak ngerti kenapa.

Salah Ngajar

Kadang, kalau dalam satu hari ngajar lebih dari satu kelas, atau ada kuliah, atau baru melakukan urusan lain yang bikin capek, yang namanya otak-tangan-lidah sering nggak sinkron. Baru sadar ketika satu-dua anak yang kritis memprotes, “Teh, itu bukannya hasilnya segini, ya?” “Itu kok kebalik, teh?” Kalau udah gini, yang bisa saya lakukan cuma ketawa, minta maaf, dan buru-buru meralat. Yah, asisten kan juga manusia ya adik-adik. :)

Disparitas Kapasitas

Apa itu disparitas kapasitas? Entahlah, saya juga nggak ngerti. Rasanya keren aja mencantumkan kata-kata sulit macam begitu. Mhuahahahaha.

Maksudnya, karakteristik mahasiswa dalam satu kelas itu beragam. Saya (dan 9 orang lainnya), masing-masing pernah kebagian ngajar kelas yang super brutal. Diterangin, ribut. Ditanya, diam. Padahal sebenarnya belum pada ngerti, sampai-sampai satu pokok bahasan harus diterangkan 2-3 kali. Disuruh ngerjain, eeh beberapa sibuk jalan-jalan ke bangku anak yang pintar. Alhasil, selama dua jam pelajaran si TA harus patroli keliling ruangan nonstop demi terciptanya kelas yang kondusif. Atau pakai jurus ampuh, “Kamu, jalan-jalan, minus 5%! Kamu, nyontek, minus 10%!”

Ada juga kelas yang suasananya adem, ayem, tentram. Diterangin, diam. Ditanya, diam. Dipaksa ngejawab, yang cowok aja ngomongnya bisik-bisik. Alhasil, harus banyak ngelawak dan mendorong mereka buat aktif biar suasana kelas nggak kayak kuburan.

Praktikan kurang pintar (=malas), pemalu, nggak tahu diri, tukang ngerayu, aktif, jenius, kritis… alhamdulillah banyak banget jenis makhluk-makhluk ajaib yang pernah ditemui.

Dan sejujurnya, menemui sosok-sosok haus ilmu itulah yang paling dikangenin dari menjadi FATA selama tiga semester kemarin. Selain sesi lab day, rapat, dan segala sesi mengoreksi berjamaah di A31 tentunya.

(Rangkuman kegiatan FATA 2008 sejak Juni 2010 s/d Desember 2011. Digambarkan secara baik sekali oleh Au.)

Love you guys.

p.s. I’m looking forward to our backpacking trip to Jogja on February 2012. Harus jadi dan komplit bersepuluh ya!!