Posts tagged akunpad2008.

Ke-ke-jutan Dobel!

Hari ini bangun jam 10:00 akibat beberapa malam lalu kurang tidur.

Udah kayak lirik lagu, “Bangun tidur ku terus mandi tidur lagi…”

.
Lalu, teringat sesuatu. Eleug siah, belum ngasih draft UP (Usulan Penelitian) ke Pak M selaku dosen pembimbing.

Ah santai saja lah, toh sidang kolokiumnya tanggal 11. Masih lama.

Satu suara di dalam kepala melawan, Sekarang aja, mumpung kamu nganggur.

Suara yang tadi, si Pemalas, bersikukuh, Sekarang jam berapa, hah?! Si bapak mana mau ditemui kalau udah siang begini. Menghitung waktu mandi, makan, di jalan, dll, paling cepat kamu sampai sana jam 12:00. Udah, besok aja.

Si rajin nggak mau kalah, Kan cuma ngasih draft, bukan mau bimbingan. Nggak apa-apa, susul saja ke kampusnya di Jl. Suci.

Akhirnya, si Rajin yang menang.

Singkat kata, sampailah saya di kampus Jl. Suci. ALHAMDULILLAH SEMPAT. Soalnya begitu pintu lift lantai 4 terbuka, tampak si Pak M hampir mengunci pintu ruangannya dan bersiap pergi. Telat 5 menit, harus datang besok, deh.

Beres? Yep.

Pulang? Suara itu datang lagi, Ngampus dulu, gih. Saya pun nurut.

Di kampus, begitu masuk RR-an, beberapa orang menyapa, “Selamat yeee akhirnya kolo(kium) juga!”

“Hehehe, kok tau?”

“Jadwalnya udah ditempel di SBA.”

What??? Bukannya sidangnya tanggal 11? Kok cepet amat tanggal 30 gini udah ditempel?

Ternyata oh ternyata, SIDANGNYA DIMAJUIN. Bukan tanggal 11 tapi tanggal 4.

Jadi, inikah alasan tadi ada firasat dadakan yang nyuruh ngampus? Huhuhu. Tapi masih untung tahu sekarang, nggak kebayang aja kalau baru tahu H-1.

.
Saya langsung galau. Soalnya belum punya blazer resmi (= dresscode sidang). Komentarnya @ddsantii, “Beli blazer dulu, gih. Biar pas belajar nggak kepikiran dresscode.” Hahahahah, that makes sense. Alhasil, saya langsung melaju ke BTC. Sendirian. Demi nyari blazer buat sidang 5 hari lagi. Dasar cewek. *ternyata blazer lebih urgent daripada bikin slide PPT*

Nah, ketika lagi berkeliaran di lantai dasar BTC, tiba-tiba kejutan kedua datang. Seorang cowok yang sebaya menghampiri, “Siang teh, bisa minta waktunya sebentar?”

Kirain sales. Tapi ada bordiran di polo shirt hijaunya bertuliskan: Greenpeace.

Saya mikir. “Berapa lama?”

Dia senyum. “Lima menit.”

.

Singkat cerita, *tadaaaaaaaaaaaaaaaa* you are reading a blog post from Greenpeace’s newly-recruited member. Ini kali kedua saya ditawari gabung, yang pertama kalo nggak salah sekitar 4 tahun lalu, di CiWalk. Tapi berhubung waktu itu nggak ada duit, nggak jadi donasi deh. Heheheh.

The boy, whose name is Yuda, explained to me about Greenpeace movement in Indonesia. It was legally started in 2006. I said to him that I know a few of their campaigns such as the “Ask Nestle to give rainforests a break” and Greenpeace’s effort to fight againts nuclear energy promotors who plan to build nuclear power plant in Indonesia. I asked Yuda about their campaign progress against BATAN. He told me that President SBY had promised that no nuclear power plant will be built until his period ends.

I think those two campaigns are impressive and touching. So, yes, I joined them.

  May 30, 2012 at 06:34pm

Parodi Bimbingan

  • Semenit sebelum pukul 07: 00 di suatu sekolah tinggi di Suci. Spotted: mobil yang bersangkutan di tempat parkir! Mita (MahasIswa Tingkat Akhir), buru-buru mencet lift buat naik ke lantai 4.
  • Harap-harap cemas, ia mengetuk pintu ruangan dosen dan melongok ke dalam.
  • Dosen (D): Masuk. --> memberi instruksi pakai isyarat mata dan tangan
  • Mita (M): Assalamualaikumm..
  • D: Walaikumsalam. Taroh atas meja aja, ya.
  • M: *nurut* Diambil kapan, Pak?
  • D: *bergumam* Pagi ini, laah.
  • .
  • Akhirnya Mita nunggu di tangga dekat pintu ruangan. Masih setengah sadar, efek begadang. Aha, untung bawa netbook. Bisa nyicil ngerjain bab selanjutnya.
  • D: *keluar dari pintu, otw toilet*
  • M: *awkward moment* *pura-pura ga liat*
  • .
  • Dua jam kemudian...
  • D: *keluar lagi dari ruangannya* Lho, kamu nungguin saya?
  • M: Iya, Pak.
  • D: *terbelalak, bingung, geli* Lah, kan saya bilang diambil Senin pagi aja..
  • M: ...
  • Satpam depan ruangan: *bengong dua kali lipat*
  • .
  • Rasanya? Kayak lagi syuting OVJ.
  April 21, 2012 at 12:11am

Rumput Tetangga Memang Selalu Lebih Hijau

Kalau diingat-ingat, udah lama juga nggak ‘nulis beneran’ di blog. Nulis beneran, dalam artian dengan diiringi proses berpikir yang cukup, bukan sekedar caption foto atau quote. Kali ini, alasannya sungguh terlalu klasik: skripsi. Bukan karena ngerjain skripsi itu menghabiskan 16 jam sehari, tapi rasanya energi menulis dan segala perbendaharaan kata udah habis aja buat dicurahkan ke situ. Doh.

Alasan kedua, bingung apa yang bisa ditulis. Lha wong hidupnya sehari-hari muter di skripsi dan Running Man (plus Cookie juga, deng). Boro-boro wisata kuliner, update tempat nongkrong dan jajanan terkini, atau jadi pemerhati ekonomi-politik dadakan di Twitter sewaktu kemarin BBM mau naik. My life nowadays is not too far from Words (thesis draft), Adobe Reader (reading journal), Excel (data calculation), and Google (references). Sooner or later, SPSS will be on my list, too.

Ngomong-ngomong tentang skripsi, alhamdulillah, kemarin Bab I saya diterima. Akhirnya, setelah lima kali bimbingan, empat kali tatap muka, dan tiga tanda tangan tertera di form bimbingan. Terharu sekali pokoknya, mengingat Danang & Echi (beda dosen) yang kemarin nunggu bareng di MAKSI udah daftar Seminar UP hanya dengan dua kali bimbingan saja. Ups, nggak boleh banding-bandingin. Ketika saya bilang “Lo sih enak, cepet lulus,” mereka bilang, “Lo sih enak, dikritisi secara mendetail. Jadi peluang dibantai pas sidang bisa diminimasi. Daripada gue, draft-nya aja kagak dibaca.” 

Jelas terlihat, betapa peribahasa rumput tetangga memang selalu lebih hijau itu benar.

Dan sementara saya mengeluh di sini, seorang teman yang lain lain (kita sebut saja Tebo) menumpahkan ‘kegembiraan’-nya dengan cara yang unik.

Saya: ‘Enak’ sama si bapak?

Tebo: Enak shin bimbingan sama beliau, gila itu kamu pas bimbingan dibentak-bentak selama sejam. Terus nggak mau sering-sering ketemu.

Saya: …

Tebo: Tapi doi baik lho, intinya kan biar kita ngerti. *nada lempeng*

Sesantai itu. Padahal saya aja kalang kabut. Bener ya kata orang, happiness is a state of mind.

Write you later, there are still 8 sustainability reports left to be analyzed. Siap-siap aja dashboard/browser-nya bakal sering dibanjiri dengan cerita remeh-temeh seputar skripsi. ;)

Note: foto ini nggak ada hubungannya, tapi adakah yang sekiranya berkenan untuk saling follow di Instagram? just find @theyanirma, then.

  April 06, 2012 at 07:31pm

Memahami.

Hi, thesis fighters.

Ketika nulis ini, saya lagi super senang. Akhirnya setelah empat kali bimbingan -dan dua kali ‘tatap muka’- tanda tangan di form bimbingan genap ada dua buah! Maaaakk. :’)

Di awal, kalau nggak salah habis bimbingan kedua, saya sempat kelabakan. Kok nggak ditandatangani, kok muter-muter di situ-situ aja, kok gini, kok gitu… Belum lagi kalau ditambah pikiran “Deadline bentar lagi, eleuh siah,” atau “Kalo gak lulus Juni ntar buat sidang doang bayar Rp2,000,000,” atau “Pengen lulus di umur 20 tahun,” atau “Pengen lulus biar bisa cepet kawin (haha),” waaa bawaannya mules. Nervous.

Apalagi kalau pake ngebanding-bandingin sama rekan sejawat (alah), sulit sekali buat nggak protes ke Tuhan, “Ya Allah, kok weighted average masa bimbingan orang lain cuma 2-3 bulan? Kenapa data historis dosen pembimbing saya 5-6 bulan?”

Di saat-saat seperti inilah, kalimat-kalimat motivasi basi mendadak terasa seperti oase:

  • Stop comparing your life to others
  • God will never give obstacles you cannot pass through
  • If there is a will, there is a way
  • Ada udang di balik batu… eh maksudnya, ada hikmah di balik setiap cobaan
  • *dan sebagainya*

Nasehat bijak a la Cookie, “Bawa enjoy. Ikuti aja apa maunya dosen kamu. Namanya juga kuliah, mau sepintar apapun kamu, dosen tuh dewa.” Ah, benar juga. Sesederhana itu, kok.

Mungkin, ini adalah rangkaian proses pendewasaan yang memang tanpa ujung. Mungkin, Tuhan ngasih ini biar saya belajar untuk menghargai proses. Mungkin, pengalaman ini harus ada agar suatu hari kalau saya jadi dosen, saya nggak mempersulit mahasiswa tanpa harus mengorbankan kualitas.

Lagi-lagi seperti kata pepatah: the sun must set to rise.

Atau seperti kata salah satu produk nutrisi diet: sure, you can do!

  March 30, 2012 at 08:27am

Rencana awal, kolo awal April. Tapi tadi, bimbingan kedua (yang off the record karena ybs menolak menandatangani) saja masih tersangkut di Latar Belakang. Perkara satu-dua kalimat salah, sisanya luput ditelaah. Errr. Ditambah debat masalah indikator, padahal data yg mendukung disodorkan di depan mata. Katanya, “Kita debat kusir”. Mungkin bapak iya, saya enggak. Penasaran, BPLHD Jabar seberang markas BBJB pun sontak disambangi. Untung sempat wawancara singkat dengan Kabid Laboratorium sebelum si ibu hengkang ke lapangan. Nah kan, argumen saya benar. Berarti tantangannya bukan sekedar di tujuh huruf namun juga di menaklukkan hati bapak. Tsah.

Dear self, mari besok kita coba lagi.

.

- 09:15, lamunan sebelum sarapan lontong kari

  March 20, 2012 at 09:37pm
Approved!

Approved!

  March 07, 2012 at 06:57pm

Mau Ke Mana Setelah Lulus Kuliah? ›

Baru inget pernah nulis artikel yang sempat mati suri ini gara-gara diberondong mention oleh @fgaeg @onnayokheng @erricgunawan @satryawp @aris_fm @ankgokils @_hiraq.

Artikel ini tertunda di-publish selama berbulan-bulan karena kedua narasumber utamanya, @fgaeg dan @onnayokheng, selalu mengelak kalau diwawancarai. Ngahahahaha. *devil’s laugh*

Dulu waktu nulis ini saya belum nyentang skripsi, belum ngerasain nyusun UP berminggu-minggu namun ditolak hanya dalam hitungan 5 menit (haha!), jadi belum ada beban. Enteng banget nulisnya. Sekarang pas dibaca ulang… *nyesss*

Lagi-lagi penggalauan akademik. :))

  March 05, 2012 at 06:07pm