Financial Accounting Teaching Assistants 2008 & our successors. ;)
Bottom left-right: yudha, josua, trio, rizma
Middle left-right: me, tyas, mpit, pipin, firda, fuza, hani
Top left-right: astrid, inu, au, aci, fay, suci, irma
Financial Accounting Teaching Assistants 2008 & our successors. ;)
Bottom left-right: yudha, josua, trio, rizma
Middle left-right: me, tyas, mpit, pipin, firda, fuza, hani
Top left-right: astrid, inu, au, aci, fay, suci, irma
tag: @rizmarachman, @saiaci, @pi2n, @aufarisia, @tyaswindya, @irmaryamah, josua, yudha, adek fuza.
Pensiun apaan di umur 20 tahun?. Maksudnya, terhitung Sabtu tanggal 17 Desember, saya dan sembilan orang Financial Accounting Teaching Assistants 2008 lainnya resmi berhenti ngajar kelas praktika rumpun Akuntansi Keuangan (Principle + Intermediate + Advanced, untuk seluruh prodi di FE Unpad).
Sedih? Jelas. Nggak ada lagi sesi lab day yang menguras otak (belajar + bergosip), emosi (iya, tiap minggu pasti adaaa aja orang yang ngeselin; termasuk saya hahaha), dan tawa (tiap minggu pun adaaa aja yang jadi korban di-bully). Nggak ada lagi duduk-duduk di belakang A31 sambil menyimak salah satu dari sembilan orang itu sedang mengajar.
Tapi ya sudahlah. Toh, pertemuan memang selalu berpasangan dengan perpisahan. Sekarang tinggal fokus ke skripsi dan mengejar target lulus masing-masing (<—bikin tambah galau).
Di tulisan ini, saya bakal nulisin satu-persatu hal-hal yang paling berkesan selama jadi FATA. Mudah-mudahan suatu hari nanti ketika saya mungkin sudah lupa, tulisan ini bisa jadi sebutir obat nostalgia yang mengharukan. So, please let me to. :’)
Sudah tahu kan kalau lokasi kuliah S1 Unpad itu terpencar di mana-mana? Untungnya, FE masih berkampus di Dipati Ukur. Sialnya, kapasitas ruangan kelas Kampus DU itu terbatas. Sialnya lagi, jumlah anak per angkatan makin banyak. Sialnya lagi (dan lagi), jumlah praktika pun diperbanyak secara nggak kira-kira dan sekaligus.
Alhasil, saya pun kena usir dua kali. Sejak proses tender kelas di awal semester, untuk kelas praktika X saya dapat ruangan B24. Minggu pertama masuk, diusir ke ruangan B33 oleh pegawai administrasi karena B24 mau dipakai dosen. Ternyata, si dosen nggak mau dapet B33 karena AC-nya rusak. Minggu depan, secara mendadak B33 sudah digunakan oleh dosen yang lain. Akhirnya, saya dan seisi kelas pun mengalah dan pindah ke L205 (gedung Pascasarjana Fakultas Hukum). Usut punya usut, ternyata ini karena jadwal pemakaian ruangan di kantor administrasi gedung dan fakultas nggak sinkron. Zzz.
Di suatu semester, jadwal saya ngajar hari Senin dan Selasa agak nggak enak. Senin jam 17:00-19:30 (setelah sebelumnya ngantor di iCreativelabs dari jam 12:00-16:00), Selasa jam 07:00-09:30 (lanjut ngantor lagi jam 10:30-14:30). Bisa ditebak, hari Selasa di minggu pertama saya bangun jam 06:30. Daaaammnn! Beres cuci muka gosok gigi ganti baju langsung berangkat, deh. Mana kampusnya jauh…
Pas jaman-jamannya sering rapat, saya berhutang budi banyak banget sama makhluk ini. Saking kuatirnya saya pulang malam, dia hampir selalu nganter-jemput. Atau lebih tepatnya, nganter-nunggu-nganter pulang lagi. Karena sering ada hal-hal nggak terduga di tengah rapat, estimasi pulang Magrib bisa jadi jam 23:00, misalnya. Si Cookie? Sendirian di pinggir jalan, cuma ditemani satu-dua bungkus rokok&headset, kesel luar biasa, tapi bergeming. Mau satu, tiga, lima, atau tujuh jam sekalipun (serius dia pernah nunggu sampai 7 jam), dia selalu nunggu. Kok mau-maunya, sih? Emang nggak ada kerjaan, apa? Iya, sampai sekarang pun saya nggak ngerti kenapa.
Kadang, kalau dalam satu hari ngajar lebih dari satu kelas, atau ada kuliah, atau baru melakukan urusan lain yang bikin capek, yang namanya otak-tangan-lidah sering nggak sinkron. Baru sadar ketika satu-dua anak yang kritis memprotes, “Teh, itu bukannya hasilnya segini, ya?” “Itu kok kebalik, teh?” Kalau udah gini, yang bisa saya lakukan cuma ketawa, minta maaf, dan buru-buru meralat. Yah, asisten kan juga manusia ya adik-adik. :)
Apa itu disparitas kapasitas? Entahlah, saya juga nggak ngerti. Rasanya keren aja mencantumkan kata-kata sulit macam begitu. Mhuahahahaha.
Maksudnya, karakteristik mahasiswa dalam satu kelas itu beragam. Saya (dan 9 orang lainnya), masing-masing pernah kebagian ngajar kelas yang super brutal. Diterangin, ribut. Ditanya, diam. Padahal sebenarnya belum pada ngerti, sampai-sampai satu pokok bahasan harus diterangkan 2-3 kali. Disuruh ngerjain, eeh beberapa sibuk jalan-jalan ke bangku anak yang pintar. Alhasil, selama dua jam pelajaran si TA harus patroli keliling ruangan nonstop demi terciptanya kelas yang kondusif. Atau pakai jurus ampuh, “Kamu, jalan-jalan, minus 5%! Kamu, nyontek, minus 10%!”
Ada juga kelas yang suasananya adem, ayem, tentram. Diterangin, diam. Ditanya, diam. Dipaksa ngejawab, yang cowok aja ngomongnya bisik-bisik. Alhasil, harus banyak ngelawak dan mendorong mereka buat aktif biar suasana kelas nggak kayak kuburan.
Praktikan kurang pintar (=malas), pemalu, nggak tahu diri, tukang ngerayu, aktif, jenius, kritis… alhamdulillah banyak banget jenis makhluk-makhluk ajaib yang pernah ditemui.
Dan sejujurnya, menemui sosok-sosok haus ilmu itulah yang paling dikangenin dari menjadi FATA selama tiga semester kemarin. Selain sesi lab day, rapat, dan segala sesi mengoreksi berjamaah di A31 tentunya.

(Rangkuman kegiatan FATA 2008 sejak Juni 2010 s/d Desember 2011. Digambarkan secara baik sekali oleh Au.)
Love you guys.
p.s. I’m looking forward to our backpacking trip to Jogja on February 2012. Harus jadi dan komplit bersepuluh ya!!
Izin nge-tag: Pak @aniesbaswedan & @pengajarmuda

Ada Apa dengan IM
Sejak Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar (biar gampang, mari kita singkat IM) mengadakan open recruitment-nya untuk menyaring Pengajar Muda angkatan pertama, saya selalu rajin stalking seluruh tindak-tanduk IM.
Karena kepo? Sebagian, ya. Sebagian lagi karena saya kagum luar biasa dengan filosofi IM. Terutama di bagian yang berulang kali diucapkan oleh Pak Anies Baswedan dalam liputan di berbagai media, “Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan,” dan “Mendidik adalah tugas konstitusional negara, tetapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik.”
Yang kalau dibalikkan berarti, mengutip tulisan salah satu Pengajar Muda di buku ini, setiap anak yang tidak terdidik adalah dosa bagi kita yang cukup mengenyam pendidikan –terutama yang bisa sekolah sampai bergelar sarjana.
*Jleb!*
Penasaran vs Sangsi
Selain karena kagum, sejujurnya saya pun penasaran. Bukankah bangsa ini terkenal baik dalam perencanaan? Bisa dilihat dari kampanye-kampanye politik, visi misi gerakan sosial yang mulia, jargon kampus yang konon bertaraf internasional, dsb. Yang sayangnya, seringkali jeblok di pelaksanaan.
Ya, saya penasaran apakah pelaksanaan IM akan sama terpujinya dengan filosofinya. Saya penasaran apakah IM bisa terus survive dalam jangka panjang dan sukses merekrut Pengajar Muda yang berkualitas dan berdedikasi tinggi. Saya bahkan penasaran apakah para Pengajar Muda akan berhasil menunaikan misinya di pelosok negeri yang hampir seluruh nama daerahnya nggak diketahui oleh penduduk Pulau Jawa. Seperti saya dan kamu.
Itulah beberapa alasan kenapa saya beli buku yang berisikan kompilasi kisah para Pengajar Muda di pelosok negeri ini.
Dan, alhasil saya malu sendiri setelah baca buku ini. Ternyata, pesimisme dan sinisme itu mulai menular. Ternyata, benak saya sudah dijejali oleh mindset materialistis-kapitalistis. Padahal, nggak seharusnya saya berprasangka begitu.
Tell you what, susaaaah banget untuk nggak terharu baca buku ini. Terutama kalau mengingat poin penting yang disinggung oleh seluruh Pengajar Muda tentang:
Klasik? Ya, memang. Namun nyata, bahkan masih relevan hingga hari ini.
My Fave Parts
Meskipun potret pemerataan pendidikan Indonesia masih jauh dari ideal, bukan berarti seluruh cerita di buku ini tentang kesedihan, lho. Ada banyak cerita lucu (seperti Firman BK yang disuruh menamai BAYI milik tetangganya yang baru lahir -hahaha), dan ada pula yang bikin trenyuh (seperti Sekar AN yang berhasil memboyong anak didiknya bertemu Pak Wapres Budiono).
Kisah yang paling menyentuh buat saya adalah cerita-cerita tentang betapa variatifnya tantangan dalam kegiatan mengajar. Tentang bagaimana si pengajar sudah menyiapkan yang terbaik namun masih ada kemungkinan disepelekan, bahkan dilecehkan oleh murid. Tentang seribu cara yang gagal belum berhasil untuk menciptakan suasana kondusif di kelas. Tentang bagaimana seorang pengajar harus pintar-pintar menyesuaikan tempo belajar-mengajar dengan kemampuan dan daya tangkap muridnya. Tentang ternyata seorang pengajar pun bisa merasa sakit hati, ketika muridnya nggak menghiraukan dia.
“Saya tahu, ada banyak kesalahan yang saya lakukan. Disebabkan saya yang kurang peka, saya yang kurang persiapan, saya yang kebingungan karena plinplan.
Ya, saya memang seorang guru, bukan malaikat yang bisa menyelamatkan hidup mereka seratus persen dari kesulitan. Dan, keseharian yang saya jalani adalah kehidupan seorang guru, bukan orang suci. Itu sebabnya saya belajar.”
–Nila PN, Pengajar Muda Tulang Bawang Barat
Kenapa itu yang paling menyentuh? Mungkin karena saya baca buku ini sambil mengawas para praktikan yang sedang review (semacam UAS di kelas praktika). Mungkin juga karena minggu ini adalah akhir masa jabatan jadi asdos yang nggak terasa sudah dijalani selama 3 semester. Mungkin karena lembaran testimonial dari para praktika yang walaupun hanya berisikan ucapan terima kasih dan sebaris doa, namun selalu sukses bikin air mata netes.
Walaupun tingkat kesulitan mengajar di kampus tentu nggak bisa dibandingkan dengan di pelosok daerah yang bahkan belum terjangkau PLN, I can simply relate those stories to mine. :’) * belum bisa move on dari rutinitas mengajar Senin-Jumat* *kok jadi curhat*
Intinya, “Indonesia Mengajar” is a must-have book. Buruan beli, gih!

Pepatah bilang, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”
Buat saya, itu belum lengkap. Kalau boleh nambahin sih, “Buatkanlah rumah untuk ilmu dengan mengajarkannya.”
Yup, selain (mudah-mudahan) bermanfaat buat orang lain, ternyata mengajar pun memberi manfaat lebih buat si pengajar. Ilustrasinya kira-kira begini,
Tanpa mengajar : ketika berusaha mengingat ilmu yang didapat bertahun lalu, rasanya seperti mencari sebuah dokumen di gudang arsip yang unorganized, yang di dalamnya ada puluhan kabinet, di mana tiap kabinet terdiri dari puluhan laci, dan tiap laci berisi puluhan sampai ratusan dokumen. Gudang arsip ini adalah analogi dari otak kita. Kira-kira, berapa lama tuh waktu yang dibutuhkan untuk mencari dokumen tersebut?
Dengan mengajar : ilmu yang pernah kita dapat itu ibarat bookmarks yang tersusun rapi di web browser kita. Dalam sekali klik, dokumen tersebut pun segera dapat diakses.
Awalnya, saya kira analogi di atas sekedar khayalan belaka. Eh, dasar gayung bersambut, waktu mampir ke sebuah toko buku dan iseng bolak-balik buku-buku di sana, ada hasil penelitian yang menyebutkan kalau perbedaan cara belajar akan berpengaruh besar ke tingkat pemahaman.
Setting penelitian itu adalah di SMA dan perguruan tinggi. Berikut ini hasilnya,
Kok bisa begitu? Alasannya sederhana. Sebab, orang yang akan mengajar pasti pernah dikuliahi, mencatat, mengerjakan tugas, dan berdiskusi dengan rekannya untuk mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan tak terduga selama ia mengajar.
Jadi, kalau ada ilmu yang rasanya sulit untuk dikuasai, cobalah buat mengajarkannya ke orang lain!
Selain itu, bukankah ilmu yang bermanfaat bagi orang lain itu nggak akan pernah putus baik di dunia ini maupun di kehidupan selanjutnya? :)
*Image by vagabondrhythm*
Satu tahun = 365 hari = 8760 jam = 525,600 detik
Kalau bayi, umur satu tahun harusnya udah mulai lancar berjalan. Kalau hamster, umur satu tahun berarti sisa usianya tinggal 2 tahun lagi (asumsikan ia panjang umur, ceteris paribus). Kalau kupu-kupu, umur satu tahun berarti… selamat anda kena tipu, karena rentang hidupnya hanya +- 1 bulan.
Mulai melantur. Intinya, saya cuma mau bilang,
Happy 1st anniversary Financial Accounting Teaching Assistants 2008!
[21 Juni 2010 s/d 21 Juni 2011]
Selamat ulang tahun, semoga berbahagia dan tercapai semua yang udah ditargetkan sejak awal. Bingung mau bilang apa buat kalian: wahai sembilan orang mantan strangers, mantan rival, partner terbaik, orang-orang paling cacat, kadang saking perfeksionisnya jadi nyebelin, tapi giliran lama gak ketemu ngangenin… Babak belurnya, suka dukanya, rieutnya, kocaknya, intimasinya, semuanya nggak akan pernah terlupakan. Bingung mau bilang apa, relasi kita gak bisa dijelaskan sekedar pakai kata-kata soalnya. Ah, kok jadi gombal gini.
Selamat ulang tahun keluarga keduakuuu, aslining (<—bahasa apa ini?) rasanya pengen ngakak melulu setiap dengar celetukan beberapa pihak tentang kita, “FATA itu strict banget, individualistis, ekslusif.. bla bla bla.” Alhamdulillah lah ya, anggap aja pencitraan gratis. Hihihi. #sampah


Sepuluh ceri. Meaning, hiji ewang.

Dear Rizma, bukannya mau kejam lho ngupload fotonya yang pas maneh lagi beli korek api di warung seberang gerbang PAAP. Tapi FB-nya Pipin kan dibajak Sinar Elektronik, jadi dia gak bisa upload foto yang dari digicam, deh. Gak pa-pa ya di-crop. :))

(masih edisi minta maaf ke Rizma) Sebagai gantinya, maneh nampang di foto kedua ini aja yaa. Eh tapi kok jadi kelihatan mesra banget sama Yudha? Tyas mau dikemanaiiiinn, ‘Ma??
*
Cape ah ngomong sendiri. Terakhir, ayo semangat menghadapi sisa masa jabatan kita yang tinggal satu semester lagi!
Nggak lupa, selamat buat delapan orang yang namanya tertera pada foto di bawah ini. Jangan sombong, jangan takut, jangan pernah berhenti belajar. Selalu ingat kalau kalian adalah tim, sampai akhir pun harus tetap berdelapan. Semangat! :)

Apa yang bisa bikin senyam-senyum, merenung, ngakak, introspeksi, bahkan cenat-cenut secara bersamaan?

Yup, buat saya hal itu adalah lembaran pesan&kesan yang ditulis secara anonim oleh para praktikan di akhir semester (atau Lab 10: Review). Walaupun yang ngegaji para asisten adalah pihak fakultas, tapi tetep aja stakeholders utama adalah praktikan karena mereka yang merasakan manfaat langsung dari praktika. Jadi, buat saya sih lembaran pesan&kesan ini mirip-mirip evaluasi kinerja, hehehe.
Semester ganjil kemarin pun ketika status saya masih TA magang sebenarnya udah dapat lembaran pesan&kesan. Tapi waktu itu ngajarnya cuma 1 kelas (=23 orang), bandingkan dengan semester genap ini di mana saya kebagian ngajar 4 kelas (=85 orang). Tentunya kumpulan pesan&kesan yang sekarang hopefully bakal lebih komprehensif.
Setelah menghabiskan berhari-hari menelaah, mengkaji, dan mempertimbangkan dengan seobjektif-objektifnya (ini nggak beneran kok :p), berikut ini adalah 10 opini yang sukses bikin saya termehek-mehek udah mengulek-ulek perasaan saya,
Selamat kepada para pemenang! Bagi yang merasa opininya nampang di atas, kamu berhak mendapatkan satu (1) buah Gery Chocolatos aneka varian rasa, pajak ditanggung penyelenggara. Hadiah bisa diambil di A31 pada hari dan jam kerja. Hadiah yang tidak dklaim sampai dengan tanggal 31 Mei 2011 dianggap hangus. :))