Posts tagged highschool.

Kembali ke tempat yg sama setelah 4+ tahun dan coretan alay ini masih ada. Delapan oh delapan. :’) (Taken with instagram)

Kembali ke tempat yg sama setelah 4+ tahun dan coretan alay ini masih ada. Delapan oh delapan. :’) (Taken with instagram)

#HF  #highschool  #love  
  May 26, 2012 at 12:51am
Past topic: boys, love life. Today’s: past topic AND job, salary, future. Beurat. #instadaily #instadroid #samsung #besties (Taken with instagram)

Past topic: boys, love life. Today’s: past topic AND job, salary, future. Beurat. #instadaily #instadroid #samsung #besties (Taken with instagram)

  May 19, 2012 at 01:49pm

The Failed Beauty Class

Kemarin, saya, @carmayden, dan @giovaniari datang ke #FemmeTalks nya @caring_colours. Awalnya, saya kira ini beauty class. Si Mamah, yang nyuruh saya dan Karin datang karena kasihan anaknya belum pernah ikut beauty class, pun mengira begitu. Jadi, Mamah tahu acara ini dari booth di sebuah swalayan. Sepik SPG-nya kira-kira begini, “Nanti dapat dua produk gratis, Bu. Satunya bedak two way cake, satunya lagi bisa milih antara eyeshadow atau blush on.” Si Mamah tertarik, “Ini beauty class, Mbak?” “Emm, semacamnya, Bu.”

Se-ma-cam-nya.

Later on, it turned out to be career-motivation seminar. And cosmetic products campaign. Terus dapet gratisan(?)nya cuma bedak. SPG kampret. Tapi ya sudahlah, we had fun. ;)

Oh ya, seminar(?) kemarin menghadirkan beberapa pembicara, di antaranya ada beberapa pemenang Caring Colours Young Professional Award (YCPA). Tiap peserta dikasih booklet yang memuat biodata, foto, kegiatan keseharian, dan wawancara dengan kedelapan wanita karier tersebut. Yang bikin si Qunyuq terbelalak adalah profil salah satu pemenang, yaitu VP Corporate Branding, Marketing & Communication di salah satu perusahaan asuransi ternama yang ternyata adalah… lulusan Arsitektur ITB. FYI, si Qunyuq ini kuliah jurusan Manajemen dan pacarnya jurusan Arsitektur. Jadi, perasaannya pasti… campur aduk.

Dear honorable architects, engineers, and agro/agribusiness graduates… why don’t you work in your own field?

- Sincerely, accounting and management graduates.

(http://instagr.am/p/JqqvOqrHvs/ | memanfaatkan photo booth yang sebenarnya khusus buat foto VVIP bareng Revalina dengan beli produk senilai Rp100.000 -___-)

(http://instagr.am/p/Jqr40frHgA/ | bedak two way cake)

(http://instagr.am/p/JrG-CKLHow/ | Revalina S. Temat. Lebih cantik dan langsing dari yang kelihatan di tipi ._.)

(http://instagr.am/p/JrHS6frHo4/ | nongkrong unyu di @Sugarush_bdg)

(http://instagr.am/p/Jr3pZ3LHlC/ | Parisian macaroons yang, kalau dimakan tiap hari, insya Allah bikin diabetes. it hurts because it’s too sweet. tapi nagih.)

Oh, Happy belated Kartini Day, Indonesia women! Tetaplah menjadi tiang yang kokoh bagi negara ini. :)

p.s. According to me, the coolest speaker was Mrs. Marlin Sugama (producer, writer, and co-founder of www.main-studios.com). She talked about the true meaning of ‘beauty’, the fact that Barbie’s body is not a human’s body, and how to protect our (future) children from such narrowed concept of beauty that attacks them 24/7. Agree, Sis!

  April 22, 2012 at 01:23pm

March 3rd, @ Dakken.

Last editorial meeting of #Masakpedia before submitting to @nulisbuku.

Can’t waiit ~

  March 16, 2012 at 07:07pm

Di Balik #Masakpedia

Pertanyaan yang belakang ini sering mampir di kuping saya adalah,

“Lagi sibuk ngapain?”

Yang biasanya dijawab dengan,

“Lagi mau rilis buku masak.. proyek barengan gitu bertiga sama sobat, hehehe. Namanya Masakpedia.”

Dan ekspresi orang yang bertanya kira-kira jadi begini » Щ(ºДºщ)

***

Jadi, apa itu Masakpedia? Buku resep? Hampir tepat. Buku asmara? Bukan. Tapi bisa jadi iya.

Mungkin lebih gampang kalau saya cerita aja awal mula lahirnya si Masakpedia ini ya, hehehe.

Kira-kira sejak dua tahun yang lalu, saya kepingin banget bisa masak. Well, who doesn’t? I mean, kalau masalah “pingin” doang sih semua orang juga pingin, ya nggak?

Nah, karena mencari excuses memang lebih gampang daripada tindakan, jadilah si keinginan tadi terkubur rapat-rapat di dalam diri.

Bulan Desember 2011, saya akhirnya nganggur. Tanggung jawab jadi FATA, beres (meskipun ternyata enggak, ntar deh ceritanya). Kerja di iCL, beres. Kuliah, beres. Bayangin, dari yang tiap Senin-Sabtu ada kegiatan pagi sampe sore bahkan malam, mendadak jadi nganggur. Shock nggak, tuh?

Lalu, saya pun ingat kalau ada cita-cita yang belum terwujud: be good at kitchen. Di suatu sesi sms-an sama si @giovaniari, ternyata dia pun sama. Motivasi kami berdua waktu itu sederhana: biar nggak malu-maluin di depan calon ibu mertua kelak. ;p

Setelah dua kali masak bareng, jeng @heyreea pun bergabung. Demi masak-masakan, tiap Sabtu dia bela-belain menempuh jarak kopo coret - buah batu regency via tol. Luar biasa pokoknya.

.

Tiap sesi memasak, kami menetapkan budget (maklum, anak Ekonomi) maksimal Rp25,000/orang. Namun, actual incurred cost-nya jarang banget nembus angka segitu. Paling di kisaran Rp15-20rb. Bayangkan kalau kami memilih belajar masak sendiri-sendiri, sekali masak bisa Rp45-60rb berarti. Memang budaya gotong royong itu harus dilestarikan.

Naah, di tengah sesi masak-memasak ini, saya sadar akan satu hal:

Rata-rata buku resep yang dijual di mana pun ditulis dengan asumsi orang yang membelinya sudah jago memasak

Ada beberapa alasan kenapa saya bisa mikir begitu:

  1. Petunjuk di buku resep biasanya singkat-singkat
  2. Kebanyakan buku resep nggak dilengkapi dengan foto
  3. Kebanyakan buku resep menggunakan bahan baku yang aneh-aneh dan mahal sehingga sangat tidak beginner-friendly
  4. Petunjuk di buku resep seringkali tidak membantu

Contoh untuk No. 4 adalah instruksi “Tambahkan garam secukupnya…”

Secukupnya itu berapa? 1 sdt? 1 sdm?

Atau, “Masak sampai setengah matang…”

Setengah matang itu yang bagaimana? Masak iya harus dibiarin dulu sampai gosong baru tahu keadaan setengah matang.

Begitulah. Untuk kalian yang memiliki ibu dan nenek yang jago memasak, mungkin ini bukan masalah. Tinggal tanya. Tapi kalau tidak? Atau gimana buat mahasiswa yang pada ngekos? Mau tanya ke siapa?

.

Dari sana, tercetuslah ide buat bikin Masakpedia. Sebuah buku panduan yang dapat digunakan oleh orang yang belum pernah masuk dapur sekalipun. Sebuah buku resep yang mudah dipraktekkan oleh siapa saja, dan terdiri atas berbagai macam “genre” masakan: snacks, homemade food, pasta, desserts & beverages, cakes-muffins-cookies.

Alhamdulillah, setelah melalui proses diskusi dan pembuatan selama +- 2 bulan, sekarang Masakpedia tengah dalam proses approval untuk dicetak.

Once it is available, Masakpedia akan tersedia dalam dua wujud:

  1. Buku, yang bisa dipesan melalui www.nulisbuku.com
  2. E-book, yang bisa dipesan dengan mengirimkan e-mail ke masakpedia@gmail.com

Keduanya memiliki konten yang sama, hanya wujud dan harga yang membedakan. Tenang aja, harganya menyesuaikan sekali dengan kantong pelajar, kok.

Saat ini, insya Allah tinggal menunggu hari sampai Masakpedia bisa dirilis. Wish us many luck, will you? ;)

  March 11, 2012 at 10:50am

Sepotong Cerita dari Taman Safari Indonesia

14-15 Januari 2011

Puncak Pass, Hotel Lembah Safari, Waroeng Shiefila, Taman Safari Indonesia

.

…Singkat cerita, our plan to enter TSI at 10:00 sharp was revised to 11:00. Who cares, yang penting ini Taman Safari Indonesia!!! Yang udah diimpi-impikan dari berbulan-bulan lalu, sekarang ada di depan mata. Yippey!

Sepanjang jalan yang didesain agar berliku-liku, berbagai hewan dibiarkan berkeliaran sesukanya di pinggir atau bahkan di tengah jalan. Kami yang cewek sontak teriak ketika moncong seekor zebra masuk ke dalam mobil, ngedumel ketika mobil sebelah melemparkan makanan ke depan mobil kami sehingga monyet-monyet yang menghampirinya bikin mobil nggak bisa bergerak, atau menahan nafas ketika badan gajah tur nyaris menggesek badan mobil KIA Picanto –yang mungkin banget terguling hanya dengan satu sentakan belalai. Sementara itu, yang cowok tertawa terpingkal-pingkal.

There, I realized that there will always a child’s soul inside everyone of us.

Ya, jiwa anak kecil yang kegirangan ketika seekor harimau putih terbaring lelap di pangkuannya, yang cukup puas melihat Dolphin Show meskipun hanya selama lima menit sebelum usai. ‘Anak kecil’ yang tanpa pikir panjang menghabiskan Rp100.000 berdua hanya untuk masuk ke kandang penguin, melemparkan ikan, dan membelai perut penguin.

Bahagia itu sederhana. *bukan hashtag Twitter*

–sepotong cerita dari total 1.151 kata di Ms. Word

The words have done their jobs. Now, it’s photographs’ turn. Enjoy! ;)

(the famous ubi bakar cilembu)

(lazy hippos wait for food)

(this corner reminds me of Angkor Wat)

(we called this “Prophet Noah’s Ark”)

(cuddling in cold haze. so cuuuute.)

(never too old for dolphin show)

(cultural exhibition: suku asmat from papua)

Thank you guys! Let’s do Karimun Jawa next time.

p.s. I intentionally overresized the last pic. LOL.

Had a wonderful Saturday with my girls @giovaniari and @heyreea. Cooked Rica-rica Meat, Nasi Gurih, and Cocktail Pudding.
Then, me and Ria were tempted to try one tablespoon each of this Traditional Sexual-enhancement Concoction (Ramuan Obat Kuat), an infamous beverage from Lombok - Indonesia. It was pure curiousity. :p
How did it taste, eh?
Just like ordinary honey, black cumin, and ginger. And no, we didn’t feel any weird reaction.

Had a wonderful Saturday with my girls @giovaniari and @heyreea. Cooked Rica-rica Meat, Nasi Gurih, and Cocktail Pudding.

Then, me and Ria were tempted to try one tablespoon each of this Traditional Sexual-enhancement Concoction (Ramuan Obat Kuat), an infamous beverage from Lombok - Indonesia. It was pure curiousity. :p

How did it taste, eh?

Just like ordinary honey, black cumin, and ginger. And no, we didn’t feel any weird reaction.