Posts tagged icreativelabs.

Mau Ke Mana Setelah Lulus Kuliah? ›

Baru inget pernah nulis artikel yang sempat mati suri ini gara-gara diberondong mention oleh @fgaeg @onnayokheng @erricgunawan @satryawp @aris_fm @ankgokils @_hiraq.

Artikel ini tertunda di-publish selama berbulan-bulan karena kedua narasumber utamanya, @fgaeg dan @onnayokheng, selalu mengelak kalau diwawancarai. Ngahahahaha. *devil’s laugh*

Dulu waktu nulis ini saya belum nyentang skripsi, belum ngerasain nyusun UP berminggu-minggu namun ditolak hanya dalam hitungan 5 menit (haha!), jadi belum ada beban. Enteng banget nulisnya. Sekarang pas dibaca ulang… *nyesss*

Lagi-lagi penggalauan akademik. :))

  March 05, 2012 at 06:07pm

#PiitStop as of Nov 28th 2011 minus @agoes82, @fgaeg, Mas Wahyu, @nanananadwi, @siimutii. :D


Left to right (bottom photo): @rinianggraini_, @satryaWP, Mas Rieko, @onnayokheng, @Aris_FM, Mas Irwan, Mas Andi, @anggikrisna.

#PiitStop as of Nov 28th 2011 minus @agoes82, @fgaeg, Mas Wahyu, @nanananadwi, @siimutii. :D
Left to right (bottom photo): @rinianggraini_, @satryaWP, Mas Rieko, @onnayokheng, @Aris_FM, Mas Irwan, Mas Andi, @anggikrisna.

Sampai Ketemu Lagi, @icreativelabs (Bagian II)

Sedikit Flashback

Sering ada teman yang nanya, ”Lo kerja di mana, Ta? Ngapain?”. Berhubung setiap kali saya jawab “Di iCreativeLabs Studio, nulis tentang WordPress e-commerce dan freelancing” para penanya 99,9% akan mengerutkan dahinya, jadi biasanya saya jawab “Di perusahaan kecil di bidang IT. Nulis keroyokan tentang apa aja, mulai dari artikel, iklan, web copy, tapi pakai teknik SEO.”

Pertanyaan pun berlanjut, “SEO? Makhluk macam apaan, tuh?”

Blablabla… semenit kemudian si penanya pun berlalu dengan puas.

Pertanyaan yang lebih sulit dijawab, dan untungnya lebih jarang ditanyakan, yaitu, “Bos lo kayak gimana orangnya?”

Hmm… *lirik Mas Anggi dan Mas Agus*

Biasanya sih, yang nanya begitu saya suruh googling aja nama Anggi Krisna dan Setyagus Sucipto. Hihihi. Ntar juga kebayang beliau berdua itu manusia macam apa. Soalnya, mereka sering diwawancarai oleh berbagai situs dan media massa.

Tapi, kalau boleh pakai perumpamaan yang baru terpikir di minggu-minggu terakhir kerja, menurut saya sih, Mas Anggi itu… visioner. Ibaratnya kalau rata-rata orang hanya bisa melihat bayangan gunung di kejauhan, maka Mas Anggi udah bisa melihat apa yang ada di balik gunung. Kadang saya nggak ngerti manfaat ngerjain X itu apa, eh ternyata beberapa waktu kemudian, si X ini udah jadi semacam standar kelayakan untuk tetap kompetitif. Nggak heran kenapa iCL bisa terus bertahan di pasar global dengan beberapa lini bisnis yang nggak ‘lazim’ seperti WordPress e-commerce.

Sedangkan, Mas Agus itu… bunglon. Mas Agus adalah lawan bicara yang superb untuk ngobrolin topik apa aja dengan siapa aja. Pernah suatu sore, saya dikasih petuah tentang reksadana dan bagaimana rata-rata CEO Fortune 500 memulai kariernya dari Marketing&Sales. Sayangnya, pola pikir kebanyakan orang tua Indonesia justru melarang anaknya berjualan dari kecil karena dianggap memalukan (sumpah ini ngena banget!). Buat yang penasaran, hobi Mas Agus adalah main Smurf di iPad 2.

Jadi, balik ke jawaban dari pertanyaan di atas, alhamdulillah yah kedua bos saya di sana adalah orang-orang super yang banyak memberikan pengetahuan baru yang juga super. ;)

Last But Not Least

Hari ini, Selasa tanggal 6 Desember 2011. Udah genap 8 hari saya nggak buka WordPress dashboard panel (/wp-admin/) dari seluruh situs di atas. Uhuk, kangen juga.

Terakhir, maaf ya mas-mas dan mbak-mbak sekalian kalau-kalau ada (banyak) salah ucap, perilaku, dan kata. Klasik sih, tapi nggak basi kok. Semoga sukses selalu! :)

p.s. Buat Teh Rini kalau kebetulan baca  tulisan ini, upload foto perpisahannya, dong! Heheheh

Sampai Ketemu Lagi, @icreativelabs

Kalau kebetulan ada yang ngeh, interval antara satu tulisan ke tulisan yang lain di blog ini selama beberapa bulan ke belakang agak panjang (baca: jarang update).

Apakah itu karena saya bosan menulis? Oh, tidak bisa. *logat Sule*

Jawabannya, karena hobi menulis di blog sementara saya alihkan ke profesi penulis di iCreativeLabs Studio. Mungkin ada yang pernah baca tentang Job+Hobby=Jobby? Hehehe. Ya, begitulah. Hampir tiap hari saya menulis artikel di RuangFreelance.com (tentang freelancing & career-related) dan Tokokoo.com/blog (tentang e-commerce). Kadang kalau diperlukan saya pun bantu-bantu nulis di WPCharity.com, WPNest.com, dan WooCommerceThemes.me.

Selain Ruang Freelance yang saat ini masih berupa website nirlaba, keempat website tersebut bergerak di bidang produksi dan pengembangan WordPress themes. Bingung kenapa theme yang nampaknya sepele bisa dijadikan bisnis? Waktu pertama kali ditawari pekerjaan ini, saya pun 100% nggak punya bayangan. Bener-bener hanya bermodalkan nekat, laptop, dan googling.

Mei – Nov 2011

Nah, kalau tugas sehari-hari di atas sudah kedengaran menarik, actually I haven’t mentioned the best part yetlingkungan kerja dan tim iCreativeLabs itu bener-bener juara! Kantor mana lagi yang:

  • Bosnya ke kantor pakai kaos-celana sontog (halo Mas Anggi :p),
  • Karyawannya tinggal di kantor (halo Mas Bhima & Aris :p),
  • Boleh ambil break tidur siang di ruang santai sambil nonton TV kabel (halo Mas Onnay yang 7 bulan lagi akan jadi bapak & Satrya :p),
  • Hobi berburu burung dan bunglon pakai air softgun sampai diinterogasi Pak RT gara-gara dikira itu senjata api beneran (halo Mas Reiko :p),
  • …dan bos yang satunya lagi sering kewalahan ngajak anaknya yang masih playgroup buat shalat Jumat (halo Mas Agus :p).

Selain nama-nama di atas, ada juga Mas Wahyu, Mas Andi, Teh Rini (Akunpad07), Muthia & Nana (Akunpad08 merajalela! hihi), dan dua developer yang tinggal di Yogyakarta: Mas Erric & Hiraq (-> belum pernah ketemu). Tinggal beda kota kok bisa kerja bareng on a daily basis? Wah, panjang ceritanya, kamu harus baca buku Rework karya Jason Fried dan David H. dulu.

Sebenarnya ada buanyaaak banget yang mau ditulis. Tapi gak tahu mau mulai dari mana. Mungkin intinya, saya mau bilang makasih aja buat semuanya. Enam bulan jadi penulis di iCreativeLabs Studio itu the truly “sesuatu” banget deh pokoknya. :”) Enam bulan break yang menyenangkan dari tetek-bengek perkampusan, tekanan sosial setiap ditanya “Gimana skripsinya?”, dunia perakuntansian yang juga menyenangkan tapi kapitalistis, dan tentunya makasih karena enam bulan kemarin banyak memberi ilham yang membuka mata saya tentang karier menulis di zaman revolusi teknologi seperti sekarang ini. Makasih, hatur nuhun, maicih. #eh

(foto-foto zaman buka puasa bareng di Restoran Seafood HDL 183. Agustus 2011.

*kenapa nggak ada yang sadar kamera?* maklum, sehari-hari bergaulnya sama komputer sih, bukan sama kamera. mentok-mentoknya paling berkutat ngedit foto orang lain di Photoshop. hihihi.)

…bersambung :D

Freelance Copycat

(image by IdekuHandmade.blogspot.com)

Apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar kata copycat? Sebal? Kesal? Benci? Eh, apa bedanya, ya.

Apa bedanya copycat dengan plagiat? Entahlah, secara spesifik saya juga nggak tahu pasti. Seingat saya, tuduhan “Copycat, lo!” biasanya dilontarkan ke peniru. Misalnya, kalau hari ini si A potong rambut a la Justin Bieber, lalu besoknya si B yang notabene satu lingkup pergaulan dengan si A langsung potong rambut model yang sama, si A akan sontak protes, “Eh, copycat deh, lo.”

Padahal, kalau saya jadi Justin Bieber, saya juga akan melemparkan tuduhan yang sama ke si A.

Sedangkan, plagiat biasa diartikan sebagai orang yang melakukan plagiarisme dengan mencantumkan karya orang lain tanpa menyebutkan sumber yang memadai (definisi a la suka-suka). Yang jelas, plagiarisme bisa berakibat tindakan legal (familiar dengan pencopotan gelar akademik beberapa orang profesor dari universitas ternama?), sedangkan saya belum pernah dengar ada kasus copycat yang sampai dibawa ke meja hijau.

Nothing Is Original

Sebenarnya, apa sih kriteria agar kita bisa menuduh seseorang sebagaicopycat? Apa yang dia copy? Mungkin si penuduh akan menjawab, “Dia meng-copy ide gue!” “Lah, memangnya ide itu lo dapet dari mana?” “…*hening*…”

Di film dokumenter Pirates of Silicon Valley, Steve Jobs dikatakan agak-agak terobsesi dengan pepatah terkenal yang konon diucapkan oleh Pablo Picasso, “Good artists copy, great artists steal.” Bahkan, logo awal Apple kabarnya menyerupai bendera bajak laut.

Masih ‘katanya’, Oscar Wilde di abad ke-19 juga pernah mengucapkan pepatah serupa, “Good writers borrow, great writers steal.” T. S. Eliot pun menuliskan hal serupa di bukunya pada tahun 1920, “Immature poets imitate, mature poets steal” (buat cari artinya silahkan googling hehehe).

Kenapa seniman sekelas Picasso bisa menyuruh orang lain untuk mencuri?

Jawabannya, bukan berarti Picasso (juga Steve Jobs, Oscar Wilde, dan T. S. Elliot) menyuruh kita menjiplak pemikiran dan hasil karya orang lain. Tapi, kita harus mafhum kalau setiap kreator adalah manusia yang dipengaruhi oleh karya-karya orang di sekitarnya, pengetahuan-pengetahuan yang diciptakan sebelum ia lahir, juga oleh zaman di mana dia hidup.

Pada dasarnya, nggak ada seorang pun yang 100% originalLive with it.

Good vs Great

Namun, meskipun kita sama-sama copycat, kita melakukan proses meniru dengan berbeda-beda, lho. Balik lagi ke perkataan bijak Abah Picasso, ketika kita menyerap ide orang lain lalu menggunakannya sebagai inspirasi karya kita, maka kita berada pada tahap good artists.

Ketika kita menyerap ide orang lain, menyaring nilai-nilai yang kita butuhkan, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang jauh lebih baik dengan menggunakan pemikiran kita sendiri, bolehlah kita menyamakan diri dengan apa yang Abah Picasso sebut dengan great artist.

Jadi, ketika kita menemui orang lain dengan ide serupa, jangan buru-buru menuduh dia copycat, ya. :D 

*seperti biasa, tulisan ini pun dipublikasikan di RuangFreelance.com*

  October 31, 2011 at 02:55pm

Belajar Marketing dari Iklan TV

Di zaman sedinamis ini, siapa yang nggak butuh buat menguasai ilmu marketing? Bahkan, konon Steve Jobs (alm.) dengan posisinya sebagai CEO Apple, Inc. pun selalu ikut andil dalam marketing dengan cara menentukan kelayakan tayang suatu iklan –dari mulai iklan full page di cover belakang majalah sampai di Google AdWords yang cuma 95 karakter– demi mempertahankan imej Apple, lho!

Kembali lagi ke iklan TV. Taruhan, pasti ada yang pernah mikir begini setiap sesi commercial break memotong sesi leyeh-leyeh Anda di depan TV,

  •  Ketika lagi nonton box office movie atau talkshow super menarik, “Aah, lama kali iklannya! Masa iya sekali jeda sampai lima menit, ggrrr..”
  • Ketika lagi nonton FTV yang ceritanya standar-standar aja, “Eh, tumben iklannya cuma dua biji. Nggak jadi ganti saluran, deh.”
  • Ketika lagi nonton acara rame tapi, ehm, kebelet, “Duh, kapan iklannya sih? Pengen ke toilet nih.”

Hampir seluruhnya dari kita sekedar memperhatikan durasi per iklan, siapa bintang iklannya, dan kadar ke-konyol/garing/lebay/keren-an iklan tersebut. Kebanyakan iklan pun berakhir jadi bahan obrolan dan guyonan dengan sekelompok teman. Tanpa sadar, beberapa kesan tentang produk yang memang ingin disampaikan melalui iklan tersebut pun sukses melekat di benak kita.

Hal-hal apa saja yang kita (sering) luput perhatikan dari iklan TV?

Yuk, diurai satu-persatu.

#1 Durasi Pendek Tapi Nendang

Dengan perhitungan yang hati-hati, setiap jeda iklan dibikin cukup annoying agar bisa jadi pusat perhatian tetapi masih tergolong aman sehingga meminimasi kemungkinan pemirsa pindah saluran. Sebagai gantinya, setiap iklan diatur agar berdurasi kurang dari satu menit. Pendek, namun cukup untuk bikin orang yang awalnya sama sekali nggak tahu-menahu tentang produk X jadi tertarik beli.

Bisa dipakai di   : bikin CV dan portfolio. Oh c’mon, calon klien nggak akan tertarik dengan SMP, SD, TK, atau bahkan Playgroup tempat kita bersekolah dulu. Selain itu, nggak semua aktivitas dan proyek perlu diceritakan secara mendetail. Cukup tonjolkan yang penting dan relevan dengan jasa yang kita tawarkan.

#2 Menggunakan ‘Bahasa Manusia’

Coba lihat iklan sepeda motor merk One Heart (hehehe). Mereka bisa lho menyebutkan serentetan teknologi canggih yang disematkan di sistem pengereman, pendinginan mesin, atau electronic fuel injection yang meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar.

Toh mereka justru menghindari memakai istilah-istilah teknis yang ribet dalam mengiklankan produknya. Sebab, meskipun terdengar keren, istilah-istilah demikian hanya akan menimbulkan kesan ‘jauh’ bagi si pemirsa. Apa gunanya bayar mahal demi iklan yang maksudnya hanya dapat ditangkap oleh segelintir orang?

Namun, bukan berarti istilah-istilah canggih tersebut 100% terlarang untuk digunakan. Kalau disisipkan dengan dosis yang nggak berlebihan, istilah-istilah ajaib itu justru bisa meningkatkan kepercayaan pemirsa. Misalnya saja dengan menyebutkan kalau produk X sudah lulus sertifikasi ISO 90001. Atau seperti cara si perusahaan air mineral dengan menyebutkan teknologi osmofilter-nya di setiap iklan. Biarpun nggak semua pemirsa tahu apa itu sertifikasi ISO 10001 dan osmofilter, kedengarannya lebih meyakinkan, kan?

Bisa dipakai di   : menulis untuk blog dan artikel di web. Percayalah kalau ‘bahasa manusia’ itu lebih ampuh dalam menggaet pemerhati.

#3 Tentang Kelinci Percobaan

Sedikit sekali orang yang mau jadi kelinci percobaan. Terutama untuk menjadi yang pertama untuk membeli barang dengan masa manfaat jangka panjang, misalnya kendaraan dan barang elektronik. Pada umumnya, kita hanya membeli suatu produk yang direkomendasikan oleh banyak orang di lingkungan sekitar. Itulah kenapa rata-rata iklan TV dilengkapi dengan testimonial pengguna dan pendapat pakar/ahli (yang sebenarnya kita nggak pernah tahu kredibilitasnya).

Bisa dipakai dengan       : menyelipkan kumpulan testimonial dari klien-klien di masa lampau di website.

#4 Fokus Ke Manfaat Bagi Pemirsa

Jangan bercerita tentang ‘apa yang kita jual’, tapi ceritakan tentang manfaat ‘apa yang mereka akan segera beli’. Kasih cukup alasan agar pemirsa sampai berpikir bahwa mereka akan rugi kalau nggak beli produk kita. Misalnya, beragam iklan pelembab anti aging, “Dapatkan produk yang terbukti lebih ampuh dari berbagai krim berharga jutaan rupiah. Berkhasiat untuk melawan tujuh tanda penuaan.” Saking ‘mengena’-nya, saya lebih sering lihat laki-laki beli produk ini dibandingkan dengan perempuan.

Bisa dipakai di   : deskripsi di halaman profil di situs portfolio

#5 Tentukan Imej & Konsisten

Kalau diperhatikan lebih seksama, setiap iklan TV nggak berhenti di deskripsi manfaat produknya bagi pemirsa. Mereka juga membangun sendiri imej seperti apa yang mereka ingin dapatkan, lho. Misalnya tagline iklan rokok Pria Punya Selera. Tanpa tagline itu, imej yang tercipta di masyarakat tentang produk rokok itu tentunya akan beragam dan di luar kontrol perusahaan. Selain mengedepankan imej, bersikap konsisten pun penting. Bayangkan kalau si rokok Pria Punya Selera tadi tiba-tiba mengganti tagline jadi Wanita Punya Selera di iklan selanjutnya. Membingungkan, kan?

Bisa dipakai di   : personal branding di berbagai social networking

Ternyata, hal-hal biasa yang lazim dijumpai di keseharian pun kalau dipelajari lebih lanjut bisa memberi ilmu baru, ya. Mudah-mudahan bermanfaat. :)

***

p.s. Tulisan ini juga dipublikasikan di RuangFreelance.com

Without persuasive web copy, a website owner would have to rely on luck alone. With the help of good copy, luck is less necessary. Good web copy is powerful - it can shape the actions taken by the thousands, or millions of people who read it.

“How to Write Great Copy for The Web” by Donna Spencer, Chapter 6 pg. 70