Posts tagged indonesia.

Just read that South Korea is the suicide capital of the world. My... ›

And I have this thought that they have better living due to less street criminality (no drunk motorcycle gang wander around in midnight whilst carrying samurai) and high-quality public transportation (as clearly shown in Running Man -lol)…

Well, there will always something to complain about.

salsabeela:

Just read that South Korea is the suicide capital of the world. My God!

Sociologists say a highly competitive atmosphere, uncertainty over the future, recession and crumbling traditional social networks are to blame for these awful numbers.

Uncertainty over the future?? They’re one of the fastest growing country in Asia. It should show some great prospect of future for the citizen. 

Korea, as a society, condones an incredible level of ruthlessness and cruelty to those who lose out in the social competition. It is not possible to understand the suicide issue in Korea without understanding this: modern Korean society is premised on competition at the level unfathomable for most people outside of Korea, and absolutely no mercy is shown to those who lose

*time to contemplate*

  May 12, 2012 at 12:12pm via salsabeela

Perempuan Indonesia dan Keberanian

A late post to commemorate Kartini day.

(picture by bobbye.knoll on Flickr)

Tulisan ini semacam peringatan Hari Kartini yang tertunda. Ehm, belum sampai satu bulan sejak 21 April, kan? Hehehe.

Di Hari Kartini beberapa hari yang lalu itu, timeline Instagram saya penuh sama foto-foto para ayah muda yang sedang menemani anak(-anak)nya ikut parade busana daerah keliling kota. Mendadak, saya ngerasa tua. Ya ampun, kapan ya terakhir dibangunin pagi-pagi, diseret ke salon, dipakein bedak yang putihnya kayak kapur, lalu naik becak yang dihiasi kertas krep berwarna-warni?Yang ada malah mungkin 10++ tahun ke depan saya yang nganter si ‘adek’.Lupakan.

Pada hari itu, saya ikut seminar yang bertajuk Femme Talks (itu loh yang awalnya dikira beauty class –SPG kampret!), di mana ada beberapa wanita karier inspiratif yang jadi pembicara. Salah satunya adalah mbak berhijab yang baru berusia 23 tahun dengan profesinya yang seksi: Staf Ahli Presiden RI. Poin yang lumayan bikin nyesek adalah ketika dia cerita “What do foreigners think about Indonesia women?”, jawabannya kira-kira begini:

  1. Pemalu. Nggak berani menyuarakan pendapatnya.
  2. Perempuan Indonesia itu… TKW!
  3. Cuma bisa menangani pekerjaan rumah tangga, atau kalopun kerja, ya mentok-mentok masuk bagian administrasi.
  4. Tidak berani menentukan pilihan hidupnya sendiri, sangat bergantung kepada orang tua dan/atau suami.

Poin kedua dan ketiga otomatis gugur, secara hampir seluruh mbak-mbak pembicara tersebut menduduki jabatan strategis di perusahaan yang berskala nasional.

Tapi, bagaimana dengan pilihan pertama dan ketiga?

Apakah kemandirian ekonomi otomatis diikuti dengan kemandirian menentukan pilihan hidupnya sendiri? Apakah keberanian berpendapat di tempat kerja otomatis diikuti oleh keberanian berpendapat di rumah tangga? Entahlah. Ini bukan pertanyaan yang gampang dijawab, butuh survei. Butuh data. Butuh teknik analisis yang mumpuni. *seketika teringat Bab III si tujuh huruf, shit -_-*

Mari ambil contoh. Tahu dong kalau di dalam pernikahan, salah satu ancaman terbesar adalah adanya orang ketiga? Tokoh utama: suami dan istri. Bertahun-tahun menikah, bertahun-tahun berjuang dari bawah demi kemapanan. Di saat si suami kariernya menanjak, datanglah (atau ‘dijemputlah’) perempuan lain. Kata peribahasa, makin tinggi pohon, makin kencang anginnya. Kata ilmu psikologi, ‘puber keduanya’ laki-laki, di saat usia menginjak kepala empat. Klasik.

Tahukah kalian, saat terjadi hal semacam itu, masyarakat Indonesia ini dapat dengan mudahnya menyalahkan si istri.

“Kamu sih, nggak bener ngurus suami. Jadinya ‘jajan’ di luar, kan.”

Lho? Ibaratnya, sudah ditabrak, dituntut pula. Mending kalau khilafnya sekali, lalu insyaf dan tidak mengulangi. Mungkin si istri masih bisa memaafkan.

Tapi kalau berkali-kali? Dan si istri hanya tutup mata, pura-pura tidak tahu, terus-terusan meyakinkan diri dengan harapan palsu “It’s okay”… semua demi yang katanya mempertahankan rumah tangga, kasihan ke anak-anak… padahal alasan utamanya adalah takut jadi aib keluarga besar dan bahan pembicaraan masyarakat… sedangkan kebersamaan di dalam rumah hanya secara fisik tanpa ada tegur sapa apalagi ikatan emosi… apa itu masih bisa diterima secara logika?

Di antara kalian yang membaca tulisan ini, beberapa mungkin berpikir, “Tokoh istri pada cerita di atas itu ibu rumah tangga, ya? Kalau gitu sih wajar, dia kan nggak punya penghasilan, bargaining power-nya rendah.”

Awalnya saya kira gitu. Kenyataannya, jadi wanita karier nggak otomatis memberikan bargaining power yang lebih baik di dalam rumah tangga. Buktinya, that scenario happens to one of my mom’s female friends yang, emm demi penyamaran identitas, mari kita bilang ‘pejabat’. Si tante ini kasusnya lebih parah. Selama beberapa tahun terakhir, suaminya tidak pernah memberikan nafkah finansial, let alone nafkah batin. Izin nyetir mobil aja nggak dikasih. Si tante membiayai seluruh kebutuhan anak-anak mereka dari penghasilannya. Suaminya pun selingkuh dan hobi morotin (apa sih bahasa benernya?) si tante.

Setengah bercanda, si tante curhat ke mama, “Untung aku sibuk, dia sibuk. Jadi kalau ketemu di rumah nggak perlu berlama-lama, hehehe.”

Mama nanya, “Ya ampun… Kalau gitu apalagi yang kamu pertahankan? Kenapa nggak cerai aja? Dengerin cerita kamu begini, toh kamu mandiri baik keuangan maupun psikologis.”

Si tante menjawab singkat, “Anak-anak.”

Padahal, di kesempatan yang lain, anak-anak si tante ini sempat protes, “Mah, kenapa sih nggak cerai aja?”

***

Pada akhirnya, saya bingung sendiri mau ngasih penutup kayak gimana. *garuk-garuk kepala*

Cerita yang ditulis di sini hanyalah satu dari sejuta. (Mudah-mudahan) Nggak semua perempuan Indonesia mengalaminya. Pastinya, nggak bisa digeneralisasi. Namun, inti ceritanya yaitu tentang dilema perempuan dalam menentukan pilihan hidup, pasti kita semua tahu rasanya.

Sedikit ajakan aja mungkin, ya. Yuk, jadi perempuan yang berani.

Berani bicara, berani bertindak, berani menolak, berani memperjuangkan kebahagiaan, dan yang paling penting: berani karena benar.

#life  #indonesia  
  May 06, 2012 at 02:19pm

The 2nd Indoor Theme Park in Indonesia

Just google the title and you’ll realize that I’m talking about Trans Studio Bandung. Yeay!

Me, Cookie, @carmayden, and @aditfurk managed to try about half of the rides. According to us me, the best rides were: Kong Climb (because it was my first wall climbing, hehehe), Marvel 4D Studio (well, you can’t go wrong with Marvel), and Yamaha Racing Coaster (the 37-second ride which felt like flying).

But strangely, we spent most time (1 hour out of 5,5 hours) in Science Center. *geek is the new rockstar* 

FYI, the roller coaster is no joke. It is claimed as the 8th fastest roller coaster in the world.

A few tips:

  • Eat first before you enter the theme park since: (1) you will need lots of energy, (2) the food sold in the area is either mediocre or overpriced.
  • Smuggle some snacks or beverages by tuck them in your jacket to avoid bag checking in the entrance. :p
  • Bring additional clothes so you can try Jelajah: the only ride that involves lots of water.
  March 29, 2012 at 10:59pm
“Urip sejatine gawe urup”
“Hidup seharusnya memberi kehidupan yang baik bagi sekitarnya”
“(One’s) Life is supposed to give good living to its surroundings”
.
Spotted this saying inside a souvenir shop at Malioboro Street, Jogja.
This is why we need to preserve our culture. :)

“Urip sejatine gawe urup”

“Hidup seharusnya memberi kehidupan yang baik bagi sekitarnya”

“(One’s) Life is supposed to give good living to its surroundings”

.

Spotted this saying inside a souvenir shop at Malioboro Street, Jogja.

This is why we need to preserve our culture. :)

#indonesia  #life  
  March 05, 2012 at 05:48pm

Visit DPD - Day 2

(the @iwearUP duo)

(ciyee boy band bauuwww)

Kalau kemarin saya udah cerita tentang hari pertama, kali ini saya bakal cerita tentang hari kedua alias puncak dari seluruh acara di Jakarta.

Hari kedua ini, acara mulai pukul 09:00. Kami ber-38 diundang ke Gedung DPD, tepatnya di Ruang Rapat Komisi I, untuk mengikuti diskusi panel. Pembicaranya ada tiga: Bu Siti Nurbaya (Sekjen DPD RI), Mbak Ira Koesno (Mantan host Liputan 6 SCTV zaman peralihan Orde Baru ke Orde Reformasi), dan Mas Irman Putra Sidin (Ahli Hukum Tata Negara yang sering mangkal di Metro TV dan TV One). Mbak Ira, yang saya tebak berusia dua tahun lebih muda dari Angelina Jolie ini ramping, cantik, dan kharismatik sekali, lho. Such an inspiring woman. *out of topic*

(Bu Siti Nurbaya)

(Mas Irman Putra Sidin)

(Mbak Ira Koesno)

Singkat cerita, beberapa poin yang dibahas di diskusi panel ini yaitu,

  1. Apa itu DPD RI. Apa beda tugas DPD dengan DPR, serta bagaimana DPD berfungsi menyeimbangkan DPR yang sekarang ‘kelebihan otoritas’.
  2. Tugas dan tanggung jawab DPD RI di atas kertas, dan sejauh mana kenyataannya berbunyi di lapangan.
  3. Kenapa DPD RI butuh amandemen kelima UUD ‘45 untuk memberikan kekuasaan lebih kepada DPD. Juga alasan kenapa DPD butuh kekuasaan lebih.

Di awal diskusi, Mbak Ira bertanya,

“Siapa di sini yang belum kenal DPD RI? Jujur aja, nggak akan mengurangi penilaian kok.”

Saya dan kira-kira setengah dari finalis angkat tangan.

Nyatanya, biarpun sudah berdiri sejak 1 Oktober 2004, DPD memang belum terkenal. Kita malah sering tertukar antara DPD dengan DPRD.

Di sini, Bu Sekjen cerita tentang beberapa pihak di badan pemerintahan lain yang tidak ingin amandemen UUD sampai terjadi karena takut kekuasaannya akan diserobot oleh DPD. Sayangnya, beberapa cerita off the record karena melibatkan sekelompok jenderal, dan orang-orang ‘seram’ lainnya. ;( *tapi saya ada rekamannya*

Lalu, Pak Gede (salah satu finalis dari Bali; beliau guru SMA) menyatakan dukungannya,

“Menurut saya, DPD ini ibarat anak kandung yang diperlakukan seperti anak tiri. DPD, DPR, dan MPR berasal dari induk yang sama: Republik Indonesia. Sama-sama untuk rakyat. Tapi, DPD seakan dikebiri!”

Saya yang cenderung apatis masalah politik cuma angguk-angguk kepala. Berusaha mencerna. Mas Irman beberapa kali membawa topik yang panas,

“Kalian harus sadar kalau republik ini bukan hanya milik segelintir orang. Bukan punya Nazaruddin, Angelina Sondakh, atau Anas Urbaningrum. Tapi, milik kita semua.”

“Sepuluh tahun lebih setelah reformasi, barulah kebenarannya terungkap. APBN ternyata hanya ditentukan oleh satu-dua orang yang berkedudukan di pusat (Jakarta).”

Wah, pokoknya menarik. Bahkan untuk sekaliber saya yang acuh tak acuh masalah politik negeri ini. Mungkin nanti saya bakal bikin satu tulisan tersendiri tentang isi diskusi panel tersebut. :)

Nggak terasa, diskusi panel disudahi pukul 11:30. Ngaret setengah jam, saking antusiasnya setiap orang untuk bertanya. Tiap cowok dapet sendal jepit Swal*ow gratis buat Jumatan. Yang cewek… main-main pakai mic, kamera, dan screen di ruang sidang. Soalnya, begitu pencet mic, pasti kamera secara otomatis langsung berputar dan menyorot mic yang sedang menyala. Kewl!

(playing around with equipments)

(the girls’ generation team.)

Mudah-mudahan itu peralatan sidang nggak pada rusak gara-gara kita pakai karaokean. :”) 

Sehabis Jumatan, tiba-tiba beberapa ibu-ibu staf DPD masuk ke ruangan dan menyuruh kita mengantri. Tanda tanya muncul di kepala, apa lagi nih?

Oh, ternyata bagi-bagi uang saku. Ada yang dapat enam digit, ada juga yang tujuh digit. Alhamdulillah sekali yah. Hanya saja ada sedikit hal yang mencurigakan.

Kenapa kita disuruh tanda tangan Surat Perjalanan Dinas? Bukankah tadi malam Bu Sekjen bilang kalau lomba ini didanai dari patungan pihak pimpinan?

Kedua, nggak satupun dari kami tahu rincian uang sakunya. Sebab, tiap orang dapat nominal yang berbeda-beda.

Merasa ada yang aneh, kami pun saling bergosip. Terngiang kata Ega (cewek), “Mungkin gini ya rasanya korupsi.. Terima-terima aja. Nggak bisa ditolak.”

Apakah ini penyelewangan uang negara? Wallahu’alam.

Dan kami pun terdiam. Krik.

***

Setelah seluruh cowok pulang dari Jumatan, kami makan siang. Di lantai satu, udah ada panggung, meja makan bundar bertaplak, makanan prasmanan, dan puluhan staf DPD. Ternyata siang ini sekaligus ada pengumuman pemenang lomba kesenian, kreatifitas(?), dan kebersihan bagi pegawai. Entah kenapa mengingatkan akan masa-masa SMP/SMA.

Pengumuman pemenang @LombaDPD pun dimulai. Ternyata, Mbak Ira Koesno itu bertugas jadi Ketua Dewan Juri juga! Dan salah satu kriteria pemenang adalah, “Mengerjakan PR untuk mempelajari tugas dan fungsi DPD.” Waduh, udah hilang harapan ini sih hahaha.

(candid photo of me and @istantinaa by @chintra. kalo ngefans bilang-bilang sih. ihik.)

Dan ketujuh pemenang yang masing-masing mendapatkan paket liburan dan gadget adalah,

Juara 1: Dwi Wahyudi dari Provinsi Kalimantan Barat 
Andai Saya Menjadi Anggota DPD RI Kalimantan Barat

Juara 2: Darma Agung Setya Irfiansyah dari Provinsi DIY Yogyakarta 
Optimalisasi Peran DPD di Daerah

Juara 3: Gede Putra Adnyana dari Provinsi Bali 
Kearifan Lokal sebagai Generator Juara 1: Monica Lora dari Provinsi Sumatera Utara @monicaloraa

Juara 2: Aldila Geri Istantina dari provinsi DIY Yogyakarta @istantinaa

Juara 3: Mochamad Fajar Nugraha dari provinsi DKI Jakarta @mfnugraha

Juara favorit: Rosiva Dewi dari Provinsi Sumatera Utara Seandainya Saya Anggota DPD RI

Selamat untuk kalian bertujuh!

Selepas pengumuman pemenang, 31 orang yang nggak menang bukannya jadi lesu. Namun, justru tambah bersemangat. Sebab, masih ada peluang memenangkan #VisitDPD Live Tweeting Competition yang pemenangnya akan diumumkan nanti malam ketika dinner. Ibaratnya, lomba di dalam lomba.

Sekarang, kami akan pulang dulu ke hotel. Lalu, dijemput lagi sekitar jam 18:30 untuk dinner di tempat yang dirahasiakan.

“Emang ntar tempat dinnernya di mana, Mas?” *nanya panitia*

“Di Ancol.. Bagus kok tempatnya.”

Ancol? Tempatnya bagus? Hmm, could it be Segarra? We’ll see.

Yang penting sekarang mandi dan leyeh-leyeh dulu. Badan rasanya udah cepel (=lengket) dan capek.

Jam setengah 7, kami berangkat.

Oops, it’s Friday night! Dan… Jakarta oh Jakarta, macetnya itu nggak ketulungan. Berhubung kita menuju ke Jakarta Utara, jalan lumayan lengang. Sedangkan yang ke arah Jakarta Pusat khususnya di sekitar Mal Taman Anggrek, beuuuh, nggak gerak!! Kok ya tahan.. kok ya mau.. *geleng-geleng pala*

Tiga bus yang membawa para finalis dan panitia pun memasuki kawasan Ancol. Terus masuk, teruuus.. dan saya baru nyadar kalau Ancol tuh luas. Mendadak terlihat papan restoran cepat saji A&W. Saya pun nyeletuk, “Jangan-jangan udah jauh-jauh di Ancol, kita makannya di A&W?”

Kata Bella, “Enggak, lah. Kita di sini diputerin doang. Makannya ntar tetap dihotel.”

Se to the tres. Setres! Hahaha.

Dan tempat misterius itu ternyata adalah… *jeng jeng* SEGARRA. As predicted.

Saya pikir panitia bakal nyewa organ tunggal terus dangdutan. Ternyata kali ini pakai DJ, cuy. Apa kita bakalan dugem?

(“toilet transgender di mana?”)


Kami pun makan dengan kesetanan. Iga bakar, cake, salad, bbq, segala dilahap. Harus diakui kalau makanan di sini jauh lebih enak daripada di hotel.

Sehabis makan, tibalah momen yang mendebarkan itu… juara live tweeting. Pak Uddin yang mengumumkan,

“Pemenang live tweeting ini adalah perempuan…”

Yaaah, seru para cowok. Saya masih ngunyah iga bakar. Nothing to lose, lah. Udah dapet uang saku juga.

“…username Twitter-nya diawali dengan huruf ‘T’.”

Glek. Ah, stay cool.

“Selamat kepada Mbak Shinta Yanirma! Kepada Mbak Shinta kami persilahkan ke depan.”

Alhamdulillah nggak keselek. Semua orang satu meja langsung bersorak. Hehehe, thank you guys.

Apa hadiahnya? Alhamdulillah dapet camdig Sony cyber shoot. XD

(sedikit komedi paska pengumuman pemenang. yayaya, shinta ke chintra emang deket sih.)

***

Oh ya, ternyata kami nggak jadi dugem (siapa juga yang bilang??). Jam 09:30, kami sudah duduk manis di bus bersiap pulang. Kecapekan yang berpadu apik dengan kekenyangan, semua orang hening sepanjang perjalanan pulang.

Sekian cerita singkat dari lomba dengan peserta terbanyak yang pernah saya ikuti. Dari 1,612 peserta, hanya 40 (atau tepatnya 38) yang mendapat undangan ke Jakarta. Diperlakukan serta didengar sebagai teman, tamu, dan orang dewasa oleh negara. Meskipun kualitas pelayanan hotelnya busuk (i’ll also tell you about this on another post), we couldn’t ask more for the service given by the committee… kami benar-benar merasa dihargai. :)

Guys, malam itu mungkin malam terakhir kita. Mungkin kita baru kenal 3 hari 2 malam. Tapi percayalah, rasanya kayak udah kenal lama. Bicara soal menang kalah: put all those prizes aside, kita semua adalah pemenang.

I’ll see you around.

.

Om santi, santi, santi om.

#VisitDPD - Day 1

Tanggal 16-18 Feb ini, saya dan 37 orang Top Finalists #LombaDPD (angkatan pertama) lainnya diundang ke Jakarta oleh DPD RI. Mau tahu apa aja yang terjadi? Monggo disimak.

Angkatan pertama adalah angkatan percobaan. Belum ada SOP Penyelenggaraan Acara, rundown bisa mendadak direvisi, sampai baru diberi tahu prosedur pemesanan tiket H-1, adalah hal yang lumayan lumrah terjadi pada pilot project manapun. *curhatan orang yang sering jadi bagian dari pilot project*

Termasuk di Lomba DPD ini. Agak was-was rasanya ketika H-2 belum diberi tahu gimana cara mesen tiket, apakah disediakan oleh panitia, atau kita beli sendiri lalu di-reimburse. Alhasil, berangkat hari Kamis jam 07:00, tapi saya baru mesen tiket travel hari Rabu jam 19:00. Untung saya tinggal di Bandung, yang bisnis travel Jakarta-Bandung laris manis sejak Tol Cipularang dibuka. Lah, kalau yang dari daerah lain bagaimana?

Untungnya, seluruh finalis bisa berangkat. Kecuali satu orang ibu yang batal berangkat karena anaknya sakit keras. If you read this @m1sh44, semoga anak Mbak cepat sembuh ya. Amin.

Singkat cerita, saya nyampe kepagian. Jadwal check in di Hotel Sultan jam 13:00, eh saya udah nyampe di pool Transline Plaza Semanggi jam 10:00. Akhirnya, 2 1/2 jam saya habisin window shopping sendirian di sono. Mana sendirian, mana kucel, mana banyak barang bawaan. -_-

(makan, makan sendiri~)

O ya, mall di Jakarta buka lebih siang (jam 11:00+) daripada di Bandung (jam 09:30+), ya. Sedetik pertama, yang kepikiran: orang Jakarta pemalas! Detik berikutnya: atau justru mereka terlalu sibuk di pagi hari jadi jarang yang ke mall? Berarti orang Bandung dong yang pemalas, hahahah.

Jam 12:30, saya memutuskan untuk berangkat. Masalahnya, naik apa? Lalu, petunjuk dari supir travel tadi pagi melintas di kepala.

Hotel Sultan mah deket, Neng! Tinggal nyebrang.

Di GMaps sih emang deket. Tapi saya ragu. Ternyata pas nanya ke satpam, “Setdah jauh beuuud you know jalan kaki ke Hotel Sultan tuh! Mana gerah gilak begonoh.” Tuh kan! Yaudah akhirnya saya naik taksi. *say good bye to IDR18,000*

Pas mau masuk ke hotel, security menatap saya curiga. Sambil mem-block jalan, dia nanya, “Ada keperluan apa ya Mbak?”

Ekspresinya itu lho, jauh dari kesan welcoming. Dipikir saya mau maling apa ya, “Saya diundang oleh DPD RI.”

“Oh, baik. Ke Lobby ASEAN, ya.”

Di lorong, ada meja panitia Lomba DPD. Thanks God, mereka jauh lebih ramah daripada si security tadi. Saya langsung disuruh check-in, dan dikasih goodie bag guede banget.

(foto milik @arryeka, si fotografer sejati. dicomot tanpa sepengetahuan ybs. :p beberapa suvenir yang gak ada di foto di atas: polo shirt, kalender, mouse pad, key holder)

Di sini, saya kenalan sama @trimuttt yaitu calon teman sekamar dan @EgaGenggong yang dari jarak 15 meter pun dapat dikenali mengenakan wedges keluaran @iwearUP. Nggak pake basa-basi saya nyeletuk, “Sepatu kamu Up, ya? Iih, sama.” Dasar cewek, kalau udah ngomongin begituan ya pasti nyambung. :p

Kirain, kami bisa boci (bobo ciang) dulu. Negatif. Instruksi Mas Iky, “Kalian naroh barang di kamar, makan siang, terus langsung kumpul di lobby, ya. Kita berangkat jam 14:00 ke Sidang Paripurna.” Waktu menunjukkan pukul 13:35.

Yang kami tafsirkan: naroh barang, ganti baju, dandan, makan siang, berangkat.

“Oke.”

(today’s lunch: chocolate mousse + sashimi)

Singkat cerita, sampailah kami di Komplek MPR/DPR/DPD-RI. Lalu, kami menunggu di Press Room sambil Pak @uddinsyiar (Kepala Pusat Data dan Informasi) mengabsen kami satu-persatu dan membagikan sertifikat finalis. Tak lupa, Pak Uddin selalu mengaku-aku setiap finalis cewek sebagai anaknya, dan memberi pesan sponsor, “Jangan lupa follow saya.” HAHAHA

Setelah semua terabsen, kami pun masuk ke Gedung Nusantara V di mana Sidang Paripurna berlangsung. Tapi karena sidang dimajukan jadi jam 09:00 pagi, kita cuma di dalam selama 20 menit, deh.

(di dalam Gedung Nusantara V)

(bersama si “adek”)

Pembicara terakhir adalah politisi Hanura, Pak Bambang Suroso. Yang saya tangkap hanya, “78% masyarakat menggantungkan harapan terhadap DPD,” dan “Perlu ada perubahan di dalam sistem ketatanegaraan kita.”

Oh ya, itu pertama kalinya juga saya tahu salam sambutan “Om swasti astu” dan salam penutup “Om santi santi santi om” yang digunakan di setiap jeda speech di DPD RI. Esoknya, saya baru tahu dari Pak Gede (guru SMA, orang Bali) apa arti kedua salam yang menggetarkan hati itu.

Om Swastiastu mean : Hope you welfare in the name of God.
Om Santi, Santi, Santi mean : Hope you always in peace in the name of God.

Sumber

Menurut Pak Gede, tiap ‘Santi’ memiliki arti yang berbeda. Santi yang pertama, damai di dunia. Yang kedua, damai di kehidupan nanti. Yang ketiga, damai selamanya. *mudah-mudahan gak salah ingat*

Woo, no wonder rasanya merinding tiap dengar dua salam ini.

Puas foto-foto sampai diusir secara halus, kami keluar. Foto-foto lagi, sampai Pak Irman Gusman (Ketua DPD RI) menghampiri kami, menyalami satu-persatu, dan membagikan buku beliau secara gratis, “Di Gramedia, harganya Rp185,000 lho, Dik. Lumayan.” Konon, nanti beliau mau mengadakan lomba resensi bukunya juga. Yang menang dapat hadiah, sekalian bukunya dipromosiin di blog masing-masing. Bisa aja nih si bapak. Beberapa saat kemudian, Bu Siti Nurbaya (Sekjen DPD RI) bergabung dan kita foto-foto bareng di depan air mancur.

Kerennya, beliau berdua dengan sabar meladeni kami, generasi muda yang narsis, untuk berfoto masing-masing, lho. Begitu nggak ada yang minta foto lagi, baru deh beliau berdua pamit pergi. Coba deh bayangin kalian jadi mereka, pimpinan lembaga legislatif negara. Sibuk, tapi harus melayani yang macam begini:

“Pak, boleh saya minta foto sama Bapak?”

Dijawab dengan ramah, “Boleh, boleh. Sini. Kamu dari daerah mana?”

*jepret-jepret*

Beberapa saat kemudian, “Saya juga ya, Pak.” Sambil nyengir memaksa.

Begitu terus sampai 38 kali. *tepuk tangan*

(muka kucel nggak masalah, yang penting poto bareng Pak Irman Gusman)

Oh ya, berbeda dengan DPR yang menetapkan dresscode jas dan dasi untuk Sidang Paripurna, DPD menetapkan dresscode batik. Makanya kita semua berbatik.

(para fotografer. pahlawan tanpa tanda jasa yang jarang sekali ikut terfoto)

(saya, meli, tri, ega. paling kiri dan paling kanan: duo wedges keluaran Up. lol.)


Puas foto-foto, kami pulang ke hotel. Saya dan si Tri (teman sekamar yang saya panggil “Adek”) memutuskan suit untuk menentukan siapa yang mandi duluan.

Habis mandi, lalu makan malam. Yang berlanjut sampai larut malam. Biasa, di mana ada acara makan bersama, pasti ada organ tunggal. Saling tunjuk buat menyumbangkan lagu (yang kata salah seorang finalis, ‘membuat lagu jadi sumbang’). Awalnya pop, lalu keroncong, lalu… dangdutan all night long.

(stella, bella, tri, saya. bella ini calon air controller lho. jarang banget kan yang cewek. *keprok tangan*)

Hidup Indonesia!

SimpleLife: Digdaya Bagaimana? ›

REBLOG SEJUTA KALI (Y)

arrizapasha:

Indonesia sebagai negara dengan populasi sekitar 245 juta jiwa merupakan negara muslim yang diperhatikan keberadaannya sekaligus diwaspadai perkembangannya oleh dunia. Pertanyaan :

Apa kita sudah demikian hebat?

Kalau kita liat HDI (Human Development Index), Life Expectacy Index,maupun Income Index Indonesia masih jauh dibawah rata-rata negara muslim lain. Bahkan rata-rata index negara-negara muslim pun masih dibawah index rata-rata negara-negara dunia. Apalagi Kita dengan dunia. See

Organization is matter of people. A Country is a ‘big’ organization. So, it’s reasonable to encourage its citizen to become stronger and stronger. rakyat kuat maka negara tidak lemah.

Salah satu pendapat agar kita menjadi negara digdaya dalam perekonomian adalah dengan menguatkan perekonomian masyarakat kelas bawah dan menengah. Bukan fokus mendukung perekonomian kelas atas ataucorporate besar. Kenapa?Karena secara populasi, merekalah porsi terbesarnya. Mereka yang sudah besar sudah bisa ‘mandiri lagi mapan’. Perhatian kepada mereka sudah tidak perlu intense. Perubahan di Indonesia terjadi karena society driven (contoh : reformasi 1998, Adanya Bank Syariah; tapi bukan berarti mengecilkan peran pemerintah yang sama pentingnya). Masyarakat ekonomi Kecil dan menengah memegang share terbesar dari populasi. Kalau mereka kuat, secara perlahan Indonesia pun akan terbawa kuat dengan sendirinya. Kebijakan yang ‘friendly’ kepada masyarakat kecil dan menengah harus lebih diutamakan dari kebijakan yang selalu menguntungkan mereka yang ‘besar’. Bukankah kemashlahatan umum lebih diutamakan dibanding kemashlahatan sekelompok orang? 

Kunci kedua adalah penguatan sektor riil. Tokoh nasional kita pernah bilang kalau Bursa Efek itu penting tapi Jauh lebih penting tanah abang. Aktifitas perekonomian itu sederhananya adalah jual-beli. Ruhnya ada disana. Bukan transaksi-transaksi keuangan yang hampa. Monetary sectorada untuk mendukung berjalannya real sector. 

Tidak ada yang tidak mungkin bila Tuhan telah menggariskan ketentuan-Nya.
Indonesia bisa jadi Digdaya!