Posts tagged love.

Kembali ke tempat yg sama setelah 4+ tahun dan coretan alay ini masih ada. Delapan oh delapan. :’) (Taken with instagram)

Kembali ke tempat yg sama setelah 4+ tahun dan coretan alay ini masih ada. Delapan oh delapan. :’) (Taken with instagram)

#HF  #highschool  #love  
  May 26, 2012 at 12:51am

The Tale of Ibe

“Be strong, because the beginnings to great things are always the hardest.”

(http://instagr.am/p/KY7QLTrHqR/)

.

Namanya? Sebut saja Ibe.

Pagi tadi, ia bergegas mendatangi mobil “SIM Keliling” di saat anak-anak sekolah baru saja duduk manis di kelas. Pagi tadi adalah ketigakalinya. Meskipun ia selalu datang paling awal, kunjungan pertama dan keduanya gagal berbuah SIM sebab formulir pendaftaran sudah habis dijualbelikan sejak sehari sebelumnya. Maklum, di negeri ini, upaya baik untuk memberikan pelayanan publik entah kenapa sulit sekali untuk lepas dari oknum petugas yang merangkap calo.

Sembari menunggu petugas pendaftaran yang datang pukul 08:00, datanglah seorang ibu paruh baya. Dalam sekejap, mereka berbagi cerita. Seseorang pernah bilang, semakin tua laki-laki, semakin cerewetlah ia. Ibe, meskipun usianya baru 28 tahun, pada kenyataannya tak sungkan membagi cerita hidupnya dengan orang yang baru dikenalnya.

Cerita berawal ketika Ibe mau masuk SMP. Ia merengek minta ngekos kepada orang tuanya. Orang tuanya nggak merestui. Nekat, ia pergi merantau sendirian ke Bandung. Ditolak ngekos di sana-sini karena dianggap kabur dari rumah tidak membuatnya mengurungkan niat. Entah bagaimana, he survived. Menginjak SMA, ia membiayai hidupnya dari menjadi sopir angkot cabutan. Katanya, pada masa itu sopir angkot dapat membawa Rp100.000 (bersih) ke rumah. *sibuk ngitung, berarti kira-kira itu tahun 1999-an* Lumayan kalau dibandingkan dengan harga-harga dan nilai tukar USD pada masa itu.

Lulus dari SMA, Ibe terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Arsitektur salah satu kampus negeri di Bandung. Oh ya, orangtuanya akhirnya tahu ia pergi ke mana dan sekolah di mana.

Menurut Ibe, mahasiswa di jurusan tempat dia kuliah memang terkenal dengan gaya yang “nyentrik”, baca: rambut gondrong sebahu, jeans belel, dll. Yaa, arsitek sama seniman ada sedikit kemiripan, lah.

Nah, semasa kuliah, Ibe punya pacar. Cewek. Berjilbab. Santun (kalau dibandingkan dengan gaya si Ibe pada masa itu). Dan… ayahnya tentara.

Ayah kekasihnya ini nggak merestui hubungan mereka. Si Ibe sempat diculik dan disekap selama tiga hari. Plus disiksa! Semua demi memutuskan ikatan cinta mereka. *alah*

Demi kebaikan mereka berdua, Ibe dan ceweknya itu putus baik-baik. Mereka bikin janji untuk ketemu 1,5 tahun lagi, setelah lulus kuliah dan mandiri, dengan harapan ayah si cewek akan merestui.

Siapa sih yang bisa menjamin apa yang bisa terjadi dalam waktu 1,5 tahun? Jawabannya, nggak ada. Yang LDR aja bisa putus, apalagi mereka yang nggak kontak-kontakan. Logikanya begitu.

Nyatanya, jodoh memang nggak kemana. 1,5 tahun kemudian, mereka bertemu lagi, jatuh cinta lagi, dan segera berencana menikah. Ibe memberanikan diri melamar pujaan hatinya. Tak terkesan ragu sedikitpun, ayah si cewek pun… menolaknya untuk kedua kali. Tanpa alasan yang jelas.

Namun, kepala KUA di tempat tinggal mereka justru mendukung Ibe dan ceweknya untuk tetap menikah meski tanpa persetujuan ayahnya. Yup, Islam memperbolehkan kok untuk kasus darurat seperti ini. Ibe, ceweknya, dan keluarga besar Ibe pun mempersiapkan hari pernikahan dengan sebaik mungkin.

Percaya nggak percaya, permasalahannya nggak tuntas sampai di situ. Di hari H, ketika Ibe dan wali hakim sudah duduk berseberangan dan siap mengucap ijab kabul,

…tiba-tiba,

…ayah si cewek datang!

Di detik-detik terakhir, ayah si cewek (iya, tentara yang sempet nyulik dan nyiksa pacar anaknya lalu bahkan menolak lamaran Ibe itu) menyetujui untuk menikahkan anaknya dengan Ibe.

The power of love that let miracle happened. 

Thanks God, it’s an happy ending.

p.s. Ini adalah kisah nyata, told by a stranger to my mom when she renewed her driving license this morning.

#love  #life  
  May 10, 2012 at 08:56pm

#nomention

  • Her: Ahh sh*t, I forget this is Saturday nite.
  • Me: Hahaha.
  • Her: You know, life is too short to be spent with the wrong person. *being pointlessly cynical*.
  • Me: If one spends it with the right one, then there's nothing to worry, right?
  • Her: *silent*
  • .
  • Dear little sister, someday you'll find your own Mr. Right. For the time being, please stop the irritation. : ))
#love  #life  #family  
  April 23, 2012 at 07:01pm

Some Things Last Forever

…we name it love.

“Hari gini ngomongin cinta? Tsah.”

“Makan tuh cinta!”

“You’re too naive. Go on dreaming.”

Despite the mockings, don’t we all need to love and to be loved?

One day, I went to a mall and had a lunch at the foodcourt. Everything seemed ordinary: female student groups with their high-pitch laughter, sleepy coworkers, people who ate in a hurry, etc. As my meal came, a couple entered the foodcourt.

They were about sixty something years old, I guessed. This grandpa and grandma (let’s just call them like that) looked like they were discussing what to eat. Grandpa pointed out a food banner, but grandma didn’t agree. After a few seconds, they decided to walk around the foodcourt to find the best deal. And they were holding hand. Tightly. *aww*

Last week, I saw similar object in the street. A car approached a bank’s security guard. The front passenger lowered the car window. Waa, it was another grandpa-grandma couple. They asked direction to the security guard. I tried to look into the back seat, are they carrying their grandchildren? The answer is, they did not. A silly question popped in my mind: are they dating? Hahaha.

Even though they just appeared for a while in my life, I felt so touched. They looked at each other in such a happy face, whereas probably they have been together for sooooo long and already knew each other’s best-worst sides very well. I mean, I know some married couple who don’t even communicate with each other except for asking something like, “Where’s the car key?”. Or, some married couple who no longer enjoy each other’s presence that they would rather sleep in different rooms, let alone cuddle or go on a date. Clearly, marriage =/= love.

(image from The Notebook movie)

Coincidentally, I was with Cookie when seeing those two couples. Looking at him, which was also focusing on the same object, I can’t help asking myself questions, when we reach that age, will we still call each other with stupid nicknames? Will we still be able to look at each other’s eyes and find the same reason just like when we decided to be together in 2008? Will do nothing with you still feel like everything to me, and vice versa?

As Cookie turned his head and looked at me, I knew he had the same questions wandering in his mind.

I really hope we will.

I think, the best present a lover can give is to grow old together. Because of both parties’ willingness, not compulsion.

#love  #HF  #life  
  April 12, 2012 at 01:33am

Buat yang mau kawin lari karena tak kunjung dapat restu :p

Jika wali tidak mau menikahkan, harus dilihat dulu alasannya, apakah alasan syar’i atau alasan tidak syar’i. Alasan syar’i adalah alasan yang dibenarkan oleh hukum syara’, misalnya anak gadis wali tersebut sudah dilamar orang lain dan lamaran ini belum dibatalkan, atau calon suaminya beda agama (misal Kristen/Katholik), atau orang fasik (misalnya pezina dan suka mabok), atau mempunyai cacat tubuh yang menghalangi tugasnya sebagai suami, dan sebagainya.

Jika wali menolak menikahkan anak gadisnya berdasarkan alasan syar’i seperti ini, maka wali wajib ditaati dan kewaliannya tidak berpindah kepada pihak lain (wali hakim).

Namun adakalanya wali menolak menikahkan dengan alasan yang tidak syar’i, yaitu alasan yang tidak dibenarkan hukum syara’. Misalnya calon suaminya bukan dari suku yang sama, orang miskin, bukan sarjana, atau wajah tidak rupawan, dan sebagainya. Ini adalah alasan-alasan yang tidak ada dasarnya dalam pandangan syariah, maka tidak dianggap alasan syar’i.

Jika wali tidak mau menikahkan anak gadisnya dengan alasan yang tidak syar’i seperti ini, maka wali tersebut disebut wali ‘adhol.  Makna ‘adhol, kata Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, adalah menghalangi seorang perempuan untuk menikahkannya jika perempuan itu telah menuntut nikah. Perbuatan ini adalah haram dan pelakunya (wali) adalah orang fasik (Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham Al-Ijtima’i fi Al-Islam, hal. 116). Firman Allah SWT :

“…maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf.” (TQS Al-Baqarah : 232)

”…jika mereka [wali] berselisih/bertengkar [tidak mau menikahkan], maka penguasa (as-sulthan) adalah wali bagi orang [perempuan] yang tidak punya wali.” (Arab : …fa in isytajaruu fa as-sulthaanu waliyyu man laa waliyya lahaa) (HR. Al-Arba’ah, kecuali An-Nasa`i. Hadits ini dinilai shahih oleh Ibnu ‘Awanah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, Subulus Salam, III/118).

Yang dimaksud dengan wali hakim, adalah wali dari penguasa, yang dalam hadits di atas disebut dengan as-sulthan.

Untuk mendapatkan wali hakim, datanglah ke Kepala KUA Kecamatan tempat calon mempelai perempuan tinggal.

#islam  #marriage  #love  

You. Me. Right Here. Right Now.

And in another life I would be your girl

We keep all our promises, be us against the world

And in another life, I would make you stay

So I don’t have to say you were the one that got away

The one that got away

- Katy Perry

If I were you, ‘K, I would not wait until another life just to make it happen. Have some guts.

#love  #song  #katyperry  

Nggak Cinta Lagi

  • Malam hari. Perhentian terakhir sebelum pulang: supermarket terdekat dari rumah. Tugas: beli buah-buahan untuk salad, salad dressings, oreo buat bikin jus pisang-oreo, dll.
  • Saya: Aahhk!
  • Cookie: Kenapa?
  • Saya: Yang mau dibeli banyak, duit di dompet pas-pasan. Cukup nggak ya? *buka dompet*
  • Usut punya usut, uang di dompet tinggal Rp52,000 (sebenarnya ini banyak, masalahnya yang mau dibeli lebih banyak lagi). Semuanya terdiri dari berkeping-keping receh, berlembar-lembar uang Rp2,000-an, dan masing-masing selembar uang pecahan Rp5,000, Rp10,000, dan Rp20,000.
  • Cookie: Yaudah nih ambil dulu aja, jaga-jaga kalau kurang. *ngasihin uang terakhirnya: Rp12,000*
  • Saya pun masuk dan belanja. Ternyata benar, uangnya kurang Rp2,500. Nyaris mati gaya, untung ada pinjaman dari Cookie.
  • Saya: *balik ke parkiran* Bener lah, kurang Rp2,500, hahaha. Untung kamu minjemin. Nih, aku balikin. *berusaha ngorek sisa receh di dompet*
  • Cookie: Nggak usah.
  • Saya: Ntar kamu nggak bisa makan! Katanya mau kerja kelompok?
  • Cookie: Dibilangin nggak usah.
  • Saya: Usah!
  • Cookie: Nggak.
  • Saya: Usah!
  • Cookie: Kalau kamu maksa ntar aku nggak cinta lagi, ah. *pasang muka unyu*
  • Saya: Mmpphh.. Hahaha! Oke.
  • .
  • Ada aja ya, cara dia buat menang debat.
#stupid  #love