Posts tagged macroeconomics.

SimpleLife: Digdaya Bagaimana? ›

REBLOG SEJUTA KALI (Y)

arrizapasha:

Indonesia sebagai negara dengan populasi sekitar 245 juta jiwa merupakan negara muslim yang diperhatikan keberadaannya sekaligus diwaspadai perkembangannya oleh dunia. Pertanyaan :

Apa kita sudah demikian hebat?

Kalau kita liat HDI (Human Development Index), Life Expectacy Index,maupun Income Index Indonesia masih jauh dibawah rata-rata negara muslim lain. Bahkan rata-rata index negara-negara muslim pun masih dibawah index rata-rata negara-negara dunia. Apalagi Kita dengan dunia. See

Organization is matter of people. A Country is a ‘big’ organization. So, it’s reasonable to encourage its citizen to become stronger and stronger. rakyat kuat maka negara tidak lemah.

Salah satu pendapat agar kita menjadi negara digdaya dalam perekonomian adalah dengan menguatkan perekonomian masyarakat kelas bawah dan menengah. Bukan fokus mendukung perekonomian kelas atas ataucorporate besar. Kenapa?Karena secara populasi, merekalah porsi terbesarnya. Mereka yang sudah besar sudah bisa ‘mandiri lagi mapan’. Perhatian kepada mereka sudah tidak perlu intense. Perubahan di Indonesia terjadi karena society driven (contoh : reformasi 1998, Adanya Bank Syariah; tapi bukan berarti mengecilkan peran pemerintah yang sama pentingnya). Masyarakat ekonomi Kecil dan menengah memegang share terbesar dari populasi. Kalau mereka kuat, secara perlahan Indonesia pun akan terbawa kuat dengan sendirinya. Kebijakan yang ‘friendly’ kepada masyarakat kecil dan menengah harus lebih diutamakan dari kebijakan yang selalu menguntungkan mereka yang ‘besar’. Bukankah kemashlahatan umum lebih diutamakan dibanding kemashlahatan sekelompok orang? 

Kunci kedua adalah penguatan sektor riil. Tokoh nasional kita pernah bilang kalau Bursa Efek itu penting tapi Jauh lebih penting tanah abang. Aktifitas perekonomian itu sederhananya adalah jual-beli. Ruhnya ada disana. Bukan transaksi-transaksi keuangan yang hampa. Monetary sectorada untuk mendukung berjalannya real sector. 

Tidak ada yang tidak mungkin bila Tuhan telah menggariskan ketentuan-Nya.
Indonesia bisa jadi Digdaya! 

My First Dinar - Part II

…sambungan :D

.

Wallahu’alam.

Ya udahlah ga usah dibahas terlalu jauh, toh sejauh ini belum terlalu ngefek juga ke kehidupan kita sebagai rakyat jelata.

So, this is penampakan of my first dinar, :D

Ternyata bentuk kemasan dinar keluaran Logam Mulia (anak perusahaan PT ANTAM Tbk, BUMN) itu mirip kemasan sim card perdana. Koin emasnya detachable dari ‘kartu’ yang ternyata adalah sertifikat bukti keaslian. Di bagian depan sertifikat itu terdapat tulisan,

“Pencetakan koin ini mengikuti aturan Khalifah Umar bin Khattab r.a  dengan berat 4,25 gram dan kadar emas 91,7%.”

Di sisi depan koin dinar ada gambar Ka’bah yang dikelilingi oleh grafir Logam Mulia dan Indonesia, dan di sisi belakang terdapat kaligrafi Allah dan Muhammad.

(sisi depan)

(sisi belakang)

Gimana cara beli dinar?

Ternyata gampang dan nggak ribet!

Di Bandung banyak gerai yang menjual dinar dan dirham secara fisik, kok. Kemarin saya beli di DinarBandung.com yang gerai offline-nya ada di Jl. Cihampelas 185. Tadinya mau beli tanggal 09/08/11 tapi nggak keburu karena gerai ini cuma buka sampai jam 17:00. Untung ditunda sehari karena pas hari saya beli ternyata harga dinarnya turun! Hahaha, lucky me.

Lumayan kan dari Rp 2,176,000 (net) jadi Rp 2,151,500 (net).

Yang bikin saya bingung adalah penampakan Gerai Dinar Bandung yang nggak kelihatan seperti jualan dinar dan dirham. Waktu lagi menelusuri Jl. Cihampelas nyari no. 185, yang terbayang di kepala saya adalah tokonya mirip money changer. Ternyata, dari luar yang terlihat di etalase toko mungil ini justru deretan manequin berbalut busana muslim!

Lho?

Selisik punya selisik, rupanya itu adalah kamuflase buat alasan keamanan. Seperti bunglon: cara dia melindungi diri kan dengan menyerupakan dirinya dengan lingkungannya, bukan dengan duri atau racun. Bayangkan kalau sebuah toko emas, yang per koinnya aja harganya lebih dari dua juta, malah pasang banner dan menunjukkan identitasnya terang-terangan. Pasti setidaknya ada biaya pengamanan berupa gaji satpam dan kamera CCTV, bukan? 

Penyimpanan dinar pun nggak dilakukan di toko ini. Ketika saya udah deal sama Mas Johan (yang jaga counter), dia langsung bicara singkat di telepon,

“Dinar, satu.”

Nggak berapa lama, datanglah seorang pembantu membawakan dinar di saku celana sontog-nya. Pintar.

Btw, beberapa hari ini mantengin TL Twitter rasanya banyaak banget yang ngetwit sesuatu semacam “Yang punya LM pasti senyam-senyum”. Brb baca postingan beberapa bulan lalu tentang Logam Mulia aah.

Alhamdulillah, return megang gold bar LM 5gram dari bulan Desember 2010 (harga Rp2.047.500) sampai 11 Agustus 2011 (harga Rp2.567.500),

= Rp2.567.500-Rp2.047.500/Rp2.567.500*100% = 25,4%.

Padahal setahun pun belum. Huahuahaehhehe. :p

Ayo menabung pakai emas!

  August 12, 2011 at 04:00pm

My First Dinar - Part I

Finance adalah bidang yang maha adil. Lho? Iya, soalnya di dalam investasi berlaku hukum rimba ‘high risk high return’. Nggak ada investasi yang menawarkan “Modal Rp200 juta, dalam tiga bulan pasti kembali jadi 300%” kecuali penipuan.

Keadilan yang lain adalah kalau satu instrumen yang risiko-tinggi-return-tinggi nilai pasarnya lagi anjlok, yang cenderung safe pasti naik daun. Lihat saja sekarang-sekarang, ketika harga saham tengah melorot, harga emas pun naik. Mungkin kamu sempat nonton liputan berita di beberapa TV yang menyorot kenaikan harga emas yang sangat tajam beberapa bulan ini dan diprediksikan akan terus naik sampai akhir tahun 2012. Psstt, sebenarnya bukan harga emas yang naik lho, tapi justru nilai uang yang turun.

(screenshot layar hp-> grafik harga emas per 30 hari dan 1 tahun dariwww.kitco.com)

(screenshot harga emas batangan di website Logam Mulia per 11 Agustus 2011)

Kok nilai uang bisa turun? Kan di setiap lembar uang ada nilai nominal yang tercetak (Rp10.000, Rp20.000, dst)?

Karena, uang kertas sebenarnya nggak punya nilai. Uang kertas zaman sekarang ya nilainya cuma sebatas biaya cetak per lembarnya aja. Selebihnya, didukung oleh kepercayaan masyarakat yang dicerminkan oleh permintaan dan penawaran di pasar valuta asing. Beda dengan zaman dulu (untuk Amerika Serikat: sebelum 1971), negara hanya bisa mencetak uang senilai cadangan emas yang dimiliki. Istilahnya, commodity-backed money.

Kenapa sistem pencetakan uang yang relatif aman itu dihapuskan? Biar bisa dipakai spekulasi, lah. Namanya juga manusia: greedy.

Nah, apa yang terjadi kalau benua Eropa kena hantam krisis keuangan dan Amerika Serikat perekonomiannya masih terpuruk akibat krisis 2008 lalu? Bisa ditebak, nilai uang pun akan turun.

Hebatnya, Islam sudah mengantisipasi hal ini sejak ratusan tahun yang lalu. #subhanallah

Abu Bakar Ibn Abi Maryam melaporkan bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW telah bersabda, “Akan tiba suatu zaman di mana tiada apa yang bernilai dan boleh digunakan oleh umat manusia. Maka simpanlah dinar dan dirham (untuk digunakan)”.

– Musnad Imam Ahmad Ibn Hanbal.

.

bersambung… ;)

  August 11, 2011 at 11:09am

When the Global Financial Recession brought about a major downturn in the major IT and business sectors, the legal industry was the only industry which oversaw and reaped benefits from the growing litigations and bankruptcies.

ini nih yang namanya bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. atau pandai mencari kesempatan di dalam kesempitan? #rambling

“Pemerintah Mesir mengakui bahwa demonstrasi anti-Mubarak yang terjadi sejak 25 Januari telah merugikan negara. Jika tidak ada penanganan finansial yang tepat, Mesir akan bangkrut. Menurut Menteri Keuangan Mesir Samir Radwan, dua sumber devisa negara selama ini, yakni pariwisata dan pengiriman uang dari pekerja Mesir di luar negeri, lumpuh total.” (PR 06/02/11, hal. 13)

.

Dengan sumber utama devisa negara dari pariwisata, bayangkan perekonomian Mesir setelah konflik politik saat ini berakhir. Dalam waktu dekat, mungkinkah sektor pariwisata menghasilkan pemasukan yang menjanjikan?

Industri jasa, perbankan, pariwisata, dan eksplorasi SDA pada dasarnya adalah sektor yang rentan. Sebab, 3 yang pertama sangat bergantung kepada permintaan pasar, sedangkan yang terakhir akan habis pada saatnya atau kalaupun tidak, bergantung kepada keadaan alam yang kian tak menentu.

Inilah kenapa industri manufaktur yang berbasis UMKM seharusnya menjadi pilar perekonomian negara yang utama. Apabila GDP = C+I+G+NX, ketika krisis terjadi: konsumsi akan berkurang, dan stimulus dari pemerintah will only get you so far. Tapi produksi di sektor riil yang nyata (bukan sekadar bubble di pasar keuangan yang ditentukan oleh supply&demand), akan bertahan selama faktor-faktor yang lain mendukungnya.

Pengecualian: kalau Mesir bangkrut dan negaranya bubar.

Ehem, coba kita balik lagi ke Indonesia. Teori seperti ini udah menyebar luas, bahkan setiap mahasiswa yang membaca sekilas tentang ekonomi syariah dan sektor keuangan vs sektor riil pasti tahu. Tapi kenapa pemerintah sulit mengimplementasikannya? Makin hari, harga-harga pokok kian naik, ijin usaha ribet, jalan-jalan raya rusak, listrik sering mati, calo-oknum perizinan di pemerintahan marak, dsb, namun pengusaha kita dipaksa bersaing secara bebas dengan pengusaha negara lain yang jelas-jelas memperoleh dukungan penuh dari pemerintah negaranya, katakanlah China.

Just saying, though.

majalah dinding ngasal di tembok kamar
Infrastruktur, pengangguran, kemiskinan. Cerita klasik yang diulang-ulang oleh setiap pihak yang berupaya mengevaluasi perekonomian bangsa ini. Vicious circle-kah? Ah, lagu lama.

majalah dinding ngasal di tembok kamar

Infrastruktur, pengangguran, kemiskinan. Cerita klasik yang diulang-ulang oleh setiap pihak yang berupaya mengevaluasi perekonomian bangsa ini. Vicious circle-kah? Ah, lagu lama.

  January 05, 2011 at 03:28pm

Inilah Beda Redenominasi dengan Sanering

sip! sekali-kali ayo dukung kebijakan pemerintah, jangan diprotes melulu :p toh ini memang otoritas BI selaku pemegang hak kebijakan moneter. kalau memang jadi, tenanglah, prosesnya kan nggak akan instan.

lagipula, selama ini pun laporan keuangan dan selalu disajikan “dalam Rp1.000” sampai dengan “dalam Rp1.000.000” (baca: beberapa nol akhir tidak dicantumkan).

expressdeepwords:

Berhubung masih ada yang belum mengerti tentang Redenominasi secara baik, disini saya share artikel dari TEMPO yang menjelaskan tentang perbedaan antara Redenominasi dan Sanering.

RABU, 04 AGUSTUS 2010 | 09:57 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta

Untuk mencegah salah pengertian antara redenominasi dengan sanering, Bank Indonesia menjelaskan perbedaannya secara rinci.

Begini rinciannya:

1. Pengertian.

Redenominasi adalah menyederhanakan denominasi (pecahan) mata uang menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara mengurangi digit (angka nol) tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Misal Rp 1.000 menjadi Rp 1. Hal yang sama secara bersamaan dilakukan juga pada harga-harga barang, sehingga daya beli masyarakat tidak berubah. Sanering adalah pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai uang. Hal yang sama tidak dilakukan pada harga-harga barang, sehingga daya beli masyarakat menurun.

2. Dampak bagi masyarakat.

Pada redenominasi, tidak ada kerugian karena daya beli tetap sama. Pada sanering, menimbulkan banyak kerugian karena daya beli turun drastis.

3. Tujuan Redenominasi

Redominasi bertujuan menyederhanakan pecahan uang agar lebih efisien dan nyaman dalam melakuan transaksi.Tujuan berikutnya, mempersiapkan kesetaraan ekonomi Indonesia dengan negara regional. Sanering bertujuan mengurangi jumlah uang yang beredar akibat lonjakan harga-harga. Dilakukan karena terjadi hiperinflasi (inflasi yang sangat tinggi).

4. Nilai uang terhadap barang.

Pada redenominasi nilai uang terhadap barang tidak berubah, karena hanya cara penyebutan dan penulisan pecahan uang saja yang disesuaikan. Pada sanering, nilai uang terhadap barang berubah menjadi lebih kecil, karena yang dipotong adalah nilainya.

5. Kondisi saat dilakukan.

Redenominasi dilakukans saat kondisi makro ekonomi stabil. Ekonomi tumbuh dan inflasi terkendali. Sanering dilakukan dalam kondisi makro ekonomi tidak sehat, inflasi sangat tinggi (hiperinflasi).

6. Masa transisi Redenominasi dipersiapkan secara matang dan terukur sampai masyarakat siap, agar tidak menimbulkan gejolak di masyarakat. Sanering tidak ada masa transisi dan dilakukan secara tiba-tiba.

7. Contoh untuk harga 1 liter bensin seharga Rp 4.500 per liter. Pada redenominasi, bila terjadi redenominasi tiga digit (tiga angka nol), maka dengan uang sebanyak Rp 4,5 tetap dapat membeli 1 liter bensin. Karena harga 1 liter bensin juga dinyatakan dalam satuan pecahan yang sama (baru). Pada sanering, bila terjadi sanering per seribu rupiah, maka dengan Rp 4,5 hanya dapat membeli 1/1000 atau 0,001 liter bensin.

ditulis oleh : MARIA