Posts tagged pendidikan.

Review: Indonesia Mengajar (Buku)

Izin nge-tag: Pak @aniesbaswedan & @pengajarmuda

 

Ada Apa dengan IM

 Sejak Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar (biar gampang, mari kita singkat IM) mengadakan open recruitment-nya untuk menyaring Pengajar Muda angkatan pertama, saya selalu rajin stalking seluruh tindak-tanduk IM.

 Karena kepo? Sebagian, ya. Sebagian lagi karena saya kagum luar biasa dengan filosofi IM. Terutama di bagian yang berulang kali diucapkan oleh Pak Anies Baswedan dalam liputan di berbagai media, “Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan,” dan “Mendidik adalah tugas konstitusional negara, tetapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik.”

 Yang kalau dibalikkan berarti, mengutip tulisan salah satu Pengajar Muda di buku ini, setiap anak yang tidak terdidik adalah dosa bagi kita yang cukup mengenyam pendidikan –terutama yang bisa sekolah sampai bergelar sarjana.

*Jleb!*

Penasaran vs Sangsi

 Selain karena kagum, sejujurnya saya pun penasaran. Bukankah bangsa ini terkenal baik dalam perencanaan? Bisa dilihat dari kampanye-kampanye politik, visi misi gerakan sosial yang mulia, jargon kampus yang konon bertaraf internasional, dsb. Yang sayangnya, seringkali jeblok di pelaksanaan.

 Ya, saya penasaran apakah pelaksanaan IM akan sama terpujinya dengan filosofinya. Saya penasaran apakah IM bisa terus survive dalam jangka panjang dan sukses merekrut Pengajar Muda yang berkualitas dan berdedikasi tinggi. Saya bahkan penasaran apakah para Pengajar Muda akan berhasil menunaikan misinya di pelosok negeri yang hampir seluruh nama daerahnya nggak diketahui oleh penduduk Pulau Jawa. Seperti saya dan kamu.

 Itulah beberapa alasan kenapa saya beli buku yang berisikan kompilasi kisah para Pengajar Muda di pelosok negeri ini.

 Dan, alhasil saya malu sendiri setelah baca buku ini. Ternyata, pesimisme dan sinisme itu mulai menular. Ternyata, benak saya sudah dijejali oleh mindset materialistis-kapitalistis. Padahal, nggak seharusnya saya berprasangka begitu.

 Tell you what, susaaaah banget untuk nggak terharu baca buku ini. Terutama kalau mengingat poin penting yang disinggung oleh seluruh Pengajar Muda tentang:

  1. Banyaknya anak yang luar biasa cerdas dan berbakat macam-macam tapi nggak punya akses untuk berprestasi.
  2. Rata-rata orang tua di pedalaman belum sadar akan pentingnya pendidikan. Misalnya saja, tanpa merasa bersalah mereka sering menyuruh anaknya bolos untuk membantu panen.
  3. Bagi orang Pulau Jawa, bepergian ke Pulau Kalimantan atau Sulawesi mungkin hanya sebatas ‘sekian jam naik pesawat/feri’. Namun bagi orang dari pulau-pulau tersebut, Pulau Jawa terasa jauuuh di luar jangkauan. Apalagi Jakarta. Ibarat utopia.
  4. Masih banyak orang tua dan guru di luar sana yang mendidik anak kecil dengan kekerasan. Upacara nggak tertib, ditendang. Ngobrol di kelas, ditampar. Berontak, dipukul pakai rotan. Sebab, kekerasan dipandang sebagai cara paling efektif untuk membuat anak patuh. Astaga.

Klasik? Ya, memang. Namun nyata, bahkan masih relevan hingga hari ini.

My Fave Parts

 Meskipun potret pemerataan pendidikan Indonesia masih jauh dari ideal, bukan berarti seluruh cerita di buku ini tentang kesedihan, lho. Ada banyak cerita lucu (seperti Firman BK yang disuruh menamai BAYI milik tetangganya yang baru lahir -hahaha), dan ada pula yang bikin trenyuh (seperti Sekar AN yang berhasil memboyong anak didiknya bertemu Pak Wapres Budiono).

 Kisah yang paling menyentuh buat saya adalah cerita-cerita tentang betapa variatifnya tantangan dalam kegiatan mengajar. Tentang bagaimana si pengajar sudah menyiapkan yang terbaik namun masih ada kemungkinan disepelekan, bahkan dilecehkan oleh murid. Tentang seribu cara yang gagal belum berhasil untuk menciptakan suasana kondusif di kelas. Tentang bagaimana seorang pengajar harus pintar-pintar menyesuaikan tempo belajar-mengajar dengan kemampuan dan daya tangkap muridnya. Tentang ternyata seorang pengajar pun bisa merasa sakit hati, ketika muridnya nggak menghiraukan dia.

“Saya tahu, ada banyak kesalahan yang saya lakukan. Disebabkan saya yang kurang peka, saya yang kurang persiapan, saya yang kebingungan karena plinplan.

Ya, saya memang seorang guru, bukan malaikat yang bisa menyelamatkan hidup mereka seratus persen dari kesulitan. Dan, keseharian yang saya jalani adalah kehidupan seorang guru, bukan orang suci. Itu sebabnya saya belajar.”

–Nila PN, Pengajar Muda Tulang Bawang Barat

 Kenapa itu yang paling menyentuh? Mungkin karena saya baca buku ini sambil mengawas para praktikan yang sedang review (semacam UAS di kelas praktika). Mungkin juga karena minggu ini adalah akhir masa jabatan jadi asdos yang nggak terasa sudah dijalani selama 3 semester. Mungkin karena lembaran testimonial dari para praktika yang walaupun hanya berisikan ucapan terima kasih dan sebaris doa, namun selalu sukses bikin air mata netes.

Walaupun tingkat kesulitan mengajar di kampus tentu nggak bisa dibandingkan dengan di pelosok daerah yang bahkan belum terjangkau PLN, I can simply relate those stories to mine. :’) * belum bisa move on dari rutinitas mengajar Senin-Jumat* *kok jadi curhat*

Intinya, “Indonesia Mengajar” is a must-have book. Buruan beli, gih!

Mengajar Itu Menguntungkan

Pepatah bilang, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”

Buat saya, itu belum lengkap. Kalau boleh nambahin sih, “Buatkanlah rumah untuk ilmu dengan mengajarkannya.”

Yup, selain (mudah-mudahan) bermanfaat buat orang lain, ternyata mengajar pun memberi manfaat lebih buat si pengajar. Ilustrasinya kira-kira begini,

Tanpa mengajar               : ketika berusaha mengingat ilmu yang didapat bertahun lalu, rasanya seperti mencari sebuah dokumen di gudang arsip yang unorganized, yang di dalamnya ada puluhan kabinet, di mana tiap kabinet terdiri dari puluhan laci, dan tiap laci berisi puluhan sampai ratusan dokumen. Gudang arsip ini adalah analogi dari otak kita. Kira-kira, berapa lama tuh waktu yang dibutuhkan untuk mencari dokumen tersebut?

Dengan mengajar            : ilmu yang pernah kita dapat itu ibarat bookmarks yang tersusun rapi di web browser kita. Dalam sekali klik, dokumen tersebut pun segera dapat diakses.

Awalnya, saya kira analogi di atas sekedar khayalan belaka. Eh, dasar gayung bersambut, waktu mampir ke sebuah toko buku dan iseng bolak-balik buku-buku di sana, ada hasil penelitian yang menyebutkan kalau perbedaan cara belajar akan berpengaruh besar ke tingkat pemahaman.

Setting penelitian itu adalah di SMA dan perguruan tinggi. Berikut ini hasilnya,

  • Menyimak guru/dosen di kelas    : tingkat penyerapan ilmu 5%
  • Mencatat materi                     : tingkat penyerapan ilmu 15% (kurang-lebih; agak lupa)
  • Mengerjakan tugas                  : tingkat penyerapan ilmu 35% (kurang-lebih; agak lupa)
  • Mendiskusikan materi            : tingkat penyerapan ilmu 50-75% (kurang-lebih; agak lupa)
  • Mengajarkan ulang ke orang lain: tingkat penyerapan ilmu 95%

Kok bisa begitu? Alasannya sederhana. Sebab, orang yang akan mengajar pasti pernah dikuliahi, mencatat, mengerjakan tugas, dan berdiskusi dengan rekannya untuk mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan tak terduga selama ia mengajar.

Jadi, kalau ada ilmu yang rasanya sulit untuk dikuasai, cobalah buat mengajarkannya ke orang lain!

Selain itu, bukankah ilmu yang bermanfaat bagi orang lain itu nggak akan pernah putus baik di dunia ini maupun di kehidupan selanjutnya? :) 

*Image by vagabondrhythm*

#fata  #life  #pendidikan  
Study with the heart so good grades will follow you, effortlessly. Not the opposite.
Do not strive for grades, strive for understanding.
:)
kalengikansarden:

Cuplikan pidato pada upacara wisuda di Coxsackie-Athens High School di New York baru-baru ini. Disampaikan oleh wisudawan yang lulus dengan  nilai terbaik pada tahun ini, Erica Goldson.

“Saya lulus.  Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang  menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya.
Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya  memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya  katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan  apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem  yang ada.Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang  diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang  mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.Tetapi  saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup –  bukan pekerja.
Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan,  seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya  telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya  melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang  lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat,  saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut  ujian yang terhebat.Saat  anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik  membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR  saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil  ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu.
Jadi, saya penasaran,  apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas  menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa  yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi  pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam  kehidupan saya?Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah  pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap  subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar.
Dan jujur saja,  sekarang saya mulai ketakutan.”

When it comes the time I read those speech above, I’d happy to say “To hell with grades, I learn in order to live!”
But wait, that’s not the final answer.If I learn wholeheatedly for the sake of life goodness, then what is life for?

*sumber pidato dari sini
  1. Study with the heart so good grades will follow you, effortlessly. Not the opposite.
  2. Do not strive for grades, strive for understanding.

:)

kalengikansarden:

Cuplikan pidato pada upacara wisuda di Coxsackie-Athens High School di New York baru-baru ini. Disampaikan oleh wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun ini, Erica Goldson.

“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya.

Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja.

Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.

Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu.

Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar.

Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan.”


When it comes the time I read those speech above, I’d happy to say
“To hell with grades, I learn in order to live!”

But wait, that’s not the final answer.
If I learn wholeheatedly for the sake of life goodness, then what is life for?



*sumber pidato dari sini

p.s. You’re welcome, thanks for published and spread the surrender-resistance (=pantang menyerah, #maksa) & ‘gotong royong’ spirit.
Hopefully this photo encourage us that this nation still has a hope, amin.
beingindonesian:

SUBMISSION: theyanirma. Thank you.

Murid peserta Ujian Nasional tingkat sekolah dasar tahun 2011 menyeberangi Sungai Ciawi sambil digendong sukarelawan menuju sekolah di Kp. Peer, Desa Mekarsari, Kec. Pameungpeuk, Kab. Garut, Selasa (10/5). Jembatan gantung yang terputus akibat terjangan banjir bandang pada Jumat (6/5) lalu menyebabkan mereka harus menyeberangi sungai sambil mempertaruhkan nyawa agar bisa mengikuti ujian.
sumber: Pikiran Rakyat 11/05/2011

Demi selembar ijazah, risiko hanyut terbawa arus pun diambil.

p.s. You’re welcome, thanks for published and spread the surrender-resistance (=pantang menyerah, #maksa) & ‘gotong royong’ spirit.

Hopefully this photo encourage us that this nation still has a hope, amin.

beingindonesian:

SUBMISSION: theyanirma. Thank you.

Murid peserta Ujian Nasional tingkat sekolah dasar tahun 2011 menyeberangi Sungai Ciawi sambil digendong sukarelawan menuju sekolah di Kp. Peer, Desa Mekarsari, Kec. Pameungpeuk, Kab. Garut, Selasa (10/5). Jembatan gantung yang terputus akibat terjangan banjir bandang pada Jumat (6/5) lalu menyebabkan mereka harus menyeberangi sungai sambil mempertaruhkan nyawa agar bisa mengikuti ujian.

sumber: Pikiran Rakyat 11/05/2011

Demi selembar ijazah, risiko hanyut terbawa arus pun diambil.

PENDIDIKAN BERKUALITAS TAK HARUS MAHAL - SEBUAH CERITA ›

Metode pembelajaran yang membebaskan setiap anak untuk memilih urutan pelajaran sesuai minat masing-masing mengingatkan saya pada Totto-chan.

Negeri ini butuh lebih banyak orang seperti Pak Bahruddin. :”)

satriamaulana :

Sekolah Global di Desa Kecil Kalibening

FINA Af’idatussofa (14) bukan siswa sekolah internasional dan bukan anak orang berada. Ia lahir sebagai anak petani di Desa Kalibening, tiga kilometer perjalanan arah selatan dari kota Salatiga menuju Kedungombo, Jawa Tengah. Karena orangtuanya tidak mampu, ia terpaksa melanjutkan sekolah di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah di desanya. Namun, dalam soal kemampuan Fina boleh dipertandingkan dengan siswa sekolah-sekolah mahal yang kini menjamur di Jakarta.

MESKI bersekolah di desa dan menumpang di rumah kepala sekolahnya, bagi Fina internet bukan hal yang asing. Ia bisa mengakses internet kapan saja. Setiap pagi berlatih bahasa Inggris dalam English Morning. Ia pernah menjuarai penulisan artikel on line di kotanya. Ia juga berbakat dalam olah vokal meski ia mengatakan tidak ingin menjadi seorang penyanyi.

“Kalau menjadi penyanyi, pekerjaanku hanya menyanyi. Padahal, cita-citaku banyak. Aku ingin jadi presenter, aku ingin jadi penulis, pengarang lagu, ilmuwan, dan banyak lagi? Aku juga ingin berkeliling dunia,” kata Fina.

SMP Alternatif Qaryah Thayyibah resmi terdaftar sebagai SMP Terbuka, sekolah yang sering diasosiasikan sebagai sekolah untuk menampung orang-orang miskin agar bisa mengikuti program wajib belajar sembilan tahun. Namun, siswa SMP Alternatif Qaryah Thayyibah sangat mencintai dan bangga dengan sekolahnya.

Pukul 06.00 sekolah sudah mulai dan baru berakhir pada pukul 13.30. Akan tetapi, jam sekolah itu terasa sangat pendek bagi murid-murid sekolah tersebut sehingga setelah makan siang mereka biasanya kembali lagi ke sekolah. Mereka belajar sambil bermain di sekolahnya sampai malam, bahkan tak jarang mereka menginap di sekolah.

Murid-murid SMP Qaryah Thayyibah memang sangat menikmati sekolahnya. Bersekolah merupakan sesuatu yang menyenangkan. Guru bukanlah penguasa otoriter di kelas, tetapi teman belajar. Mereka bebas berbicara dengan gurunya dalam bahasa Jawa ngoko, strata bahasa yang hanya pantas untuk berbicara informal dengan kawan akrab.

Di kelas mereka juga sangat bebas. Mereka bisa asyik mengerjakan soal-soal matematika dengan bersenda gurau, ada yang mengerjakan soal sambil bersenandung, yang lain bermain monopoli. Suasana bermain itu bahkan di taman kanak-kanak pun kini makin langka karena mereka dipaksa oleh gurunya untuk membaca dan menulis.

SMP Qaryah Thayyibah lahir dari keprihatinan Bahruddin melihat pendidikan di Tanah Air yang makin bobrok dan semakin mahal. Pada pertengahan tahun 2003 anak pertamanya, Hilmy, akan masuk SMP. Hilmy telah mendapatkan tempat di salah satu SMP favorit di Salatiga. Namun, Bahruddin terusik dengan anak-anak petani lainnya yang tidak mampu membayar uang masuk SMP negeri yang saat itu telah mencapai Rp 750.000, uang sekolah rata-rata Rp 35.000 per bulan, belum lagi uang seragam dan uang buku yang jumlahnya mencapai ratusan ribu rupiah.

“Saya mungkin mampu, tetapi bagaimana dengan orang-orang lain?” tuturnya. Bahruddin yang menjadi ketua rukun wilayah di kampungnya kemudian berinisiatif mengumpulkan warganya menawarkan gagasan, bagaimana jika mereka membuat sekolah sendiri dengan mendirikan SMP alternatif. Dari 30 tetangga yang dikumpulkan, 12 orang berani memasukkan anaknya ke sekolah coba-coba itu. Untuk menunjukkan keseriusannya, Bahruddin juga memasukkan Hilmy ke sekolah yang diangan-angankannya.

“Saya ingin membuat sekolah yang murah, tetapi berkualitas. Saya tidak berpikir saya akan bisa melahirkan anak yang hebat-hebat. Yang penting mereka bisa bersekolah,” kata Bahruddin.

Bahruddin mengadopsi kurikulum SMP reguler di sekolahnya. Ia menyatakan tidak sanggup menyusun kurikulum sendiri. Lagi pula sekolah akan diakui sebagai sekolah berkualitas jika bisa memperoleh nilai yang baik dan mendapatkan ijazah yang diakui pemerintah. Karena itulah ia memilih format SMP Terbuka. Akan tetapi, ia mengubah kecenderungan SMP Terbuka sekadar sebagai lembaga untuk membagi-bagi ijazah dengan mengelola pendidikannya secara serius.

Sekolah itu menempati dua ruangan di rumah Bahruddin, yang sebelumnya digunakan untuk Sekretariat Organisasi Tani Qaryah Thayyibah. Jumlah guru yang mengajar sembilan orang, semuanya lulusan institut agama Islam negeri dan sebagian besar di antaranya para aktivis petani.

Guru pelajaran Matematika-nya seorang lulusan SMA yang kini mondok di pesantren. Akses internet gratis 24 jam diperoleh dari seorang pengusaha internet di Salatiga yang tertarik dengan gagasan Bahruddin. Dengan modal seadanya sekolah itu berjalan.

Ternyata pengakuan terhadap keberadaan SMP Alternatif Qaryah Thayyibah tidak perlu waktu lama. Nilai rata- rata ulangan murid SMP Qaryah Thayyibah jauh lebih baik daripada nilai rata-rata sekolah induknya, terutama untuk mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris.

Sekolah itu juga tampil meyakinkan, mengimbangi sekolah-sekolah negeri dalam lomba cerdas cermat penguasaan materi pelajaran di Salatiga. Sekolah itu juga mewakili Salatiga dalam lomba motivasi belajar mandiri di tingkat provinsi, dikirim mewakili Salatiga untuk hadir dalam Konvensi Lingkungan Hidup Pemuda Asia Pasifik di Surabaya. Pada tes kenaikan kelas satu, nilai rata-rata mata pelajaran Bahasa Inggris siswa Qaryah Thayyibah mencapai 8,86.

SMP Alternatif Qaryah Thayyibah juga maju dalam berkesenian. Di bawah bimbingan guru musik, Soedjono, anak-anak sekolah bergabung dalam grup musik Suara Lintang. Kebolehan anak-anak itu dalam menyanyikan lagu mars dan himne sekolah dalam versi bahasa Inggris dan Indonesia bisa didengarkan ketika membuka alamat situs sekolahwww.pendidikansalatiga.net/qaryah. Grup musik anak-anak desa kecil itu telah mendokumentasikan lagu tradisional anak dalam kaset, MP3, maupun video CD album Tembang Dolanan Tempo Doeloe yang diproduksi sekaligus untuk pencarian dana. Seluruh siswa bisa bermain gitar, yang menjadi keterampilan wajib di sekolah itu.

Sulit dibayangkan anak- anak petani sederhana itu masing-masing memiliki sebuah komputer, gitar, sepasang kamus bahasa Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris, satu paket pelajaran Bahasa Inggris BBC di rumahnya. Semua itu tidak digratiskan. Anak-anak memiliki semua itu dengan mengelola uang saku bersama-sama sebesar Rp 3.000 yang diterima anak dari orangtuanya setiap hari. Uang sebesar Rp 1.000 dipergunakan untuk mengangsur pembelian komputer. Untuk sarapan pagi, minum susu, madu, dan makanan kecil tiap hari Rp 1.000, sedangkan Rp 1.000 lainnya untuk ditabung di sekolah. Tabungan sekolah itu dikembalikan untuk keperluan murid dalam bentuk gitar, kamus, dan lain-lainnya.

Tidak mengherankan jika anak-anak dan orangtua mereka bangga dengan sekolah itu. Betapa tidak, di sekolah yang berdekatan dengan rumah di sebuah desa kecil mereka mendapatkan banyak hal yang tidak diperoleh di sekolah-sekolah yang dikelola dengan logika dagang.

Ismanto (43) menceritakan, anaknya sempat down saat mendaftar SLTP di Salatiga dua tahun lalu. Uang masuknya Rp 200.000, belum termasuk buku dan seragam. Tidak ada seorang murid pun ke sekolah dengan berjalan kaki selain anaknya, Emi Zubaiti (13). Kini Emi menjadi seorang anak yang pandai dalam berbagai mata pelajaran, pintar bernyanyi, dan percaya diri. Ia tidak pernah membayangkan bisa menyekolahkan Emi, anak pasangan tukang reparasi sofa dan bakul jamu gendong, mendapat sekolah yang baik.

Bahkan Ismanto ikut menikmati komputer yang dikredit dari uang saku anaknya. Dibimbing anaknya, sekarang Ismanto mulai belajar komputer. “Tidak pernah terpikir, saya bisa membelikan komputer. Kini saya malah bisa ikut menikmati,” kata Ismanto.

Catatan pribadi :
——————————-

Nah, kita liat sample aja yah. Bukan berarti pendidikan harus mahal kan? Bisa murah tapi berkualitas. Pendidikan murah berkualitas bukanlah sesuatu yang utopis, tapi bisa dicapai dengan tekad. Siapa bilang sekolah harus mahal?

Sungguh menginspirasi. Saya sungguh merinding. Bukan karena menyeramkan, tapi cerita ini sungguh inspiratif dan meninggalkan kesan yang mendalam. Sangat layak untuk dibagi, dibaca bersama dan direnungkan (syukur-syukur kalau bisa juga bertindak).

Sumber: http://pendidikanindonesia.blogspot.com/2005/04/sekolah-global-di-desa-kecil.html

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam

di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti

dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa

setelah lelah berjuang

 .

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak,

kan keruh menggenang

 .

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur

tak akan kena sasaran

 .

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

 .

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali

dari tambang

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa

jika di dalam hutan

—-

Imam Syafii’

(767-820M)

  May 16, 2011 at 11:47pm
  1. Pendidikan, bukan pengajaran.
  2. Otak kanan dan kiri seharusnya digunakan secara harmonis dan didukung pengembangannya. Sayangnya, kurikulum di sekolah-sekolah saat ini cenderung mendewakan otak kiri (ingat penjurusan zaman SMA? ‘kelas IPA nomor satu, IPS dan Bahasa dianaktirikan’).
  3. Biarkan setiap anak tumbuh sesuai dengan ‘jalur’nya masing-masing. Biarkan mereka berimajinasi untuk memupuk kreativitas. Kenapa juga mereka harus jadi seragam? (ingat pelajaran menggambar waktu TK dulu? ‘warna rumput harus hijau, laut warnanya biru, matahari kuning ya anak-anak!’)
  4. Semua ilmu pengetahuan itu sederajat. Berhenti menghakimi bahwa suatu prodi perkuliahan lebih baik dari yang lainnya semata-mata dari rupiah yang dihasilkan per bulan ketika lulus kelak.
  5. Institusi pendidikan itu bukan pabrik yang menghasilkan output dengan spesifikasi tertentu semata-mata demi memenuhi kebutuhan pasar!

benlaksana:

another reason for myself to take my masters in education policy and management.

yes, i want to reform Indonesia’s education. Indonesia is in dire need of reformation in education.