Review: Indonesia Mengajar (Buku)
Izin nge-tag: Pak @aniesbaswedan & @pengajarmuda

Ada Apa dengan IM
Sejak Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar (biar gampang, mari kita singkat IM) mengadakan open recruitment-nya untuk menyaring Pengajar Muda angkatan pertama, saya selalu rajin stalking seluruh tindak-tanduk IM.
Karena kepo? Sebagian, ya. Sebagian lagi karena saya kagum luar biasa dengan filosofi IM. Terutama di bagian yang berulang kali diucapkan oleh Pak Anies Baswedan dalam liputan di berbagai media, “Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan,” dan “Mendidik adalah tugas konstitusional negara, tetapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik.”
Yang kalau dibalikkan berarti, mengutip tulisan salah satu Pengajar Muda di buku ini, setiap anak yang tidak terdidik adalah dosa bagi kita yang cukup mengenyam pendidikan –terutama yang bisa sekolah sampai bergelar sarjana.
*Jleb!*
Penasaran vs Sangsi
Selain karena kagum, sejujurnya saya pun penasaran. Bukankah bangsa ini terkenal baik dalam perencanaan? Bisa dilihat dari kampanye-kampanye politik, visi misi gerakan sosial yang mulia, jargon kampus yang konon bertaraf internasional, dsb. Yang sayangnya, seringkali jeblok di pelaksanaan.
Ya, saya penasaran apakah pelaksanaan IM akan sama terpujinya dengan filosofinya. Saya penasaran apakah IM bisa terus survive dalam jangka panjang dan sukses merekrut Pengajar Muda yang berkualitas dan berdedikasi tinggi. Saya bahkan penasaran apakah para Pengajar Muda akan berhasil menunaikan misinya di pelosok negeri yang hampir seluruh nama daerahnya nggak diketahui oleh penduduk Pulau Jawa. Seperti saya dan kamu.
Itulah beberapa alasan kenapa saya beli buku yang berisikan kompilasi kisah para Pengajar Muda di pelosok negeri ini.
Dan, alhasil saya malu sendiri setelah baca buku ini. Ternyata, pesimisme dan sinisme itu mulai menular. Ternyata, benak saya sudah dijejali oleh mindset materialistis-kapitalistis. Padahal, nggak seharusnya saya berprasangka begitu.
Tell you what, susaaaah banget untuk nggak terharu baca buku ini. Terutama kalau mengingat poin penting yang disinggung oleh seluruh Pengajar Muda tentang:
- Banyaknya anak yang luar biasa cerdas dan berbakat macam-macam tapi nggak punya akses untuk berprestasi.
- Rata-rata orang tua di pedalaman belum sadar akan pentingnya pendidikan. Misalnya saja, tanpa merasa bersalah mereka sering menyuruh anaknya bolos untuk membantu panen.
- Bagi orang Pulau Jawa, bepergian ke Pulau Kalimantan atau Sulawesi mungkin hanya sebatas ‘sekian jam naik pesawat/feri’. Namun bagi orang dari pulau-pulau tersebut, Pulau Jawa terasa jauuuh di luar jangkauan. Apalagi Jakarta. Ibarat utopia.
- Masih banyak orang tua dan guru di luar sana yang mendidik anak kecil dengan kekerasan. Upacara nggak tertib, ditendang. Ngobrol di kelas, ditampar. Berontak, dipukul pakai rotan. Sebab, kekerasan dipandang sebagai cara paling efektif untuk membuat anak patuh. Astaga.
Klasik? Ya, memang. Namun nyata, bahkan masih relevan hingga hari ini.
My Fave Parts
Meskipun potret pemerataan pendidikan Indonesia masih jauh dari ideal, bukan berarti seluruh cerita di buku ini tentang kesedihan, lho. Ada banyak cerita lucu (seperti Firman BK yang disuruh menamai BAYI milik tetangganya yang baru lahir -hahaha), dan ada pula yang bikin trenyuh (seperti Sekar AN yang berhasil memboyong anak didiknya bertemu Pak Wapres Budiono).
Kisah yang paling menyentuh buat saya adalah cerita-cerita tentang betapa variatifnya tantangan dalam kegiatan mengajar. Tentang bagaimana si pengajar sudah menyiapkan yang terbaik namun masih ada kemungkinan disepelekan, bahkan dilecehkan oleh murid. Tentang seribu cara yang gagal belum berhasil untuk menciptakan suasana kondusif di kelas. Tentang bagaimana seorang pengajar harus pintar-pintar menyesuaikan tempo belajar-mengajar dengan kemampuan dan daya tangkap muridnya. Tentang ternyata seorang pengajar pun bisa merasa sakit hati, ketika muridnya nggak menghiraukan dia.
“Saya tahu, ada banyak kesalahan yang saya lakukan. Disebabkan saya yang kurang peka, saya yang kurang persiapan, saya yang kebingungan karena plinplan.
Ya, saya memang seorang guru, bukan malaikat yang bisa menyelamatkan hidup mereka seratus persen dari kesulitan. Dan, keseharian yang saya jalani adalah kehidupan seorang guru, bukan orang suci. Itu sebabnya saya belajar.”
–Nila PN, Pengajar Muda Tulang Bawang Barat
Kenapa itu yang paling menyentuh? Mungkin karena saya baca buku ini sambil mengawas para praktikan yang sedang review (semacam UAS di kelas praktika). Mungkin juga karena minggu ini adalah akhir masa jabatan jadi asdos yang nggak terasa sudah dijalani selama 3 semester. Mungkin karena lembaran testimonial dari para praktika yang walaupun hanya berisikan ucapan terima kasih dan sebaris doa, namun selalu sukses bikin air mata netes.
Walaupun tingkat kesulitan mengajar di kampus tentu nggak bisa dibandingkan dengan di pelosok daerah yang bahkan belum terjangkau PLN, I can simply relate those stories to mine. :’) * belum bisa move on dari rutinitas mengajar Senin-Jumat* *kok jadi curhat*
Intinya, “Indonesia Mengajar” is a must-have book. Buruan beli, gih!






