Posts tagged writings.

#VisitDPD - Day 1

Tanggal 16-18 Feb ini, saya dan 37 orang Top Finalists #LombaDPD (angkatan pertama) lainnya diundang ke Jakarta oleh DPD RI. Mau tahu apa aja yang terjadi? Monggo disimak.

Angkatan pertama adalah angkatan percobaan. Belum ada SOP Penyelenggaraan Acara, rundown bisa mendadak direvisi, sampai baru diberi tahu prosedur pemesanan tiket H-1, adalah hal yang lumayan lumrah terjadi pada pilot project manapun. *curhatan orang yang sering jadi bagian dari pilot project*

Termasuk di Lomba DPD ini. Agak was-was rasanya ketika H-2 belum diberi tahu gimana cara mesen tiket, apakah disediakan oleh panitia, atau kita beli sendiri lalu di-reimburse. Alhasil, berangkat hari Kamis jam 07:00, tapi saya baru mesen tiket travel hari Rabu jam 19:00. Untung saya tinggal di Bandung, yang bisnis travel Jakarta-Bandung laris manis sejak Tol Cipularang dibuka. Lah, kalau yang dari daerah lain bagaimana?

Untungnya, seluruh finalis bisa berangkat. Kecuali satu orang ibu yang batal berangkat karena anaknya sakit keras. If you read this @m1sh44, semoga anak Mbak cepat sembuh ya. Amin.

Singkat cerita, saya nyampe kepagian. Jadwal check in di Hotel Sultan jam 13:00, eh saya udah nyampe di pool Transline Plaza Semanggi jam 10:00. Akhirnya, 2 1/2 jam saya habisin window shopping sendirian di sono. Mana sendirian, mana kucel, mana banyak barang bawaan. -_-

(makan, makan sendiri~)

O ya, mall di Jakarta buka lebih siang (jam 11:00+) daripada di Bandung (jam 09:30+), ya. Sedetik pertama, yang kepikiran: orang Jakarta pemalas! Detik berikutnya: atau justru mereka terlalu sibuk di pagi hari jadi jarang yang ke mall? Berarti orang Bandung dong yang pemalas, hahahah.

Jam 12:30, saya memutuskan untuk berangkat. Masalahnya, naik apa? Lalu, petunjuk dari supir travel tadi pagi melintas di kepala.

Hotel Sultan mah deket, Neng! Tinggal nyebrang.

Di GMaps sih emang deket. Tapi saya ragu. Ternyata pas nanya ke satpam, “Setdah jauh beuuud you know jalan kaki ke Hotel Sultan tuh! Mana gerah gilak begonoh.” Tuh kan! Yaudah akhirnya saya naik taksi. *say good bye to IDR18,000*

Pas mau masuk ke hotel, security menatap saya curiga. Sambil mem-block jalan, dia nanya, “Ada keperluan apa ya Mbak?”

Ekspresinya itu lho, jauh dari kesan welcoming. Dipikir saya mau maling apa ya, “Saya diundang oleh DPD RI.”

“Oh, baik. Ke Lobby ASEAN, ya.”

Di lorong, ada meja panitia Lomba DPD. Thanks God, mereka jauh lebih ramah daripada si security tadi. Saya langsung disuruh check-in, dan dikasih goodie bag guede banget.

(foto milik @arryeka, si fotografer sejati. dicomot tanpa sepengetahuan ybs. :p beberapa suvenir yang gak ada di foto di atas: polo shirt, kalender, mouse pad, key holder)

Di sini, saya kenalan sama @trimuttt yaitu calon teman sekamar dan @EgaGenggong yang dari jarak 15 meter pun dapat dikenali mengenakan wedges keluaran @iwearUP. Nggak pake basa-basi saya nyeletuk, “Sepatu kamu Up, ya? Iih, sama.” Dasar cewek, kalau udah ngomongin begituan ya pasti nyambung. :p

Kirain, kami bisa boci (bobo ciang) dulu. Negatif. Instruksi Mas Iky, “Kalian naroh barang di kamar, makan siang, terus langsung kumpul di lobby, ya. Kita berangkat jam 14:00 ke Sidang Paripurna.” Waktu menunjukkan pukul 13:35.

Yang kami tafsirkan: naroh barang, ganti baju, dandan, makan siang, berangkat.

“Oke.”

(today’s lunch: chocolate mousse + sashimi)

Singkat cerita, sampailah kami di Komplek MPR/DPR/DPD-RI. Lalu, kami menunggu di Press Room sambil Pak @uddinsyiar (Kepala Pusat Data dan Informasi) mengabsen kami satu-persatu dan membagikan sertifikat finalis. Tak lupa, Pak Uddin selalu mengaku-aku setiap finalis cewek sebagai anaknya, dan memberi pesan sponsor, “Jangan lupa follow saya.” HAHAHA

Setelah semua terabsen, kami pun masuk ke Gedung Nusantara V di mana Sidang Paripurna berlangsung. Tapi karena sidang dimajukan jadi jam 09:00 pagi, kita cuma di dalam selama 20 menit, deh.

(di dalam Gedung Nusantara V)

(bersama si “adek”)

Pembicara terakhir adalah politisi Hanura, Pak Bambang Suroso. Yang saya tangkap hanya, “78% masyarakat menggantungkan harapan terhadap DPD,” dan “Perlu ada perubahan di dalam sistem ketatanegaraan kita.”

Oh ya, itu pertama kalinya juga saya tahu salam sambutan “Om swasti astu” dan salam penutup “Om santi santi santi om” yang digunakan di setiap jeda speech di DPD RI. Esoknya, saya baru tahu dari Pak Gede (guru SMA, orang Bali) apa arti kedua salam yang menggetarkan hati itu.

Om Swastiastu mean : Hope you welfare in the name of God.
Om Santi, Santi, Santi mean : Hope you always in peace in the name of God.

Sumber

Menurut Pak Gede, tiap ‘Santi’ memiliki arti yang berbeda. Santi yang pertama, damai di dunia. Yang kedua, damai di kehidupan nanti. Yang ketiga, damai selamanya. *mudah-mudahan gak salah ingat*

Woo, no wonder rasanya merinding tiap dengar dua salam ini.

Puas foto-foto sampai diusir secara halus, kami keluar. Foto-foto lagi, sampai Pak Irman Gusman (Ketua DPD RI) menghampiri kami, menyalami satu-persatu, dan membagikan buku beliau secara gratis, “Di Gramedia, harganya Rp185,000 lho, Dik. Lumayan.” Konon, nanti beliau mau mengadakan lomba resensi bukunya juga. Yang menang dapat hadiah, sekalian bukunya dipromosiin di blog masing-masing. Bisa aja nih si bapak. Beberapa saat kemudian, Bu Siti Nurbaya (Sekjen DPD RI) bergabung dan kita foto-foto bareng di depan air mancur.

Kerennya, beliau berdua dengan sabar meladeni kami, generasi muda yang narsis, untuk berfoto masing-masing, lho. Begitu nggak ada yang minta foto lagi, baru deh beliau berdua pamit pergi. Coba deh bayangin kalian jadi mereka, pimpinan lembaga legislatif negara. Sibuk, tapi harus melayani yang macam begini:

“Pak, boleh saya minta foto sama Bapak?”

Dijawab dengan ramah, “Boleh, boleh. Sini. Kamu dari daerah mana?”

*jepret-jepret*

Beberapa saat kemudian, “Saya juga ya, Pak.” Sambil nyengir memaksa.

Begitu terus sampai 38 kali. *tepuk tangan*

(muka kucel nggak masalah, yang penting poto bareng Pak Irman Gusman)

Oh ya, berbeda dengan DPR yang menetapkan dresscode jas dan dasi untuk Sidang Paripurna, DPD menetapkan dresscode batik. Makanya kita semua berbatik.

(para fotografer. pahlawan tanpa tanda jasa yang jarang sekali ikut terfoto)

(saya, meli, tri, ega. paling kiri dan paling kanan: duo wedges keluaran Up. lol.)


Puas foto-foto, kami pulang ke hotel. Saya dan si Tri (teman sekamar yang saya panggil “Adek”) memutuskan suit untuk menentukan siapa yang mandi duluan.

Habis mandi, lalu makan malam. Yang berlanjut sampai larut malam. Biasa, di mana ada acara makan bersama, pasti ada organ tunggal. Saling tunjuk buat menyumbangkan lagu (yang kata salah seorang finalis, ‘membuat lagu jadi sumbang’). Awalnya pop, lalu keroncong, lalu… dangdutan all night long.

(stella, bella, tri, saya. bella ini calon air controller lho. jarang banget kan yang cewek. *keprok tangan*)

Hidup Indonesia!

Because of:
“ANGGOTA DPD RI SEBAGAI MEDIATOR BENTURAN KEPENTINGAN DI DAERAH”
&
“EMPAT PILAR PEMBANGUNAN DAERAH YANG HARUS DIPERJUANGKAN (TANPA HENTI) OLEH ANGGOTA DPD RI”
Alhamdulillah, I’m one of Top 100 Finalists out of 1601 contestants in National Blogging Competition held by Regional Representative Council RI (DPD RI) at lomba.dpd.go.id.
FYI, the chance to win iPhone 4S is 1%. Wish me (much) luck, guys.

Quick update, 02-02-2012:
I MADE IT TO BE ONE OF TOP 20 FINALISTS! Alhamdulillah. :D

Because of:

ANGGOTA DPD RI SEBAGAI MEDIATOR BENTURAN KEPENTINGAN DI DAERAH

&

EMPAT PILAR PEMBANGUNAN DAERAH YANG HARUS DIPERJUANGKAN (TANPA HENTI) OLEH ANGGOTA DPD RI

Alhamdulillah, I’m one of Top 100 Finalists out of 1601 contestants in National Blogging Competition held by Regional Representative Council RI (DPD RI) at lomba.dpd.go.id.

FYI, the chance to win iPhone 4S is 1%. Wish me (much) luck, guys.

Quick update, 02-02-2012:

I MADE IT TO BE ONE OF TOP 20 FINALISTS! Alhamdulillah. :D

Empat Pilar Pembangunan Daerah Yang Harus Diperjuangkan (Tanpa Henti) Oleh Anggota DPD RI

Pembangunan daerah sejatinya dapat terlaksana hanya dengan empat pilar saja: pendidikan, infrastruktur, kewirausahaan, kesehatan. Mengapa empat pilar pun cukup untuk diutamakankan oleh DPD RI? Let’s see.


Bermula dari Pendidikan

Buat saya dan kamu yang tinggal di kota besar, mungkin pendidikan bukan barang mewah. Kita diwajibkan bersekolah oleh kedua orang tua kita. Minimal lulus SMA agar dapat bekerja. Kalau orang tua masih mampu membiayai, bolehlah lanjut ke D3, S1, atau bahkan S2.

Tidak demikian dengan mereka yang tinggal di desa-desa di pelosok kabupaten. Tak jarang, fungsi sekolah hanyalah sebatas untuk mengentaskan buta huruf dan angka. Bisa membaca, menulis, berhitung, dan mengaji, maka selesailah sudah kewajiban si anak untuk bersekolah.

Infrastruktur, Pembuluh Darah Pembangunan

Penyebab kesenjangan kualitas pendidikan antara kota dan desa sebenarnya sederhana: infrastruktur. Kalau jalan menuju sekolah bisa dilewati minimal oleh roda dua, ruangan kelas dan sarana belajar memadai, bangunan sekolah mulai bisa dibedakan dari kandang ternak, syukur-syukur ada satu komputer dengan akses internet untuk setiap sekolah… semuanya akan berubah.

Alhasil, para orang tua di pelosok daerah akan memandang penting pendidikan karena mereka melihat bukti nyata keseriusan pemerintah. Para guru yang mengajar di daerah akan lebih bersemangat memompa kompetensinya (apalagi kalau para guru honorer yang sudah mengabdikan diri selama belasan tahun ini diangkat jadi PNS). Mendapat dukungan moral sekaligus dari orang dewasa di lingkungan rumah dan sekolah, semangat belajar para siswa bahkan bisa melambung jauh lebih tinggi. Bukankah energi positif itu menular?

Pendidikan + Infrastruktur = Kewirausahaan

Lanjut ke kewirausahaan. Pernah dengar tentang industri rotan Cirebon yang dulu merupakan terbesar di dunia namun kini terpuruk? Sejak dikeluarkannya Permendag No. 12 Tahun 2005 tetang Ekspor Rotan Mentah, ratusan pabrik kerajinan rotan bangkrut dan puluhan ribu buruh di-PHK seketika.

Kasus pahit ini mengingatkan saya pada masyarakat di lokasi Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa pertengahan 2011 lalu di Desa Bantarkalong, Kec. Cipatujah, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat. Bukan karena di sana pernah ada kasus serupa, melainkan karena masyarakat petani buah di sana belum sadar akan nilai tambah ekonomis yang bisa mereka raih.

Desa Bantarkalong merupakan penghasil buah-buahan khas iklim tropis seperti rambutan, manggis, kelapa, dan durian. Namun karena kurangnya pengetahuan, buah-buahan itu hanya sebatas dikonsumsi sendiri atau dijual senilai sepertiga dari harga jual di pasar Kota Bandung. Kalau saja mereka tahu teknik mengolah kelapa menjadi biskuit kelapa/santan/nata de coco, bagaimana membuat pancake durian, atau bagaimana membuat manisan buah yang tahan lama, ditambah pengetahuan tentang manajemen pemasaran produk, pasti kondisi perekonomian di desa tersebut akan meningkat drastis.

Pilar keempat adalah kesehatan yang hanya akan dihiraukan oleh masyarakat terdidik, berkemampuan ekonomi cukup, dan bertempat tinggal di mana infrastruktur daerahnya dapat menunjang pelayanan kesehatan.

Sekian uneg-uneg yang muncul di kepala ketika saya berandai-andai menjadi anggota DPD RI. Meskipun politik kamar kedua di Indonesia mengatakan bahwa anggota DPD RI hanya berperan sebagai pembisik bagi anggota DPR dalam mengesahkan kebijakan… saya percaya kalau integritas akan bicara.

Niat baik, ditambah kerja keras, diiringi doa dari segenap rakyat Indonesia, akan menyukseskan pembangunan daerah-daerah dengan potensi ekonomi yang belum tergarap di seluruh pelosok negeri ini. Amin ya robbal’alamin.

***

Related posts:

  1. Tamparan Itu Bernama Mekarjaya
  2. Get Real
  3. Review: Indonesia Mengajar (Buku)
  4. Patut Malu

tag: @lida4ibu @dheaadyta @rachmizen @LianIrmia @fira_adiutama @syl_cmwc @nurulsasuke
#DuniaIbu
My second compilation book is out, yay! :D

Judul: Dunia Ibu
Penulis: 13 orang, semua dengan kisah nyata yang campur-aduk antara haru, unik, lucu, tentang ibu dan dunianya.
Tebal: 105 halaman
Harga: Rp43.000

Bisa dipesan di @nulisbuku.
Sedikit preview dari kata pengantar di buku ini:

Ketiga belas penulis antologi buku Dunia Ibu ini bercerita tentang apa yang telah mereka alami mengenai para ibu mereka atau peran mereka sebagai ibu.
Kisah nyata yang patut Anda baca untuk memperkaya pengetahuan bagaimana cara mendidik, mengasuh, dan membesarkan titipan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ada senyum, tawa, decak kagum, atau bahkan menitikan air mata ketika membaca setiap kisah dalam buku ini.
Dunia Ibu, takkan pernah habis cerita untuk mengungkapkan betapa mulianya peran ibu untuk membangun sebuah dunia.

Oya, buku ini spesial ditulis dalam rangka merayakan Hari Ibu. Seluruh royalti dari buku ini akan disumbangkan untuk mereka yang kurang beruntung.
Happy Mother’s day to all incredible moms in the world!

tag: @lida4ibu @dheaadyta @rachmizen @LianIrmia @fira_adiutama @syl_cmwc @nurulsasuke

#DuniaIbu

My second compilation book is out, yay! :D

Judul: Dunia Ibu

Penulis: 13 orang, semua dengan kisah nyata yang campur-aduk antara haru, unik, lucu, tentang ibu dan dunianya.

Tebal: 105 halaman

Harga: Rp43.000

Bisa dipesan di @nulisbuku.

Sedikit preview dari kata pengantar di buku ini:

Ketiga belas penulis antologi buku Dunia Ibu ini bercerita tentang apa yang telah mereka alami mengenai para ibu mereka atau peran mereka sebagai ibu.

Kisah nyata yang patut Anda baca untuk memperkaya pengetahuan bagaimana cara mendidik, mengasuh, dan membesarkan titipan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ada senyum, tawa, decak kagum, atau bahkan menitikan air mata ketika membaca setiap kisah dalam buku ini.

Dunia Ibu, takkan pernah habis cerita untuk mengungkapkan betapa mulianya peran ibu untuk membangun sebuah dunia.

Oya, buku ini spesial ditulis dalam rangka merayakan Hari Ibu. Seluruh royalti dari buku ini akan disumbangkan untuk mereka yang kurang beruntung.

Happy Mother’s day to all incredible moms in the world!

#writings  #Shinta  #mom  
tag: @nulisbuku
Reading my own short story published in a book is… weird. Yet amazing. :D
To order this book, visit: http://nulisbuku.com/books/view/dance-with-my-father-buku-1

tag: @nulisbuku

Reading my own short story published in a book is… weird. Yet amazing. :D

To order this book, visit: http://nulisbuku.com/books/view/dance-with-my-father-buku-1

#writings  

Tulisan Pertama Yang Dibukukan! :D

Makasih @NulisBuku. Makasih atas proyek #11projects11days-nya (baca di sini). Makasih buat Allah SWT dan orang-orang tercinta yang selalu mendukung tanpa lelah. *korban pageant contest* *mulai lebay*

Intinya, ini adalah cerpen pertama saya yang akan dibukukan. Beli bukunya, please! ;)

Judul Buku: Dance with My Father #1

Judul Cerpen: I Hate You But I Love You, Dad

Tema Lagu: “Dance with My Father” oleh Luther Vandross

p.s. Di proyek #11projects11days ini, saya ngirim dua cerpen di hari ke-7 (yang ini) dan hari ke-11. Mudah-mudahan yang satunya pun dimuat, amiin.

Lagi ngobrak-ngabrik kamar lalu nemu klipingan ini. Cerpen pertama yang dimuat di koran, tepatnya HU Pikiran Rakyat - Belia, bulan Januari 2007. Super labil, tapi ini yang menginspirasi saya buat terus nulis sampai sekarang. :”)
Eh, sekarang udah masuk tanggal 20 kah? Happy 20th birthday for me, then! *pertamaxxx* Hihihi.

Lagi ngobrak-ngabrik kamar lalu nemu klipingan ini. Cerpen pertama yang dimuat di koran, tepatnya HU Pikiran Rakyat - Belia, bulan Januari 2007. Super labil, tapi ini yang menginspirasi saya buat terus nulis sampai sekarang. :”)

Eh, sekarang udah masuk tanggal 20 kah? Happy 20th birthday for me, then!
*pertamaxxx*
Hihihi.

  October 20, 2011 at 12:07am